Seri Ngaji Ushul Fiqh 12:القياس

0
492
Dr. Jamal Ma’mur Asmani, M.Ag

Oleh: Jamal Ma’mur Asmani
(Dosen IPMAFA Pati, Pengurus RMINU Jateng)

MA. Sahal Mahfudh dalam البيان الملمع عن الفاظ اللمع menjelaskan, dalam qiyas, cabang harus dikembangkan kepada asal dengan sarana illat yang mengumpulkan keduanya. Illat yang mengumpulkan keduanya ada dua macam. Pertama, dijelaskan secara tekstual oleh nash (منصوصة, manshushah). Kedua, digali oleh mujtahid (مستنبطة, mustanbathah – الحاصلة عن راْي المجتهد).

Illat manshushah digambarkan seperti ada orang yang mengatakan: حرمت الخمر للشدة المطربة  (saya mengharamkan khamar karena terlalu membuat riang gembira). Perkataan ini bisa dijadikan illat karena menyatakannya secara tekstual sehingga tidak membutuhkan petunjuk kebenarannya dari konteks pengaruh dan penggalian hukumnya secara rasional (من جهة الاستنباط والتاْثير). Illat mustanbathah dicontohkan seperti terlalu membuat riang gembira dalam khamar. Hal ini diketahui dengan pencarian serius (عرفت بالاستنباط). Ini bisa menjadi illat.

Sebagian orang mengatakan: illat harus ditetapkan dengan nash dan ijma’ (contoh illat dengan ijma’: Pertama, mengganggu pikiran [تشويش الفكر] yang menjadi sebab larangan mengambil keputusan dalam hadis Nabi : لا يحكم احدكم بين اثنين وهو غضبان. Illat menggangu pikiran ini digunakan untuk menyamakan hukum larangan mengambil keputusan dalam kondisi terlalu lapar dan haus. Kedua, ijma’ bahwa illat mendahulukan saudara kandung [tunggal ayah-ibu] dalam warisan dari saudara tunggal ayah adalah percampuran dua nasab [اختلاط النسبين], maka dalam hal perwalian nikah dan shalat jenazah saudara kandung tunggal ayah-ibu juga didahulukan).

Pendapat ini salah karena ada hadis yang menjelaskan pentingnya ijtihad, yaitu: ketika Nabi bertanya kepada sahabat Mu’adz bin Jabal bin Amr bin Aus, dengan apa kamu menetapkan hukum ? Mu’adz menjawab: dengan kitab Allah. Nabi bertanya, jika engkau tidak menemukan ? Mu’adz menjawab: dengan sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Nabi bertanya: jika engkau tidak menemukan ? Mua’dz menjawab: saya berijtihad (bersungguh-sungguh berpikir) untuk menyampaikan gagasanku (اجتهد راْيي). Hadis ini menjelaskan, jika mencari dan menetapkan illat (التعليل) tidak boleh kecuali dengan nash atau ijma’, maka dalam hadis ini tentu tidak dijelaskan tentang kebolehan ijtihad.

Pembagian Illat

Abdul Wahhab Khallaf dalam علم اصول الفقه menjelaskan, illat dibagi menjadi tiga:

Pertama, illat yang mempengaruhi (المناسب الموْثر).

Yaitu: sifat yang relevan yang oleh Pemegang Otoritas Syariat (Syari’) dijadikan hukum. Illat ini ditetapkan oleh nash atau ijma’ sebagai illat hukum.

Contoh:

Firman Allah:

ويساْلونك عن االمحيض قل هو اذي فاعتزلوا النساء في المحيض

Hukum yang diambil dari nash ini adalah wajib menjauhi istri (tidak menyetubuhinya) ketika sedang haidl. Alasannya adalah haidl adalah kotor. Kotor adalah illat hukum wajibnya menjauhi istri. Kotor adalah sifat yang relevan dan mempengaruhi hukum.

Sabda Nabi:

لا يرث القاتل (orang yang membunuh tidak boleh mewarisi).

Hadis ini menunjukkan bahwa illat larangan mewarisi adalah membunuh. Membunuh adalah sifat yang relevan dan berpengaruh.

Firman Allah:

وابتلوا اليتامي حتي اذا بلغوا النكاح فان انستم رشدا فادفعوا اليهم اموالهم

Hukum yang diambil dari ayat ini adalah orang yang belum baligh, otoritas pengelolaan harta (الولاية المالية) ada pada walinya. Menurut ijma’, illat larangan pengelolaan harta adalah usia kecil (الصغر). Usia kecil adalah illat yang relevan dan berpengaruh. Artinya, ketika sudah besar, maka ia boleh mengelola hartanya sendiri.

Setiap hukum syara’ yang diikuti sifat yang relevan dan ada nash atau ijma’ yang menjelaskan bahwa sifat ini adalah illat hukum, maka sifat tersebut relevan dan berpengaruh. Inilah illat yang paling tinggi derajatnya.

Kedua, illat yang relevan dan pantas (المناسب الملائم)

Yaitu: illat yang relevan yang oleh Pemegang Otoritas Syariat digunakan untuk menetapkan hukum, namun nash dan ijma’ tidak menetapkannya sebagai illat. Meskipun demikian, ia ditetapkan sebagai illat hukum dari tiga aspek; dari jenis hukum hukum yang sesuai, mengganggap sifat dari jenis hukum, dan menganggap sifat dari jenisnya sebagai illat hukum dari jenis hukum.

Contoh:
Anak kecil adalah illat otoritas kewalian seorang bapak dalam menikahkan anak perempuan yang masih kecil menurut madzhab Hanafi. Namun, nash atau ijma’ tidak menunjukkan illat kewalian adalah status perawan atau anak kecil. Tapi menurut ijma’ ulama, illat kewalian dalam pengelolaan harta anak kecil adalah usia kecil. Sedangkan kewalian dalam masalah pernikahan adalah satu jenis dengan kewalian harta. Maka kemudian ditetapkan bahwa illat kewalian dalam menikahkan anak perempuan yang masih kecil adalah usia kecil. Janda yang masih kecil juga disamakan dengan perawan yang masih kecil. Begitu juga dengan perempuan gila dan perempuan yang melakukan kekejian.

Contoh kedua:
Bepergian membolehkan menggabungkan shalat (jama’) sesuai dengan nash. Bagaimana dengan hujan ? bepergian dan hujan adalah dua macam dari satu jenis, karena keduanya adalah hal yang menyebabkan kesulitan dan kecapean. Maka, ketika Syari’ menetapkan bepergian sebagai illat kebolehan menggabungkan dua shalat, maka Syari’ juga membolehkan yang sejenis sebagai illat kebolehan. Maka, illat kebolehan menggabungkan dua shalat dalam kondisi hujan adalah hujan. Kondisi lain yang disamakan dengan kondisi hujan adalah saat …….hujan deras dan dingin.

Contoh ketiga:
Berulangnya waktu shalat sehari semalam menggugurkan qadla’ shalat bagi perempuan haidl. Nash menetapkan bahwa perempuan yang haidl tidak boleh berpuasa dan melakukan shalat. Namun ketika sudah bersuci, maka ia wajib mengqadla’ puasa, bukan shalat. Gugurnya qadla’ puasa tidak dijelaskan nash sebagai illat. Namun, berulangnya waktu shalat sehari semalam sebagai gudaan kuat timbulnya kesulitan dan memberatkan, dianggap sebagai dispensasi (رخصة) yang meringankan, seperti sakit dan bepergian yang membolehkan membatalkan puasa di bulan Ramadlan, bepergian diperbolehkan meringkas shalat, bertayammum ketika tidak ada air, dan akad salam dan pinjam untuk memenuhi kebutuhan. Maka, setiap sesuatu yang di dalamnya ada dugaan kuat adanya kesulitan, maka dianggap sebagai illat hukum yang meringankan. Begitu juga dengan berulangnya shalat sehari semakin juga dianggap memberatkan.

Kedua, sifat yang relevan dan tidak terikat (المناسب المرسل).

Yaitu sifat yang tidak dijelaskan Syari’ dan tidak ada dalil syara’ yang menunjukkannya bahwa ia adalah illat atau menunjukkan bahwa ia bukan termasuk illat. Namun, ia adalah sesuatu yang relevan yang menunjukkan kemaslahatan, namun tidak terikat dengan dalil yang menetapkannya atau menafikannya. Inilah yang disebut dengan maslahah mursalah (المصلحة المرسلة).

Contoh:
Ketika sahabat menetapkan adanya pajak (خراج) bagi tanah pertanian, membukukan al-Qur’an dan menyebarluaskannya yang semuanya didasari oleh kemaslahatan, namun tidak ada dalil yang menunjukkannya.

Dalam konteks ini ada perbedaan pendapat. Sebagian ulama tidak menganggapnya sebagai illat dan sebagian ulama menganggapnya. Hal ini akan dibahas dalam kajian tersendiri.

Keempat, sifat yang tidak dianggap (المناسب الملغي)

Yaitu sifat yang tidak dianggap sebagai illat oleh Syari’, meskipun mengandung kemaslahatan.

Contoh:
Menyamakan anak laki-laki dan anak perempuan dalam hal waris, dan menghukum dengan hukuman khusus bagi orang yang membatalkan puasanya dengan sengaja di bulan Ramadlan untuk tujuan pencegahan (preventif).

مسالك العلة

Abdul Karim Zaidan dalam الوجيز في اصول الفقه menjelaskan, مسالك العلة adalah metode-metode yang digunakan untuk mengetahui illat dalam asal (الطرق التي يتوصل بها الي معرفة العلة في الاصل). Masalikul Illah ada tiga:

Pertama, nash

Yaitu ketika nash menunjukkan suatu sifat tertentu sebagai illat hukum. Petunjuk nash tentang illat ini ada tiga macam, yaitu: jelas, ima’, dan isyarah.

Pertama, jika petunjuk nash jelas, maka petunjuknya bisa pasti (قطعي) atau dugaan kuat (ظني).

Contoh:
Petunjuk adanya illat dengan nash yang jelas dan pasti biasanya dalam bentuk shighat dan teks yang bertujuan sebagai illat hukum, seperti: لكيلا, ولاجل كذا, كيلا.

رُّسُلاً مُّبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ لِئَلاَّ يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللهِ حُجَّةُُ بَعْدَ الرُّسُلِ وَكَانَ اللهُ عَزِيزًا حَكِيمًا {165}

(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. 4:165)

Illat adanya Rasul dalam ayat ini adalah supaya manusia tidak membantah Allah.

مَّآأَفَآءَ اللهُ عَلَى رَسُولِهِ مِنْ أَهْلِ الْقُرَى فَلِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ كَيْ لاَيَكُونَ دُولَةً بَيْنَ اْلأَغْنِيَآءِ مِنكُمْ وَمَآءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَانَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ {7}

Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia.Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertaqwalah kepada Allah.Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya. (QS. 59:7)

Illat hukum memberikan harta rampasan kepada Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak yatim, orang miskin, dan orang-orang dalam perjalanan adalah supaya harta yang ada tidak beredar hanya untuk orang kaya.

فَلَمَّا قَضَى زَيْدٌ مِّنْهَا وَطَرًا زَوَّجْنَاكَهَا لِكَيْ لاَيَكُونَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ حَرَجٌ فِي أَزْوَاجِ أَدْعِيَآئِهِمْ إِذَا قَضَوْا مِنْهُنَّ وَطَرًا وَكَانَ أَمْرُ اللهِ مَفْعُولاً {37}

Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap isterinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mu’min untuk (mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada isterinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi. (QS. 33:37)

Illat pernikahan Nabi dengan Zainab setelah dicerai Zaid adalah menghindari keberatan orang mukmin untuk menikahi istri anak angkat.

انما نهيتكم عن ادخار لحوم الاضاحي لاجل الدافة فكلوا وادخروا

Illat larangan menyimpan daging kurban adalah menghormati utusan yang datang ke Madinah yang membutuhkan makanan. Ketika illat hilang, maka Nabi membolehkan untuk menyimpan daging kurban.

انما جعل الاستئذان لاجل البصر

Illat memberikan ijin adalah mencegah manusia melihat sesuatu yang tidak boleh dilihat. Dari sini digunakan untuk menyamakan larangan melihat jendela ke dalam rumah orang lain.

Kedua, illat yang jelas tapi tidak pasti, karena memungkinkan arti lain.

Contoh:

كتاب انزلناه اليك لتخرج الناس من الظلمات الي النور

Illat menurunkan al-Qur’an adalah mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya.

Ketiga, illat yang ada dalam nash yang tidak jelas, tapi hanya memberikan isyarat.

Contoh:
Sebuah hadis yang menjelaskan taring kucing, Nabi menjawab:

انه ليس بنجس انها من الطوافين عليكم والطوافات

Sesungguhnya ia tidak najis, kucing adalah hewan yang mengitari kamu

Illat taring kucing tidak najis adalah karena termasuk hewan yang menyertai manusia.

Contoh lainnya adalah hukum yang disertai dengan sifat yang menunjukkan bahwa sifat tersebut adalah illatnya.

Misalnya:

وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا جَزَآءً بِمَا كَسَبَا نَكَالاً مِّنَ اللهِ وَاللهُ عَزِيزٌ حَكِيمُُ {38}

Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan dari apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. 5:38)

Illat memotong tangan adalah mencuri

الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِّنْهُمَا مَائَةَ جَلْدَةٍ وَلاَتَأْخُذْكُم بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللهِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخِرِ وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَآئِفَةٌ مِّنَ الْمُؤْمِنِينَ {2}

Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akherat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman. (QS. 24:2)

Illat mendera adalah zina.

Kedua, ijma’. Misalnya, ijma’ ulama bahwa percampuran dua nasab dalam saudara kandung (ayah-ibu) adalah illat untuk mendahulukannya dari saudara tunggal bapak dalam hal waris. Hal ini digunakan untuk menyamakan status dalam perwalian nikah, sehingga saudara kandung (ayah-ibu) didahulukan dari saudara tunggal ayah. Kemudian anak saudara kandung ayah-ibu dan anak paman tunggal ayah-ibu didahulukan dari anak saudara tunggal ayah dan anak paman tunggal ayah untuk penguasaan dalam waris.

Ketiga, sabru dan taqsim (pengujian dan verifikasi). Jika illat tidak ditetapkan dengan nash dan ijma’, maka mujtahid menggali sendiri illat hukum dengan metode pengujian dan verifikasi. Verifikasi dilakukan dengan mengidentifikasi semua sifat yang ada pada asal, kemudian meneliti dan menguji mana dari sifat-sifat tersebut yang jelas, terukur, relevan, dan berpengaruh terhadap hukum. Hasi riset adalah menetapkan sifat yang sesuai ketentuan dan membuang sifat yang tidak sesuai ketentuan.

Misalnya, ketika meneliti illat khamr, maka mujtahid mengidentifikasi beberapa sifat: misalnya, khamr terbuat dari anggur, mengalir, dan memabukkan. Sifat dari anggur dibuang karena membatasi, karena syarat illat adalah bisa dikembangkan pada semua cabang. Sifat mengalir dihilangkan karena sifatnya kebetulan (طردي او اتفاقي) yang tidak ada hubungannya dengan hukum. Maka, sifat yang ketiga, yaitu memabukkan ditetapkan sebagai illat karena ia adalah sifat yang jelas, terukur, relevan, dan berpengaruh terhadap hukum.

Ulama mujtahid sering berbeda pendapat dalam riset empiris ini. Misalnya, madzhab Hanafi berpendapat bahwa illat perwalian bapak dalam menikahkan anak perempuannya yang masih perawan yang masih kecil adalah usia kecilnya (الصغر). Sedangkan madzhab Syafii berpendapat, illatnya adalah status perawan (البكارة), bukan usia kecil.

Dalam kasus illat larangan tukar menukar yang tidak sama antara: emas, perak, jewawut, gandum, kurma, dan anggur, para ulama berbeda pendapat. Madzhab Hanafi menyatakan, illatnya adalah sesama jenis dan termasuk barang yang ditakar atau ditimbang (اتحاد الجنس ومما يكال او يوزن). Madzhab Syafii menyatakan, illatnya adalah tunggal jenis dan berupa makanan atau sesuatu yang berharga (اثمان). Sedangkan madzhab Hanafi mengatakan illatnya adalah tunggal jenis dan makanan pokok yang bisa disimpan atau berupa sesuatu yang berharga.

Illat digunakan untuk menyamakan status yang lain. Dalam pandangan Hanafi, segala hal yang bisa diukur dengan takaran atau timbangan, meskipun tidak berupa makanan, atau makanan pokok yang disimpan, disamakan. Dalam pandangan Syafii, tidak bisa disamakan kecuali berupa makanan atau sesuatu yang berharga. Menurut Maliki, yang disamakan harus berupa makanan pokok yang bisa disimpan atau dari sesuatu yang berharga.

Keempat, tanqihul manath (تنقيح المناط), yaitu membersihkan sifat-sifat yang tidak masuk dalam kriteria illat. Contohnya adalah hadis yang mengkisahkan orang baduwi yang lapor kepada Nabi tentang perbuatan bersetubuh dengan istrinya pada siang hari di bulan Ramadlan secara sengaja, kemudian Nabi memerintahkan untuk membayar kafarah (tebusan).

Dalam hal ini ulama berbeda pendapat. Madzhab menyatakan, illat kafarah adalah bersetubuh dengan sengaja di siang hari bulan Ramadlan. Madzhab Hanafi menyatakan, illatnya adalah merusak kemuliaan bulan Ramadlan dengan sengaja dengan melakukan sesuatu yang membatalkan dan merusak puasa, seperti bersetubuh, makan, dan minum. Jima’ adalah contoh perbuatan yang merusak puasa yang ditetapkan dengan nash. Sedangkan makan dan minum disamakan karena termasuk perbuatan yang merusak puasa yang ditetapkan dengan petunjuk nash.

Kelima, takhrijul manath (تخريج المناط) dan tahqiqul manath (تحقيق المناط)

Takhrijul manath adalah mengeluarkan dan menetapkan illat yang tidak ditunjukkan nash dan ijma’ dengan mengikuti metode penetapan illat yang lain, seperti sabr dan taqsim. Misalnya, menetapkan illat khamr adalah memabukkan, illat wajib qishash dalam pembunuhan sengaja adalah membunuh dengan alat yang bisa membunuh untuk ukuran kebiasaan.

Sedangkan tahqiqul manath adalah meneliti dan menganalisis secara mendalam untuk menetapkan illat yang dijelaskan dalam nash, ijma’, dan istinbath, dalam kasus yang tidak ditetapkan nash. Misalnya, illat menjauhi perempuan dalam haidl adalah kotoran (الاذي). Hukum ini digunakan untuk menjauhi perempuan nifas karena illat kotor. Dalam kasus khamr, illatnya adalah memabukkan, maka semua minuman yang memabukkan disamakan hukumnya dengan khamr, yaitu haram meminumnya.

Kesimpulan:

Tanqihul manath adalah membersihkan illat dari hal-hal yang mengotori yang tidak ada pengaruhnya dalam penetapan illat hukum.

Takhrijul manath adalah menggali illat yang tidak ada penjelasan nash atau ijma’ dengan metode yang diakui.

Sedangkan tahqiqul manath adalah meneliti, menganalisis dan melakukan verifikasi adanya illat pada cabang.

Pembagian Qiyas

Qiyas dibagi tiga:

Pertama, qiyas aula (qiyas lebih utama)

Yaitu qiyas yang illatnya di cabang lebih kuat dari illat yang ada di asalnya. Maka, hukum yang ada di cabang lebih utama dari hukum yang ada di asal. Misalnya, haram berkata kasar kepada orangtua, illatnya adalah menyakitkan (الايذاء). Illat ini ada dalam kasus memukul orangtua dengan bentuk yang lebih kuat dan lebih berat. Maka, haramnya memukul orangtua dengan jalan qiyas adalah lebih utama dari pada berkata kasar yang ditetapkan dalam nash.

Kedua, qiyas musawi (qiyas yang sama).

Yaitu qiyas yang ada dalam asal juga ada dalam cabang dengan derajat yang sama. Misalnya, illat haramnya memakan harta anak yatim dengan cara dzalim adalah melewati batas dan merusak harta (الاعتداء والاتلاف). Kasus ini disamakan dengan status hukum membakar harta dengan dzalim.

Ketiga, qiyas adna (qiyas yang lebih rendah)

Yaitu qiyas yang illatnya di cabang lebih lemah dan kurang jelas jika dibandingkan dengan illat yang ada dalam asal. Misalnya, memabukkan dalam khamr lebih nyata dari pada memabukkan yang ada dalam minuman yang lain.

Telaah:

Qiyas adalah perangkat dalil yang lebih dinamis dan responsif dari tiga dalil sebelumnya (al-Qur’an, sunnah, dan ijma’). Qiyas menjadi mediasi antara dimensi rasionalitas manusia dengan normativitas wahyu. Qiyas bertujuan untuk menetapkan kasus-kasus yang tidak dijelaskan dalam al-Qur’an, sunnah, dan ijma’. Bisa dibayangkan jika qiyas ditolak, maka berapa banyak kasus yang terjadi yang tidak punya jawaban hukum dengan alasan tidak ada nash dalam al-Qur’an dan sunnah atau ijma’ yang menjelaskannya. Banyak sekali kader-kader muda Islam yang gamang atau takut menggunakan qiyas. Dalam komunitas Nahdlatul Ulama, penggunaan qiyas ini sangat jelas, tapi dengan terminologi lain, yaitu: ilhaqul masail bi nadhairiha (menyamakan masalah yang belum ada jawaban dalam kitab dengan masalah yang sudah ada jawaban dalam kitab).

Ketika penulis mengikuti sesi bahtsul masail maudluiyah dalam forum Muktamar NU ke-33 tahun 2015 di Aula Masjid Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang dengan moderator KH. Abdul Moqsith Ghazali dan mushahhih KH. Afifuddin Muhajir, kebanyakan peserta yakin bahwa semua masalah bisa diselesaikan dengan kitab kuning. Jika tidak ditemukan jawabannya dalam kitab kuning, metode terakhir yang digunakan adalah ilhaqul masail bi nadlairiha yang spirit dan metodenya sama dengan qiyas. Dalam konteks ini, qiyas menjadi relevan.

Perkembangan zaman akibat revolusi teknologi informasi, komunikasi dan transportasi harus direspons dengan dalil syara’. Dalam hal ini, qiyas memegang peran penting di saat tidak ada jawaban yang ada dalam al-Qur’an, sunnah, atau ijma’. Ketika penulis melakukan wawancara dengan KH. M. Aniq Muhammadun, Rais Syuriyah PCNU Pati dan Mushahhih Bahtsul Masail PBNU, beliau menjelaskan, metode ilhaqul masail bi nadzairiha digunakan dalam Muktamar NU ke-32 di Makasar tahun 2010 tentang hukum jual beli online. Hal ini dikonfirmasi dengan Disertasi Dr. Ahmad Zahro yang menjelaskan bahwa metode ilhaqy (meng-qiyaskan masalah baru yang belum ada ketetapan hukumnya dengan masalah lama yang sudah ada kejeasannya dalam teks kitab) digunakan dalam NU setelah secara qauli tidak mampu menjawab masalah.