Kemlithi dalam Koridor Prie GS

0
393

Semarang, nujateng.com – Majlis Dzikir Rijalul Ansor bersama Komunitas Lincak Jebol (KLJ) mengadakan kajian rutin. Kali ini menghadirkan Prie GS sebagai narasumber dan Katib Syuriah PCNU Demak, Kiai Muhammad Ajib dan dipandu oleh Abuya Monib el Shirozy bertempat di Masjid Al-Falah Genuk, Rabu (18/7).

Meneruskan kajian pada waktu Harlah GP Ansor ke-84 tentang ekonomi kreatif untuk kemaslahatan umat.

Kiai Muhammad Ajib mencotohkan bahwa jika ingin kaya tanpa modal, maka jadilah pembicara. Berbicara di depan umum juga dapat dikategorikan sebagai sebuah keterampilan. Bahkan dalam pandangan beliau kekuatan berbicara dapat mengubah suatu peradaban.

“Soekarno dengan kemerdekaan Indonesia, Hitler dengan Nazi Jerman, dan Bung Tomo dengan revolusi arek-arek Surabaya,” sebutnya.

Dia menjelaskan seseorang yang ingin menjadi pembicara harus punya ide atau gagasan yang banyak. Oleh sebab itu perbanyak referensi dengan membaca buku dan membaca alam menjadi menu wajib bagi mereka yang ingin punya banyak gagasan.

Pak Prie GS mengatakan bahwa menjadi kaya harus punya rasa kemlinthi (percaya diri yang berlebihan). Apa yang disebut kemlinthi itu dapat menjadi suatu benteng pertahanan diri dari rasa rendah diri terhadap suatu keadaan inferiority complex.

“Ini adalah kondisi psikologis (tingkat alam bawah sadar) ketika suatu pihak merasa lemah atau lebih rendah dibanding pihak lain. Atau ketika ia merasa tidak mencukupi suatu standar dalam sebuah sistem,” jelasnya.

Prie GS menyebutkan kemlithi inilah yang diterapkan pahlawan nasional KH. Agus Salim ketika berhadapan dengan penjajah. Dengan tubuh yang kecil beliau tetap berani membusungkan dada dengan rokok di tangannya ketika beliau berhadapan dengan penjajah. Gestur tubuh inilah yang membuat orang menjadi sangat percaya diri.

Lebih lanjut, rasa kemlinthi tepat diterapkan ketika menghadapi sistem kapitalis yang sudah mengakar dalam suatu perekonomian. Kepercayaan diri yang berlebih inilah yang akan membuat kita berfikir bahwa kita akam mampu melawan kapitalis.

“Dengan kekuatan market atau pasar yang jelas yakni warga Nahdliyin. Ansor dapat memberikan edukasi terlebih dahulu mengenai kekuatan ekonomi umat melalui prinsip idiologi,” tambahnya.

Dia mengutarakan warga Nahdliyin harus diberikan pemahaman tentang prinsip idiologi ekonomi. Jika prinsip idiologi ini digarap dengan bagus dengan sasaran market yang sudah jelas yakni warga Nahdliyin, maka jaringan ini akan membentuk suatu lingkaran kekuatan ekonomi.

“Warga Nahdliyin harus diberi kesadaran bahwa sudah saatnya dengan kekuatan massa yang besar kita perkuat ekonomi dengan saling memberikan kemanfaatan antara warga Nahdliyin dengan program Ansor nantinya,” bebernya.

Menutup diskusi yang banyak diselingi dengan humor cerdas dan berkelas, Abuya Monib el Shirozy memberikan wejangan bahwa 2 hal yang membuat anda sukses adalah: Jujur pada diri sendiri, dan tulus pada orang lain. Siapa yang berpikir besar, maka ia besar. [Ansor/009]