Meneladani Kiai Nusantara

0
144

Semarang, nujateng.com – Sebutan kiai menjadi penanda penting bagi kehidupan keislaman di Jawa bahkan Indonesia. Mereka ini penjaga gawang moral beragama dan berbangsa. Jamal Makmur Asmani mengategorikan menjadi tiga bagian, ulama lentera hati, sang pencerah hati dan sang pencerah gagasan. Gagasan ini ditulis dalam buku berjudul “Mereguk Kearifan Para Kiai”.

Oleh Pengurus Wilayah Rabithah Ma’ahid Islamiyyah Nahdlatul Ulama Jawa Tengah dibedah bersama sekretaris PWNU Jateng; KH. M. Arja Imroni dan KH. Abu Rokhmad; MUI Jateng hadir pula penulis buku dengan dimoderatori PW RMI NU Jateng; Mukhamad Zulfa. Buku ini menjadi penting ditulis untuk memberikan inspirasi bagi generasi muda; agar bisa meneladani tokoh-tokoh yang dihaturkan. Jamal memberikan argumentasi kenapa buku ini hadir, bahwa seorang kiai / ulama harus memiliki kapasitas keilmuan yang bagus dan mampu membuka mata hati santrinya. Kedua, memiliki kemauan dan kemampuan untuk berijtihad dalam mencari ilmu.

Kiai Arja mengapresiasi atas terbitnya buku ini, secara garis besar beliau mengungkapkan kiai-kiai yang ada ini mereka menghormati kearifan lokal, memiliki pengetahuan keagamaan baru berdakwah, berhati-hati dalam mengambil keputusan hukum dan tradisi saling menghormati antar kiai. Selain itu, Kiai Arja mengingatkan bahwa sekarang ini santri banyak yang meninggalkan cara menjadi seorang murid yang baik.

Terdapat 8 cara menjadi santri yang baik pertama, menjadi pendengar dengan sungguh-sungguh dan baik (istima’) kedua, menerima apa yang ditangkap (qobul) ketiga, mampu mengidentifikasi perkara (tashawwur), memiliki kemampuan memahami perkara (tafahhum), sanggup menerangkan sebuah masalah (ta’lil), bisa mencari dalil sendiri (istidlal), sanggup mengerjakan ilmu (amal) dan mampu menyebarkan ilmunya (an-nasyr).

Kiai Abu Rokhmad menyeritakan bahwa kiai-kiai kuno itu selalu mendoakan santri-santrinya. Begitu pula dengan tokoh-tokoh yang ada dalam buku ini. Dalam bahasa pesantren terdapat hubungan hati yang kuat (alaqah batiniyyah). Dalam buku ini baiknya kiai-kiai yang dikenal secara nasional penting kita dokumentasikan selain itu perlu juga ada kiai-kiai kampung yang perlu diabadikan.

“Setiap zaman ada kiainya dan setiap kiai ada zamannya,” tegas Kiai Abu Rohmad.
Bahwa kiai memiliki kekhasan masing-masing yang berbeda dengan satu dengan yang lainnya. Beliau-beliau ini memiliki dimensi yang tak bisa diperkirakan para santrinya. Bisa jadi kontribusi dan gagasannya sesuai zaman dan tempatnya yang tak bisa dibandingkan satu dengan yang lain.

Jamal Makmur yang juga aktif di Pengurus Wilayah Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PERGUNU) berpesan pada hadirin. Bahwa menulislah secara mengalir. Buku ini memang tak akan pernah habis kekurangannya.
“Yang penting ditulis terlebih dahulu. Akan tetapi bahan baku (referensi) harus berkualitas,” tandas Jamal. [Zulfa/009]