Melacak Relasi Islam Nusantara dan China

0
303

Jepara, nujateng.com – Universitas Islam Nahdlatul Ulama (Unisnu) Jepara mengadakan diskusi Islam Nusantara dengan tema Melacak Relasi Islam Nusantara dan Islam China dengan narasumber Ali Romdhoni, MA (Wakil Rais Syuriyyah PCINU Tiongkok) dan Muhammad Nashrul Haqqi (Dosen Unisnu Jepara) bertempat di Ruang Seminar Gedung Pasca Sarjana, Unisnu Jepara, Selasa (10/7).

Seperti diketahui, jejak Islam di Nusantara sendiri erat kaitannya dengan budaya China. Dalam sejarah penyebaran Islam di Indonesia, ada kontribusi China Muslim yang melawat ke negeri ini. Begitupun di Jepara. Beberapa ornamen di Masjid Istana Sultan Hadirin Mantingan juga banyak dijumpai ornamen – ornamen khas China.

Ali Romdhoni mengatakan bahwa ada banyak sekali masjid-masjid di Indonesia yang mempunyai ciri China. Mulai dari bentuk bangunannya, hingga ornamen-ornamen yang ada di dalam dan di luar masjid.

“Beberapa masjid di Indonesia, diantaranya di daerah Tuban dan Pati juga terdapat lingga dan yoni, sebuah simbol yang erat dengan China. Begitupun dengan motif ukiran yang menyerupai naga,” tutur Ali Romdhoni.

Berbicara tentang relasi Islam Nusantara dan Islam China tidak bisa lepas dari Laksamana Ceng Ho. Sebagai seorang China Islam, Ceng Ho mempunyai andil besar dalam menyebarkan agama Islam di nusantara. Bahkan, jejak-jejak Cheng Ho masih banyak ditemui sampai sekarang. Namanya juga diabadikan menjadi nama sebuah masjid di Tuban.

“Diskusi yang menarik. Semoga diskusi ini bisa menjadi semacam pemantik bagi Unisnu, dan mahasiswa Unisnu untuk kedepannya lebih giat dalam melakukan studi tentang jejak sejarah Islam di nusantara, khususnya di Jepara,” ujar staf UPT Pusat Kajian Aswaja Unisnu Jepara, Faizin.

Acara jagong Islam Nusantara ini adalah rangkaian kegiatan dari peringatan Hari Lahir ke 27 Unisnu Jepara. Pada perayaan harlah tahun ini, panitia mengangkat tema “Unisnu Jepara Sebagai Pesantren Peradaban Islam Nusantara”.

Tema tersebut diangkat untuk menunjukkan eksistensi Unisnu Jepara sebagai perguruan tinggi milik warga nahdliyyin yang niscaya menjadi garda terdepan dalam membumikan Islam Nusantara. [Dedi Merisa/009]