Serukan Anti Diskriminasi, Lakpesdam Gelar Parade Budaya

0
485
Pengurus Wilayah Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (Lakpesdam) Nahdlatul Ulama Jawa Tengah menggelar parade budaya sebagai upaya untuk mengampanyekan semangat anti diskriminasi, Rabu (11/4) di Auditorium II Kampus 3 UIN Walisongo Semarang. [Foto: Red]

Semarang, nujateng.com- Pengurus Wilayah Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (Lakpesdam) Nahdlatul Ulama Jawa Tengah menggelar parade budaya sebagai upaya untuk mengampanyekan semangat anti diskriminasi, Rabu (11/4) di Auditorium II Kampus 3 UIN Walisongo Semarang. Kegiatan yang dihelat atas kerjasamanya dengan LPM Justisia itu menampilkan pelbagai kebudayaan mulai dari tari, puisi, tembang dan dipungasi oleh orasi budaya dari Budayawan Semarang, Prie GS.

Tedi Kholiludin, Sekretaris PW Lakpesdam mengatakan, ia sengaja memilih parade budaya sebagai alat kampanye. “Seni itu universal. Ia tidak membeda-bedakan manusia atas dasar suku, agama, identitas gender atau lainnya. Manusia bisa menikmati dan menghargai sebuah produk kebudayaan. Atas dasar inilah maka kesenian yang tampil dapat menjadi jembatan untuk dialog,” kata Tedi, yang juga Staf Pengajar di Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang.

Semangat anti diskriminasi, menurut peneliti di Yayasan Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA) itu harus terus digemakan pada seluruh lapisan masyarakat dan melalui medium yang variatif. “Jika selama ini yang dilakukan adalah dengan dialog-dialog akademis, maka kegiatan ini mengambil strategi berbeda, meski tentu saja tujuannya sama-sama sikap untuk tidak melakukan diskriminasi,” tandas Tedi.

Seni Baronsai, Tari Gambyong dan Jaipongan modern, tampil ke publik. Mereka bergantian menyampaikan pesan kepada audiens tentang betapa kayanya kebudayaan masyarakat Indonesia. Tak ketinggalan, Budi Santoso, salah seorang warga Sedulur Sikep Kudus melantunkan tembang Dandanggula Pancasila.

LPM Justisia yang juga menjadi penyelenggara kegiatan memberikan penghargaan kepada dosen dan mahasiswa berprestasi. Sebagai bagian dari peringatan ulang tahun yang ke 25, Justisia mendukung dan terus mendorong kepada semua elemen untuk membantu upaya-upaya perdamaian dan toleransi. “Kami mengapresiasi para dosen yang tidak hanya mengajar di kampus, tetapi juga turut terlibat dalam aksi-aksi nyata untuk mewujudnyatakan toleransi,” tutur Pemimpin Umum LPM Justisia, Jaedin.

Prie GS, dalam ceramahnya menyampaikan, diskriminasi mula-mula, tidak harus berbicara dalam konteks yang luas, seperti halnya negara. “Mulai saja dari diri kita sendiri. Kalau belum selesai bicara dalam konteks diri, maka janganlah melangkah jauh ke hal yang lebih besar seperti negara,” terang Kang Prie. Diskriminasi itu, lajut Prie, sering terjadi karena Inferioritas, merasa rendah dari yang lain. [Red/002]