Laziznu Ekspektasi Warga NU

0
283
basyid
Lek Basyid Tralala

Oleh: lek Basyid Tralala
(Pengurus Harian MWC NU Kaliwungu Selatan-Kab. Kendal)

Sebagai negara yang penduduknya mayoritas muslim, pemerintah berkewajiban menjamin kemerdekaan  penduduknya untuk beribadat menurut agamanya dan keyakinannya. Salah satunya dalam  menunaikan zakat, infaq dan sodaqoh. Zakat, infaq dan sodaqoh merupakan pranata keagamaan yang bertujuan untuk meningkatkan keadilan dan kesejahteraan masyarakat, sekaligus dalam rangka meningkatkan daya guna dan hasil guna.

Nahdlotul Ulama sebagai jam’iyah atau sebagai jamaah keagamaan berorientasi kepada kemaslahan umat, merasa terpanggil untuk berpartisipasi mengelola potensi umat yang luar biasa. Melalui pembentukan lazisnu hingga sampai ke tingkat ranting, diharapkan kerja NU lebih nyata dan dapat dirasakan manfatnya oleh umat.  Lewat lazisnu diharapkan tumbuh semangat  prilaku dermawan warga nahdhiyin di belahan nusantara. Dengan demikian, persoalan yang berhubungan dengan masalah ekonomi dapat sedikit teratasi manakala lazisnu bergerak.

Sebagai  badan otonom (banom) NU lazisnu  diharapkan dapat secara  proaktif  meningkatkan  pelayanan dalam pengelolaan zakat, infak, sodaqoh  secara efektif dan efesien. Serta mampu   meningkatkan daya guna  zakat, infak, dan sodaqoh  demi terwujudnya  kesejahteraan masyarakat NU pada khususnya dan rakyat Indonesia pada umumnya.

Hirarki  lazisnu terstruktur dari tingkat desa, atau ranting, kecamatan, kabupaten, wilayah, hingga nasional. Lazisnu di tingkat desa merupakan garda terdepan dalam mengelola potensi umat mengingat  ditingkat itu lazisnu  face to face dengan umat. Maka tidaklah berlebihan jika lazisnu di tingkat ranting harus ektrakeras guna merealisasikan program – program lazisnu.

Kaleng Koin NU
Salah satu cara untuk mengoptimalkan keterlibatan warga NU dalam lazisnu adalah kaleng koin NU. Kaleng koin NU merupakan satu strategi untuk membudayakan sodaqoh setiap hari. Warga NU yang peduli umat bisa memiliki kaleng koin NU tanpa melihat latar belakang profesi atau jumlah penghasilan. Kaleng koin NU dibagi dengan  cuma- cuma oleh Lazisnu. Lalu kaleng koin NU dipasang di rumah yang mudah terjangkau oleh warga rumah, sehingga setiap harinya   warga rumah dapat mengisi kaleng koin tersebut entah sisa dari hasil belanja, atau yang lainnya.  Lalu, sebulan sekali petugas lazisnu akan datang untuk mengambil  hasil koin yang telah terkumpul di kaleng itu.

Bila sehari warga NU menyisihkan seribu rupiah untuk dimasukan dalam kaleng koin NU, maka dalam satu bulan akan terkumpul dana kurang lebih tiga puluh ribu. Kalau satu desa ada dua ratus orang yang berpartisipasi, maka paling tidak dalam satu bulan bisa terkumpul dana umat sekitar enam juta rupiah. Bagaimana kalau satu kecamatan, satu kabupaten, satu wilayah atau dalam cakupan nasional. Maka akan terkumpul dana dhuafa hingga miliaran rupiah perbulan. Sungguh fantastis bukan !!!

Budaya Berbagi
Dalam sebuah hadis qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Asaakir, dari Jabir bin Abdillah RA, dari Rasulullah SAW, Allah berfirman, “Inna hadza diinun irtadloituhu linafsi, lan yushlihahu illaa as-sakhoo-u wa husnul khuluq, fa akrimuuhu bihima maa shohibtumuuhumaa, inilah agama yang Aku ridhai untuk diri-Ku. Tidak ada yang mampu membuatnya bagus, kecuali kedermawanan dan akhlak yang bagus. Karena itu, muliakanlah agama ini dengan yang dua itu selama kamu melestarikannya.”

Semangat budaya berbagi antarsesama tidak harus menunggu jadi orang kaya. Siapa pun orangnya  berhak untuk berbagi kebahagiaan. Entah  itu dengan cara bercerita, berbagi tenaga / pikiran atau menjadi   kedermawanan?  Bagi yang dermawan, menyisihkan sebagian harta merupakan satu kewajiban yang harus didahulukan, karena baginya harta adalah titipan Allah. Titipan itu bisa benar-benar menjadi anugerah baginya manakala  dapat dinikmati oleh lingkungan sekitar.

Rasulullah SAW  dalam hadistnya bersabda, bahwa di antara empat hal yang menentukan tegaknya dunia (masyarakat) adalah prilaku dermawannya kaum berada, ilmunya para ulama,  pemimpin yang adil, serta  doanya orang miskin. Disamping itu, tujuan diutusnya rasul Muhammad SAW di muka bumi ini  adalah untuk menyempurnakan akhlak. Akhlak itu sendiri terbagi dalam  dua kontek yakni  hablun minallah (hubungan dengan Allah) dan hablun minan naas (hubungan dengan sesama manusia).

Belum bisa dikatakan berakhlak mulia kalau kedua kontek tersebut belum terbangun dengan  sebaik-baiknya. Keshalihan ritual ( maghdzoh )  akan menjadi sempurna manakala didukung  ibadah sosial ( ghoiru maghdzoh ) dan sebaliknya. Sama halnya dengan khusyuk (merendahkan diri di hadapan Allah), tawadhu (berendah hati di hadapan makhluk) yang keduanya tidak bisa dipisahkan satu sama lainnya.  Zakat, infak dan sedaqoh merupakan implementasi keshalihan sosial dan hablun minan naas, merupakan hal yang paling urgen dalam pemberdayaan masyarakat.

Untuk itu, marilah kita sukseskan program lazisnu, agar sebagian warga NU yang belum mendapatkan hak untuk bahagia dapat terpenuhi. Begitu pula bagi warga NU yang mengalami  kesulitan biaya sekolah, kesehatan atau yang lainnya dapat terbantu secara sistemik dari program lazisnu tersebut.

Uluran kepedulianmu menambah nafas panjang saudara – saudaramu yang hari ini butuh perhatian. Hartamu  atau kekayaanmu  tidak akan bisa menolongmu  jika engkau biarkan berlama –lama di dompet kulitmu. Ayo, sisihkanlah sebagian rizkimu, meski hanya  sehari seribu. Ingatlah bahwa doa-doa mereka yang kelak akan menjadi jalan penerangmu manakala engkau menghadap Yang Maha Kuasa.

Lazisnu Semangat, NU Hebat, Rakyat Kuat, Indonesia Bermartabat !!!!!