Santri Isi Peringatan Isra’ Mi’raj Nabi, Hadirkan Suasana Baper

0
240
Santriwati PPT Al Falah Salatiga, Rosida saat menyampaikan khitobah. Foto: Bagus

Salatiga, nujateng.com – Istilah baper (bawa perasaan) memang tengah nge-hits di kalangan anak muda, tak terkecuali juga para santri yang usianya terbilang belia. Sepertinya, istilah baper semakin menjadi-jadi saat muncul kata-kata mutiaranya si Dilan “Jangan rindu, berat, kamu nggak akan kuat”. Dari kalimat itulah kaum belia banyak yang berlomba-lomba membuat kamut atau kata mutiara. Bahkan ada juga plesetan lucu yang muncul dari kalimat tersebut.

Rosida Bekti, Santri Pondok Pesantren Tarbiyatul Islam (PPTI) Al Falah Salatiga tampaknya juga terbawa dengan bahasa bapernya Dilan, santri usia 16 tahun ini menggugah kejenuhan santri saat mengikuti kegiatan Peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW di Aula Utama Pesantren, Jumat (13/4)

Dengan suguhan kata-kata baper, tampaknya Rosida lebih bisa membawa suasana jama’ah yang sebagian besar adalah santri remaja, mereka menjadi lebih fokus terhadap materi yang disampaikan. Ia menjelaskan perjalanan Nabi Muhammad saat Peristiwa Isra’ Mi’raj.

“Perjalanan nabi Muhammad yang melintasi antar alam ini, hanya memakan waktu kurang dari semalam. Pada saat itulah Allah mewajibkan semua umat muslim untuk menjalankan sholat lima waktu dalam sehari semalam. Kenapa cuma lima waktu? Karena Allah tahu itu berat, kita nggak akan kuat!,” jelasnya dengan ekspresi dan intonasi yang pas.

Pengajian yang bertemakan Setetes Hikmah Perjalanan yang Agung ini sengaja menghadirkan santri sebagai penyampai khitobah, dengan maksud untuk melatih mental dan percaya diri mereka supaya saat di masyarakat nanti sudah tidak ada rasa canggung ketika diminta berceramah ataupun kultum mengisi pengajian.

Ustadz Gunawan Laksono Aji, saat memberi sambutan atas nama Ketua PPTI Al Falah Salatiga berharap dengan peringatan hari besar Islam di pesantren menjadi moment tersendiri bagi santri untuk menuangkan bakat mereka, baik khitobah maupun bakat lain termasuk menjadi panitia pelaksana.

“Saat di masyarakat nanti, yang lebih dibutuhkan adalah mereka yang biasa mengurus atau menjadi panitia penyelenggara kegiatan, karena mereka sudah terbiasa dan pastinya paham dengan tupoksi yang harus dikerjakan,” tukasnya. [Bagus/009]