Ribuan Santri Hadiri Haul Pendiri NU KHR Asnawi Kudus

0
659
Suana ribuan orang yang sedang berziarah di makam Mbah Asnawi Kudus di Komplek Makam Sunan Kudus.

Kudus, nujateng.com – Ziarah umum dalam rangka Haul ke-60 KHR Asnawi dihadiri ribuan santri, Selasa (13/3/2018). Komplek makam Sunan Kudus dimana KHR Asnawi dimakamkan penuh hingga membludak di luar area Masjid Menara.

KHR Asnawi merupakan teman perjuangan KH Hasyim Asy’ari dalam mendirikan Nahdlatul Ulama. Jadi ribuan santri yang hadir ini jelas-jelas tabarrukan dengan karomah Mbah Asnawi. Setiap haul selalu penuh yang ziarah.

“Setiap tahun, kami gelar tahlil umum di makamnya. Ini sudah rutin yang dilaksanakan bersama panitia Yayasan Menara,” tutur Ketua Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK), KH Em Nadjib Hassan.

KH Abdul Mujib Sholeh, cucu KHR Asnawi menyampaikan terima kasih pada Pengurus Yayasan YM3SK. Karena sudah menyelenggarakan ziarah umum ini, dengan meriah dan lengkap dihadiri sesepuh Ulama Kudus.

Kyai Mujib memohon do’a  dari para kyai agar dzuriyah Mbah Asnawi bisa melanjutkan perjuangannya. “Semoga kita semua dapat karomahnya Mbah Asnawi,” ungkapnya.

Kyai Mujib ingat sekali dengan pesan KHR Asnawi pada tahun 1958 saat izin mau mondok ke Jombang. Inti nasehatnya adalah sekabehane keapikan arikolo nganut ulama sepuh lan sedanten kejelekan niku sebab ora manut kyai sepuh (semua kebaikan itu karena ikut dawuh Kyai Sepuh dan kejelekan itu karena tidak ikut dawuh kyai sepuh).

Ini sesuai dengan hadits riyawat Assaubani yang menegaskan bahwa zaman akhir banyak orang dzalim yang diikuti banyak orang dan yang ikut terombang ambing seperti buih di lautan.

Dia mengatakan besok bakale digawe kroyokan umat yang dzolim. Untuk banyu segoro kena angin mudah ke selatan utara. “Orang itu dzalim karena takut dengan kematian dan takut kefakiran, maka kita harus ikut dawuh Mbah Asnawi,” ungkapnya.

Senada dengan itu, KH Hasan Fauzi menegaskan keulamaan KHR Asnawi yang tegas dalam memegang teguh agama. “Jangan seperti zaman ini, banyak yang ngaku ulama atau ustadz di televisi tapi ilmunya tidak ada,” pungkasnya. [Zulfa/009]