Ayo Mengaji

0
859
basyid
Lek Basyid Tralala

Oleh: Lek Basyid Tralala
(Pengurus Harian   MWC NU Kaliwungu Selatan)

Ramadlan  merupakan bulan teristimewa diantara dua belas bulan dalam satu tahun. Di  bulan Ramadlan ini,  semua amalan ibadah yang dilakukan oleh umat manusia dilipatgandakan pahalanya oleh Allah SWT. Sholat taraweh, tadarus Al Quran, sodaqoh, dan majlis taqlim / majelis ilmu merupakan amalan yang ramai dilakukan oleh kaum muslimin di bulan Ramadlan. Motivasinya agar ibadah puasa di bulan Ramadlan  tahun ini dapat menjadi ibadah terbaik dalam hidupnya.

Majelis ilmu/ majelis taqlim pada bulan puasa banyak digelar diberbagai musholla, masjid, atau pondok pesantren. Terlebih lagi di daerah yang berbasis santri seperti Kaliwungu — Kendal. Secara umum majelis ilmu terbagi menjadi dua yakni majlis yang ikuti oleh para santri ( nganji bandongan ) dan para warga / penduduk setempat. Bila ngaji bandonngan, para penikmatnya adalah santri kalong, seperti di pondok APIK Kauman, Al Fadlu Jagalan, ARIS Saribaru, Masjid Al Muttaqin Kaliwungu, atau tempat – tempat lainnya.

Sedangankan untuk majlis ilmu yang dihadiri oleh warga banyak digelar di musholla-musholla kampung. Semua itu dilakukan secara mandiri oleh pengurus musholla dengan cara mendatangkan  para ustazd/kiai dari lingkungan sekitar. Materi pengajiannya pun menyesuaikan kebutuhan  warga, seperti tafsir Al Quran, Bulughur Marom, fiqih, atau fasholatan. Namun, sebelum pengajian di mulai terlebih dahulu sima’an Al Quran bil ghoib 30 juz.

Tradisi mengaji pada dasarnya representasi tholabul ilmi yang merupakan satu keharusan bagi orang Islam laki-laki atau perempuan.  Hanya saja pada bulan Ramadlan  tradisi ngaji nguping ( jiping ) banyak dijumpai berbagai tempat dan waktu pelaksanaannya bervariasi, ada yang berlangsung setelah sholat subuh ( kuliah subuh ) hingga pukul 06.30 WIB, tiga puluh menit sebelum berbuka puasa, atau di saat jeda sholat teraweh. Bahkan ada pula jiping yang berlangsung setelah sholat dhuhur yakni selama 30 menit.

Meskipun  ngaji kuping ( jiping ) berlangsung satu arah dan terkesan monoton ternyata juga tidak mengurangi semangat belajar para santri atau jamaah. Buktinya  para jamaah tetap istiqomah datang dan menyimaknya dari awal sampai akhir setiap proses pembelajaran.  Kekuatan jiping terpusat pada figure sentral yakni sang kiai atau ustadz. Keluasan pengetahuan dalam membedah permasalan didukung kemampuan retorika sang kiai menarik  menjadikan suasana mengaji menjadi kian asyik.

Jiping di Luar Ramadlan
Semangat ngaji kuping ( jiping ) di tengah masyarakat tidak akan berhenti. Di berbagai tempat, yang nota bene kawasan santri ngaji kuping masih bisa dilihat  setiap harinya, seperti di Kudus, Pekalongan, atau Kaliwungu—Kendal. Ngaji Kuping bukan sekedar tranformasi ilmu keagamaan tapi juga menjadi ajang berkumpul dengan sang kiai atau orang alim. Ada ketenangan hati  yang didapat manakala berkumpul dan mendapat wejangan dari orang alim.

Di kecamatan Kaliwungu — Kendal kegiatan ngaji nguping dapat dijumpai setiap hari dengan waktu dan tempatnya pun bervariasi. Pada hari Sabtu sampai Kamis di Masjid Al Muttaqin Kaliwungu dibuka pengajian tafsir Alquran  Al Ibriz karya KH Bisri Mustofa yang diampu oleh KH Nidzomudin, waktunya dari 05.30-07.00 WIB. Untuk hari Selasa dan Sabtu di Majelis Ta’lim Bani Umar Al Karim Kp Petekan Krajankulon jiping yang diasuh KH Muhibbudin dari pukul 08.00-10.00 WIB. Di rumah KH Sholahudin Khumaedulloh  jiping berlangsung ba’da sholat magrib sampai sholat isya. Jamaahnya meliputi warga Kaliwungu dan sekitarnya dengan materi pengajian menitikberatkan pada fiqih.

Untuk ustad Lukman Hakim kp Kauman desa Krajan kulon,  jiping  yang berlangsung tiap malam  hari yakni dari  pukul 20.00-22.00 WIB. Padepokan Hariamu Putih juga menyelenggarakan  jiping dengan  bahasan  tafsir Alquran Al Ibriz karya KH Bisri Mustofa pada Jumat sore dan Ihya’ juz 3 atau Al Hikam pada hari Minggu pukul 08.00 s.d 11.30 WIB yang diampu oleh KH. Muhibbudin Alkhafizd. Di tempat – tempat lain di Kaliwungu  yang membuka jiping seperti di rumah Ustazd Ali pada Sabtu Malam materi Dorotun Nasikhin, masjid desa Kuwayuhan —  Nolokerto oleh KH. Dimyati Zaini ( Bulughul Marom ), musholla kp. Kepatihan oleh KH. Muhajirin Al Jufri, musholla kp. Citran –Krajankulon oleh Ustazd Kang Toha, musholla kp. Pesantren dan lain-lain . Khusus untuk para ibu jiping berlangsung pada  hari Selasa Sore di rumah KH Zuhri Iksan (Alm) yakni sebelah barat masjid besar Al Muttaqien Kaliwungu.

Ngaji sambil ngopi
Ada yang menarik dari  semangat jiping selain figure sang kiai  adalah sausana mengaji. Untuk menambah suasana kekeluargaan mengaji sang kiai  selaku tuan rumah terkadang menyediakan minuman kopi dan jajan seadanya. Sebelum pengajian di mulai, minuman dan jajan keluar disuguhkan untuk para jamaah lalu sejurus kemudian pengajian pun di mulai. Sang kiai mulai menjelaskan materi pengajian, para santri menyimak sambil menikmati hangatnya minum kopi. Tiga puluh menit kemudian terkadang dibuka kesempatan bertanya mengenai masalah yang dibicarakan atau masalah yang lain yang memiliki relevansinya dengan amalan ibadah sehari – hari.

Di sela – sela mengaji sang kiai sering menyisipkan  pesan-pesan moral kepada jamaahnya, diantaranya mengaji itu  bukan mengejar pintar melainkan mengejar benar. Mengejar benar maksudnya  adalah semua amalan ibadah mahdloh dan ghoiru mahdloh yang dilakukan diharapkan sesuai dengan tuntunan yang disyariatkan atau dicontohkan nabi atau para sahabat belaiu.

Lalu mengapa bukan pinter? Sebab jika sudah merasa pinter biasanya enggan untuk mengaji dan  karena kata pak  kiai negeri ini  sudah banyak orang di negeri ini pinter, namun tidak sedikit pula yang keminter ( baca : merasa pintar ) akibat banyak pernyataan yang disampaikan di dunia maya  atau di media lainnya membingungkan umat.

Selain itu, pernyataan tersebut pada dasarnya autokritik untuk sesama manusia, dengan harapan agar manusia memahami posisi dan kemampuannya. Jika memang bukan keahlian dibidangnya jangan coba – coba merambahnya nanti yang terjadi beda kepentingan. Seorang politikus diharapkan bergelut di bidang politik. Orang ahli perdagangan diharapkan bergelut dengan dunia dagang. Yang rusak apabila ahli dagang terjun ke dunia politik akibat akan terjadi politik transaksional.

Yang mengkhawatirkan lagi jika merasa dirinya brahmana, tetapi berambisi untuk menjadi satria. Ditambah semakin kisruh lagi, jika para satria di negeri ini bermental waisya atau sudra. Sehingga semakin tidak jelas arah kehidupan berbangsa dan bernegara. Ketika sudah seperti ini mengajilah agar hidup ini menjadi tertata.

Konsep jiping adalah 5 D yakni datang, duduk, dengar, diingat (materinya-Red), dan dipraktikkan. Yang dimaksud datang adalah menghadiri pengajian dengan penuh kesadaran dan kerendahan hati yang landasi semangat tholabul ilmi dan kekeluargaan. Setelah itu carilah tempat duduk sesuka hati. Tidak ada tempat permanen dalam mengaji. Siapa yang datang paling awal, maka banyak peluang mencari tempat yang paling asyik dan rileks.

Keberhasilan mengaji kuping adalah dengar ( baca : mendengarkan ) penjelasan / uraian dari kiai atau ustad. Tak sedikit orang yang mengaji sambil  mengantuk namun demikian mereka tetap istiqomah. Ini terlihat manakala  dibuka kesempatan bertanya para jamaah berebut mengajukan pertanyaan. Tak jarang persoalan yang ditanyakan adalah masalah yang aktual dan  bomming saat itu. Misalnya mengenai hukumnya bagi-bagi uang pada saat pilkada, belajar ngaji dengan goggle, sumbangan yang tidak tahu tasarubnya, LGBT  dan sebagainya.

Keunikan mengaji kuping adalah jamaah tidak diharuskan  membawa buku catatan atau memiliki kitab, mereka cukup mengingat-ingat apa yang sudah disampaikan.
Hal ini dapat dimaklumi mengingat  jamaah ngaji nguping sangat hiterogen latar belakang pendidikannya, ada yang dari pondok pesantren,  tamatan SMP/ SMA atau mungkin  tidak bersekolah sama sekali.

Untuk soal mempraktikkan amalan –amalan ibadah, sang kiai atau ustad tidak pernah memaksa kepada jamaahnya. Lakukanlah mana yang dianggap paling mampu, dan lakukanlah secara rutin setiap hari. Apabila sudah terbiasa tambahlah satu amalah ibadah lagi dan seterusnya.

Mengaji merupakan satu anugrah yang luar biasa untuk saat ini. Mengingat kesibukan orang sekarang sangat luar biasa. Apalagi  dapat meluangkan waktu untuk hadir dalam majelis ilmu.  Selain itu, dengan mengaji dapat sebagai cek and balancing terhadap persoalan yang ditemukan di goggle atau berita – berita yang berkembang di dunia.