Generasi Muda NU Wajib Tolak Tegas Paham Radikalisme

0
785
Kapolres Temanggung AKBP Wiyono Eko Prasetyo, S.I.K, M.IK memberikan materi dengan bahayanya paham radikalisme di Masjid Ash – Shohabat Asrama Polisi

Temanggung, nujateng.com – Kapolres Temanggung AKBP Wiyono Eko Prasetyo, S.I.K, M.IK mengajak generasi muda khususnya pemuda NU untuk menolak tegas dan melawan radikalisme.

Hal itu ia ungkapkan saat memberi materi terhadap peserta kegiatan sarasehan dan Buka Bersama dengan tema “Peran Pemuda dalam Menangkal Faham Radikalisme” yang diadakan oleh Polres Temanggung bekerjasama dengan LPM Grip STAINU Temanggung di Masjid Ash – Shohabat Asrama Polisi Gemoh Temanggung, Rabu (6/6).

Kapolres Temanggung, Wiyono Eko Prasetyo, menegaskan, Islam bukanlah agama teror, melainkan agama rahmat dan kasih sayang. Namun, stigma Islam itu teror lahir karena ulah segelintir orang.

“Saya ambil contoh peristiwa di Surabaya beberapa waktu yang lalu,” jelasnya didepan puluhan aktivis dari mahasiswa STAINU Temanggung, IPNU-IPPNU, PMII, dan Racana serta pelajar di Temanggung.

Lebih lanjut, itu merupakan paham radikalisme yang akan sangat meresahkan warga sekitar bahkan sampai ke semua penjuru.

“Karena yang melakukan aksi radikal tersebut berbusana muslim, berakibat terhadap orang yang non muslim beranggapan bahwa muslim itu teroris,” tegas Wiyono Eko Prasetyo.

Dia mengatakan ini sangat disayangkan, karena agama Islam itu rahmatan lil alamin. “Ini menjadi sebuah bumerang terhadap Islam karena di anggap teroris,” lanjutnya.

Dia menambahkan sebab ini semua karena paham yang digunakan adalah takfiri. Yaitu mengkafirkan yang berada di luar paham atau aliran mereka. Ketika mereka tidak mengikuti imamnya maka orang lain dianggap kafir,” paparnya.

Dijelaskannya, mereka didoktrin hanya untuk memikirkan akhirat tidak untuk memikirkan dunia.

“Satu alasan tersebut membuat berbagai jalan atau cara muncul untuk mencapai ridho Allah dengan cara berjihad. Jihadnya dengan melakukan bom bunuh diri sebagai syaratnya membunuh orang kafir menurut pemahaman mereka. Tidak mau bunuh diri sebelum orang di luar mereka mati,” tambahnya.

Disambungnya, begitu miris sekali dengan pemahaman seperti itu. Padahal, kata dia, hakikat manusia adalah untuk saling tolong menolong bukan untuk saling membunuh. Ini merupakan pemahaman yang perlu dibasmi agar negara kita ini aman dari paham radikal.

Dia memberikan contoh, kemarin santri dari Gus Furqon Prapak Kranggan selaku Ketua PC NU Temanggung yang santrinya ingin pulang ke Kalimantan.

Dikatakannya, sesampainya di Simpang Lima Kota Semarang santri tersebut mondar mandir dengan membawa bekal yang lumayan banyak. Karena sedang viral isu tersebut anggota kepolisian dengan cepat curiga dan langsung mengamankan santri tersebut dan menyuruh untuk membuka bekalnya. Namun yang didapatkan hanyalah barang-barang keseharian santri tersebut.

“Sangat jelas sekali imbasnya, bukan hanya kepada mereka yang meninggal saja. Namun santri yang tampilannya agamis menjadi sasaran kecurigaan para anggota sebagai sikap waspada terhadap teroris,” tegas dia.

Terakhir, dia berpesan kepada seluruh peserta sarasehan yang terdiri dari kalangan muda, baik dari tingkat pelajar, mahasiswa serta umum agar jangan mudah percaya dengan paham radikalisme dan terorisme.

“Jadikan negara kita aman dari bahaya untuk mewujudkan kedamaian di lingkungan masyarakat,” tukasnya. [Wahyu/009]