Isra’ dan Mi’raj: Meneguhkan Kekhalifahan Dan Kehambaan

0
666

Oleh: Muhammad Tijany
(Aktivis  Muda NU tinggal di Rembang)

Sendhon Waton* (SW) Rembang, mengadakan acara rutin di Sanggar seni *Cakraningrat, pada malam ini 15 April 2018, memasuki episode yang ke 12. Artinya, sudah tepat setahun acara rutin ini berjalan, sebagai ajang seni-budaya Islam Nusantara (Jawa) rutinan sekali dalam sebulan.

Istimewa sekali. Pada edisi ulang tahun ini, SW mengangkat tema “Isra’ dan Mi’raj” karena memang momentumnya bertepatan. Tentu bukan sebuah kebetulan. Setelah pembacaan tahlil, Ki Sigit menegaskan dalam kata pengantarnya, sebagaimana yg sering ia kemukakan, bahwa SW digelar sebagai perekat dan penyambung aspirasi kebudayaan kawula muda di Rembang. Karena itu, Ki Sigid mengharapkan SW akan terus eksis dan bisa dilanjutkan oleh generasi mendatang.

Di depan ratusan hadirin, Ki Sigid menyebutkan bahwa ada kesinambungan dan keterkaitan antara solat 5 waktu, sebagai “oleh-oleh” dari perjalanan Isra’ Mi’raj-nya Nabi (Saw), dengan Pandawa Lima dan Pancasila. Bahwa solat merupakan protagonis utama dalam “drama kehambaan manusia” di hadapan Tuhan. Dan merupakan “kesatria-kesatria” yg mengarahkan kehidupan bergerak ke arah yg lebih baik. Hal itu senada dengan 5 rukun Islam dan 5 sila dari Pancasila dalam konteks kenegaraan.

Acara ini digelar gayeng dan syahdu, diselingi dengan solawatan, oleh para vokalis JMK (Jam’iyah Maulid Kubro) Rembang yg berafiliasi pada komunitas ObrolanSantri. Ada Kang Ghufron, Kang Aris Shoimin, Kang Khafidzun, dan Kang Afif Jauhari.

Qashidah “Ya Habibal Qalbi” menjadi penggugah rasa sebagai pembuka, dengan iringan musik keroncong yg mendayu-dayu. Benar jika dikatakan bahwa musik, pada satu aspek tertentu, menjadi bahasa universal tentang kebenaran. Yakni kebenaran cinta. Tanpa jeda, “Ya Habibal Qalbi” disambung dengan tembang mitologis “Ilir-ilir” yg nuansanya Jawa banget. Dan masih dengan iringan musik grup keroncong Cakranada.

Sebagai pecinta seni budaya, Ki Sigid menyampaikan visi dan mimpi ingin mendorong adanya kreatifitas bermusik yg mengkolaborasikan musik religi solawatan dengan genre-genre musik modern dan kontemporer lainnya, termasuk keroncong atau rock’n roll.

Tetapi SW tidak hanya menjadi ajang kreatifitas seni budaya. Ada wawasan dan inspirasi yang mendalam ketika SW malam ini dihadiri oleh Gus Ubaidillah Ahmad dari Pamotan. Dosen UIN Walisongo Semarang yg akrab dipanggil “Gus Ubaid” ini hadir sebagai bintang tamu. Selain Gus Ubaid, jadir juga Cak Rud yg dikenal luas di kalangan jama’ah Maiyah Nusantara.

Saat sesi ngobrol, Cak Rud mengemukakan kearifan lokal yg erat kaitannya dengan perlunya menjaga kelestarian lahan pertanian. Menurutnya, teknologi pertanian yg terlalu memaksa lahan utk memberikan hasil pertanian adalah sebentuk kejahatan manusia terhadap alam.

Menurut Cak Rud, yg juga seorang praktisi pertanian, kita sudah saatnya menekan penggunaan pupuk kimia dan kembali pada penggunaan pupuk organik, pupuk kandang misalnya. “Jika kembali make pupuk kandang, pertama-tama lahan mungkin belum bisa memberikan hasil yg baik. Itu wajar karena tanah pertanian masih dalam keadaan sakaw, maksudnya masih kecanduan obat-obatan kimia.”

Saat giliran Gus Ubaid menyampaikan wawasan, Gus Ubaid menyebutkan bahwa semula sebutan kyai, dalam tradisi Jawa, dinisbatkan pada para sesepuh yg memiliki kearifan, termasuk dhalang.

Gus Ubaid melanjutkan uraiannya ttg manusia sebagai sebuah alam. Sebagai alam, manusia memiliki dua dimensi: alam jiwa/ruhaniyah dan alam fisik. Dari perspektif dua dimensi alam manusia inilah, Gus Ubaid mengulas fenomena ajaib Nabi: al-Isra’ wal Mi’raj.

Dalam penjelasannya, Gus Ubaid mempresentasikan buku terbarunya dengan merambah aspek filosofis dari keragaman karakteristik setiap Nabi. Yakni, setiap Nabi membawa kenabian dengan keunikannya masing-masing yg mencerminkan suatu kebijaksanaan ilahiah tertentu. Mengenai hal ini, kita bisa membaca penjelasannya secara detil di dalam kitab Fushush al-Hikam Ibnu Arabi.

Nah, keistimewaan Nabi Muhammad terletak pada cakupannya terhadap semua jenis kenabian yang beragam karakteristiknya pada setiap Nabi yg diutus Tuhan. Artinya, tidak ada karakteristik kenabian dari setiap Nabi yg tidak terhimpun di dalam diri Nabi Muhammad Saw. Itulah mengapa saat Isra’ sampai di Masjid al-Aqsha, beliau dipertemukan dengan seluruh Nabi dan mengimami mereka dalam sembahyang berjamaah. Dalam perspektif tradisional, Nabi Muhammad disebut “Sayyidil anbiya’ wal mursalin” (Tuan/Pimpinan para Nabi dan Rasul) atau “Imam al-Rusul” (Pemuka para Rasul).

Demikianlah. SW memberikan wawasan mendalam, hiburan yang menggugah jiwa, dan mencerahkan. Setelah diskusi dilanjutlan pembacaan kitab Fatkhul Qarib yg diampu oleh KH. Syarofuddin, acara ini dipungkasi tepat tengah malam.