Khakim, Anggota Banser Muda yang Cinta Ulama’

0
944
foto: istimewa

Salatiga, nujateng.com – Menjadi seorang Anggota Barisan Ansor Serba Guna (BANSER) bagi Ahmad Nur Khakim merupakan satu kebanggaan tersendiri. Pasalnya, pemuda yang akrab disapa Kang Khakim ini jadi merasa lebih dekat dengan ulama’.

“Jujur, saya bangga bisa ndereake (turut melindungi) Kyai dan Ulama’ ketika ada pengajian atau acara besar. Saya juga bisa bersalaman dan semoga juga mendapat barokah ilmu dari beliau-beliau,” tutur Khakim saat diwawancara, Jumat (27/7).

Usianya yang masih terbilang cukup muda, yaitu 21 tahun sudah terlibat aktif menjaga NU. Motivasi yang ia pegang sesuai dengan dawuh Hadlratussyaikh Simbah Kyai Haji Hasyim Asy’ari.

“Motivasi saya sesuai ngendikan Mbah Hasyim Asy’ari, siapa yang mengurus NU maka akan dianggap santrinya. Saya bergabung dengan Banser semata-mata saya niatkan ingin takdzim pada Kyai dan Ulama’. Sama sekali bukan karena saya ingin mencari popularitas,” tegasnya dengan mantap.

Khakim, aktivis muda NU yang juga merupakan santri PPTI Al Falah Salatiga mengaku tidak merasa terganggu dengan segudang aktivitasnya. Selain aktif di Pesantren dan Banser, ia juga aktif sebagai mahasiswa Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI), IAIN Salatiga yang kini menempati semester tujuh.

Ia memprioritaskan hal-hal yang sekiranya mendesak yang harus dikerjakan terlebih dulu.

“Saya ambil yang lebih prioritas antara semua aktivitas saya. Saya kerjakan yang sekiranya lebih mendesak yang memang harus segera diselesaikan. Dan itu bisa disiasati secara otomatis (dengan sendirinya),” bebernya.

Awal Menjadi Anggota Banser
Seperti anggota banser pada umumnya, untuk bergabung menjadi banser harus melalui gerbang masuk yang dinamakan Diklat Banser. Waktu itu pada tahun 2017, ia mengikuti Pendidikan dan Latihan Dasar yang dilaksanakan di Kecamatan Sidomukti. Ini merupakan kali kedua ia bergabung setelah dulu sempat aktif di anggota banser Magelang (tempat tinggal) pada usia MTs.

“Waktu itu saya dengan teman pondok, Habib Alwi dan Syarif mengikuti Diklatsar di Kecandran, Sidomukti. Itu adalah langkah awal saya ikut mengawal NU di Salatiga. Sebelumnya saya pernah sekedar ikut kegiatan juga ngepam dengan teman Banser Magelang (daerah tempat tinggal saya) tapi karena saya hijrah ke Salatiga untuk mondok saya menghentikan aktivitas Banser saya,” ungkapnya.

Baru setelah semester ke-5, ia diajak ikut bergabung di Banser Kota Salatiga. “Setelah di pondok, ngaji dan sekolah di SMK saya hanya fokus di keduanya. Hingga kemudian saya lulus SMK Otomotif lalu melanjutkan studi S1 jurusan Tarbiyah IAIN Salatiga,” katanya

Dia mengatakan untukl fokus ngaji dan kuliah saja, kukira memang kurang mendapat pengalaman. Hingga pada semester 5 saya diajak mengikuti Diklatama Banser pada tahun 2017. Itulah langkah awal saya masuk anggota Banser sampai sekarang dan semoga selamanya,” tutur pemuda yang mengidolakan Gus Mus sebagai tokoh ulama.

Pada akhir wawancara, ia berharap untuk seluruh kalangan pemuda NU semoga selalu dapat menjaga dan saling menghormati antar sesama umat di lingkungan sekitar. Jangan sampai ada tindakan bodoh yang mengatasnamakan agama, apalagi NU. Generasi muda NU harus bisa membuktikan jati diri NU yang sebenarnya yaitu Cinta tanah air dan toleran terhadap keyakinan apapun. [EV/009]