Sukma, Adakah Sajak Petani Negeri

0
518
Ubaidillah Ahmad. Foto: GU

Oleh: Ubaidillah Achmad
(Penulis Buku Islam Geger Kendeng dan Suluk Kiai Cebolek, dan Khadim Bait As Syuffah An Nahdliyah, Sidorejo Pamotan Rembang, 3 4 2018)

Benarkah kau putri negeri, yang indah, berhati lembut dan bersahabat hingga aku gugup menyebut namamu, karena aku tidak mengerti arti kelembutanmu. Bersajak penuh rasa jiwa dan ketajaman daya dan kenangan kata untuk anak negeri. Adakah sisa waktu menjemput hari bersama untuk negeri tanpa memuntahkan gaduh anak negeri. Sebelum aku bersenandung untuk negeri ini, betapa sedih tersayat, hati ini, pilu rasa nyeri pada syaraf kesatuanku, karena sajakmu, sukma negeriku.

Betapa aku mengerti, engkau katakan,”Aku tak tahu Syariat Islam, Yang kutahu sarikonde ibu Indonesia sangatlah indah, Lebih cantik dari cadar dirimu, Gerai tekukan rambutnya suci, Sesuci kain pembungkus ujudmu, Rasa ciptanya sangatlah beraneka, Menyatu dengan kodrat alam sekitar, Jari jemarinya berbau getah hutan, Peluh tersentuh angin laut.”

Sukma negeriku, mengapa tidak kau kirimkan sehelai surat untuk petani kita pegunungan kendeng, yang kini masih menunggu sajakmu?

Sukma negeriku, deras air mata mengucur membasahi pipiku, karena sajakmu pada bait, “Lihatlah ibu Indonesia, Saat penglihatanmu semakin asing, Supaya kau dapat mengingat, Kecantikan asli dari bangsamu, Jika kau ingin menjadi cantik, sehat, berbudi, dan kreatif, Selamat datang di duniaku, bumi Ibu Indonesia.”

Adakah sukma yang lain, yang bersama sukma negeriku, yang mampu membuat rintihanku bersanding di sisi ibu pertiwi yang terus tergerus dan tersayat melihat bolduser kapital, pada sujudku hanya untuk Allahku, aku mengadu sudah tidak bisa dengan yang lain, termasuk kepada para penguasa dan kapital, mengapa kau tambah sedih aku, karena kau caci jalanku, kau caci bumi pijakku untuk menatap cahaya Allahku dan Muhammadku.

Betapa tega kau lepaskan busur rasa cintamu dan busur dendammu kepada keragaman anak negerimu, yang mengganggu kesatuanku, kau kumandangkan kepada bangsaku, “Aku tak tahu syariat Islam, Yang kutahu suara kidung Ibu Indonesia, sangatlah elok, Lebih merdu dari alunan azan mu, Gemulai gerak tarinya adalah ibadah, Semurni irama puja kepada Illahi, Nafas doanya berpadu cipta, Helai demi helai benang tertenun, Lelehan demi lelehan damar mengalun, Canting menggores ayat ayat alam surgawi, Meskipun aku, tertegun menerima sapa indahmu, Pandanglah Ibu Indonesia, Saat pandanganmu semakin pudar, Supaya kau dapat mengetahui kemolekan sejati dari bangsamu, Sudah sejak dahulu kala riwayat bangsa beradab ini cinta dan, hormat kepada ibu Indonesia dan kaumnya.”

Lukaku, Bukan Lukamu

Kumandang Adzan terlalu indah bagiku, hingga sajakmu menusuk hatiku. Aku tahu, lukaku bukan lukamu. Aku tidak mau tahu, tahukah engkau syariat Islam, yang aku tahu syariat islam, adalah sulukku, yang kini terjarah oleh gerakan tanpa hati mencederai Islamku dan keragaman budayaku pada negeri ini. Murni puja kepada Ilahku, tidak sebanding dengan gemulai gerak tarinya yang konon kau anggap ibadah. Murni puja kepada Ilahku, adalah puncak puja yang memanggilku memasuki arsy untuk memetik buah syidratil muntaha dan buah para kekasih yang memenuhi tangkai tangkai rahasia ilahku hingga menjulang ke angkasa.

Sajakmu bukan sajakku, lukamu bukan lukaku, sedihku bukan sedihmu, sehingga akupun tidak harus mengerti helai benang tertenun, lelehan damar mengalun, alam surgawi dan tegunmu. bersajaklah sukma negeriku dengan sesukamu, namun adakah kata selain pada sulukku yang kau jadikan goresan sajakmu menjadi petikan yang menyayat hati. Ingat, lukaku tanpa lukamu, karena kau yang memulai menggores gambar pada kamvasku, suluk tetesan air mataku. Sukma, teruslah bersajak, namun jangan sakiti aku.