Seri Ngaji Ushul Fiqh 13: الاستحسان

0
1202
Dr. Jamal Ma’mur Asmani, M.Ag

Oleh: Jamal Ma’mur Asmani
(Dosen IPMAFA Pati, Pengurus RMINU Jateng)

MA. Sahal Mahfudh dalam طريقة الحصول علي غاية الوصول menjelaskan, الاستحسان adalah meninggalkan qiyas dan mengambil pendapat yang lebih peduli kepada manusia (ترك القياس والاخذ بما هو ارفق للناس).الاستحسان ini menurut pendapat terpilih tidak menjadi dalil syara’ sehingga tidak bisa dijadikan hujjah. Namun ada pendapat yang mengatakan, الاستحسان menjadi dalil sesuai firman Allah Ta’ala “واتبعوا احسن ما انزل اليكم . dan ikutilah sesuatu yang paling baik yang diturunkan kepada kamu semua. Istihsan menurut satu pendapat adalah dalil yang jelas ada dalam pemikiran mujtahid, namun sulit diungkapkan. Dalil ini jika terbukti, maka dianggap benar, dan jika tidak terbukti maka ditolak.

Pendapat lain mengatakan, istihsan adalah pindah dari qiyas kepada qiyas yang lebih kuat. Pendapat ini disepakati, tidak ada perbedaan. Contohnya adalah  buah anggur yang haram ditukar dengan anggur kering, baik yang ada di pucuk pepohonan atau tidak. Hal ini disamakan dengan kurma basah. Lalu Syari’ (Pemegang Otoritas Syariat – Allah dan RasulNya) memberikan keringanan kebolehan menukar kurma basah yang ada di pucuk pohon kurma dengan kurma kering. Dalam hal ini, qiyas ditinggalkan karena pijakan kedua lebih kuat.

Pendapat lain menyatakan, istihsan adalah pindah dari dalil ke kebiasaan yang mengandung kemaslahatan, seperti masuk kamar mandi tanpa menentukan ongkos, waktu, dan kadar air, atau seperti minum air di wadah air (menurut dalil, menentukan manfaat dan ongkos dalam akad sewa dan menentukan produk yang dijual dan harta dalam akad jual beli hukumnya wajib). Pendapat ini ditolak. Artinya, jika kebiasaan yang ada itu benar adanya karena sudah berlaku pada masa Nabi atau setelahnya tanpa ada ingkar dari mereka dan juga tidak ada ingkar dari para imam madzhab, maka pasti ada dalil yang membenarkannya, baik dari sunnah atau ijma’. Jika tidak ada dalil, maka kebiasaan tersebut ditolak.

Jika ada orang menggunakan istihsan yang diperselisihkan para ulama, maka dia telah membuat syariat sendiri yang dilarang karena termasuk dosa besar atau tanda kafir (فان تحقق استحسان مختلف فيه فمن قال به فقد شرع ). Istihsan Imam Syafii dalam masalah sumpah dengan mushaf, diskon angsuran dalam akad kitabah, dan 30 dirham dalam mut’ah (pemberian kepada perempuan yang dicerai sebagai hadiah dari suami) tidak termasuk istihsan yang diperselisihkan para ulama. Imam Syafii dalam mengemukakan pendapat ini didukung dalil-dalil fiqh yang jelas. Meskipun demikian, tidak diingkari bahwa istihsan juga digunakan untuk hukum yang ditetapkan dengan dalil.

MA. Sahal Mahfudh dalam البيان الملمع عن الفاظ اللمع menjelaskan, menurut Imam Abu Hanifah, istihsan adalah memberikan hukum dengan sesuatu yang dianggap baik oleh mujtahid dengan akalnya tanpa sandaran dalil (الحكم بما يستحسنه المجتهد بعقله من غير دليل). Istihsan yang benar harus berdasarkan dalil, baik berupa ijma’, nash, qiyas, dan istidlal. Jika istihsan tidak berdasarkan dalil, tapi murni kehendak sendiri, maka istihsan ini jelas rusaknya karena ia memberikan status hukum berdasarkan keinginan nafsu dan selera syahwat. Sedangkan hukum Islam diambil dari dalil syara’, bukan dari kehendak pribadi.

Imam Tajuddin Abdul Wahhab As-Subki dalam جمع الجوامع menjelaskan, Imam Syafii berkata: siapa yang membuat hukum dengan dasar istihsan, maka telah membuat syariat dari dirinya sendiri (من استحسن فقد شرع). Hal ini jelas dilarang karena hukum harus berdasarkan dalil.

Klasifikasi Istihsan

Abdul Wahhab Khallaf dalam علم اصول الفقه menjelaskan dua macam istihsan. Pertama, mengunggulkan qiyas yang samar atas qiyas yang jelas dengan dalil (ترجيح قياس خفي علي قياس جلي بدليل). Kedua, mengecualikan hukum sebagian kasus dari hukum keseluruhan dengan dalil (استثناء جزئية من حكم كلي بدليل).

Contoh istihsan kategori pertama:

Pertama
Ahli fiqh madzhab Hanafi mencontohkan: jika ada orang mewakafkan tanah pertanian, maka masuk di dalamnya hak irigasi, hak minum (nyorot dalam bahasa Jawa), dan hak lewat dalam wakaf dengan jalan mengikuti (تبعا) meskipun tidak disebutkan karena dianggap baik (استحسان). Sedangkan menurut qiyas, hak irigasi, hak minum, dan hak lewat tidak bisa masuk kecuali dengan ucapan yang jelas (nash), seperti jual beli.

Metode istihsan (وجه الاستحسان) adalah: tujuan wakaf adalah memanfaatkan sesuatu yang diwakafkan. Kemanfaatan tanah pertanian tidak bisa dilakukan kecuali dengan irigasi, jalan, dan minum, maka ketiga hal ini masuk dalam wakaf meskipun tidak disebutkan karena tujuan wakaf tidak bisa dilakukan tanpa ketiganya, seperti akad sewa (اجارة).

Qiyas yang tampak: menyamakan wakaf dengan jual beli karena keduanya sama-sama menghilangkan kepemilikan dari pemiliknya.

Sedangkan qiyas yang samar: menyamakan wakaf dengan sewa karena sama-sama bertujuan memanfaatkan. Sebagaimana dalam sewa tanah yang memasukkan unsur irigasi, minum, dan jalan, meskipun tidak disebutkan, maka, dalam wakaf tanah, ketiganya juga masuk meskipun tidak disebut dalam transaksi (shighat).

Kedua
Ahli fiqh madzhab Hanafi menjelaskan, jika penjual dan pembeli berbeda pendapat dalam harga barang sebelum menerima barang, kemudian penjual mengaku bahwa harga barang seratus, sedangkan pembeli mengaku harganya sembilan puluh, maka keduanya bersumpah karena dianggap baik (استحسان).

Metode istihsan (وجه الاستحسان) adalah: penjual mengaku dengan jelas minta tambahan dan mengingkari hak pembeli untuk menyerahkan barang yang dibeli setelah menyerahkan sembilan puluh. Sedangkan pembeli mengingkari tambahan yang diminta penjual dan menuntut penyerahan barang setelah membayar sembilan puluh. Masing-masing mengaku dari satu sisi dan mengingkari dari sisi lain, maka keduanya harus bersumpah.

Qiyas yang tampak: menyamakan kasus ini dengan kasus lain yang menggunakan kaidah: menyerahkan bukti bagi yang mengaku dan bersumpah bagi yang mengingkari (البينة علي من ادعي واليمين علي من انكر).

Qiyas yang samar: menyamakan kasus ini dengan kasus dua orang yang saling mengaku. Masing-masing keduanya dianggap mengaku dan mengingkari, maka solusinya keduanya bersumpah.

Ketiga
Paruh burung buas, seperti burung garuda dan gagak yang tajam dan bisa menyakiti adalah suci dengan metode istihsan dan najis dengan metode qiyas.

Metode qiyas:  paruh hewan yang dagingnya haram dimakan mengikuti hukum dagingnya, yaitu najis.

Metode istihsan: paruh hewan, meskipun dagingnya haram, tapi air liurnya yang keluar dari dagingnya tidak bercampur dengan paruhnya, karena ia minum dengan paruhnya, yaitu tulang yang besar. Sedangkan hewan buas seperti macan itu minum dengan mulutnya yang bercampur dengan air liurnya, makanya paruhnya najis.

Contoh istihsan kategori kedua:

Pertama
Pemegang otoritas syariat (Syari’) melarang menjual sesuatu yang tidak ada dan melakukan transaksi kepada sesuatu yang tidak ada. Namun, Syari’ dengan metode istihsan memberikan keringanan dalam akad salm, sewa, muzara’ah, musaqah, dan istishna’ (memborong proyek), meskipun sesuatu yang menjadi obyek akad tidak ada. Metode istihsan diidasarkan pada kebutuhan manusia dan saling mengenal satu dengan yang lain (وجه الاستحسان حاجة الناس وتعارفهم).

Contoh lain adalah orang yang dipercaya (امين) diminta ganti ketika ia meninggalnya dalam kondisi tidak tahu karena ketidaktahuan adalah salah satu macam dari melewati batas. Dalam konteks ini, dengan  metode istihsan dikecualikan kasus: kematian bapak atau kakek atau orang yang menerima wasiat dengan alasan tidak tahu. Metode istihsan adalah: bapak, kakek, dan orang yang menerima wasiat memberikan nafkah kepada anak kecil dan menggunakan harta yang dibutuhkan untuk nafkah tersebut. Maka, mungkin ketidaktahuannya karena dia telah menggunakan harta untuk kebutuhan nafkah tersebut.

Contoh lain adalah ulama ahli fikih menjelaskan, orang yang dipercaya tidak diminta ganti kecuali karena melewati batas atau melakukan kesalahan dalam menjaga. Ulama mengecualikan dengan metode istihsan pada kasus pekerja secara berkelompok. Dalam kasus ini, pekerja tidak diminta ganti kecuali ketika rusaknya sesuatu yang ada di sampingnya menggunakan kekuatan yang memaksa. Metode istihsannya adalah kepercayaan yang diberikan orang yang menyewa.

Contoh lain adalah ulama menjelaskan, orang yang dilarang menggunakan harta karena bodoh tidak sah amal kebajikannya. Namun, dengan jalan istihsan, dikecualikan jika ia mewakafkan dirinya sendiri sepanjang ia masih hidup. Metode istihsannya adalah ketika ia mewakafkan dirinya maka itu secara tidak langsung menyelamatkan pekarangannya dari kesia-siaan. Ini sesuai dengan tujuan larangan menggunakan harta padanya.

Semua contoh di atas adalah masalah parsial yang dikecualikan dari hukum keseluruhan dengan dalil. Inilah yang dinamakan istihsan secara terminologis.

Oleh sebab itu, Imam Syathibi dalam kitab Al-Muwafaqat berkata:

“من استحسن لم يرجع الي مجرد ذوقه وتشهيه وانما رجع الي ما علم من قصد الشارع في الجملة في امثال تلك الاشياء المعروضة كالمسائل التي يقتضي فيها القياس امرا الا ان ذلك الامر يوْدي الي تفويت مصلحة من جهة او جلب مفسدة كذلك”

Orang yang menggunakan istihsan tidak hanya menggunakan rasa dan kesenangannya saja, tapi harus kembali kepada tujuan Pembuat Syariat secara global dalam masalah-masalah yang dikaji, seperti masalah yang di dalamnya menuntut perintah qiyas, namun perintah qiyas tersebut bisa menyebabkan hilangnya kemaslahatan dari satu sisi atau mendatangkan kerusakan di sisi yang lain.

Telaah:
Ulama sepakat bahwa istihsan harus dengan dalil, tidak karena keinginan nafsu dan syahwat. Kekhawatiran Imam Syafii tidak lain ketika orang membuat keputusan hukum dengan jalan istihsan tanpa didukung dalil.

Dalam salah satu perjalanan, saya pernah diceritai seorang tokoh yang diwasiati ayah mertuanya untuk menjadi pengasuh utama pondok pesantren. Namun, wasiat mertuanya tersebut tidak disampaikan kepada saudara-saudaranya karena menurutnya jika wasiat tersebut disampaikan dan dilaksanakan akan menyebabkan perpecahan internal yang berakibat kontraproduktif bagi eksistensi pesantren, lembaga pendidikan formal yang ada di naungan pesantren, dan masyarakat luas.

Dalam konteks ini, tokoh tersebut mengambil langkah utama: yaitu menghindari kerusakan (perpecahan internal) dan mengesampingkan wasiat mertua. Meskipun demikian, tokoh tersebut menyadari bahwa tujuan utama wasiat mertuanya adalah mengembangkan pondok pesantren dengan melihat kapabilitasnya. Meskipun ia tidak menjadi pengasuh utama, ia tetap bisa mengajar dan mengembangkan pesantren dengan tetap menjaga persatuan, persaudaraan, dan kebersamaan. Apakah ini termasuk istihsan ?