Pitutur Bijak Sang Guru Bangsa

0
791

Judul                    :  Celoteh Gur 222 Ujaran Bijak Sang Guru Bangsa

Penyunting          :  Ahmad Nurcholish

Penerbit               :  PT Alex Media Komputindo Kelompok Gramedia

Kota Terbit          : Jakarta

Tahun Terbit        : 2017

ISBN                   : 978-602-04-5006-3

Resensator          : Lek Basyid Tralala (Pengurus LAKPESDAM MWC Kaliwungu Selatan)

 

Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggal kulit,  orang mati meninggalkan nama. Peribahasa tersebut merupakan satu nasihat kepada semua orang untuk selalu berbuat baik kepada siapaun. Karena dari perbuatannya itulah sosok pribadi tersebut akan terus dikenang meskipun Yang Maha Kuasa telah memanggilnya. KH. Abdurrahman Wahid atau yang sering dipanggil Gus Dur adalah satu contoh yang pribadinya selalu dikenang oleh bangsa ini karena banyak prilaku, perkataannya atau pemikiran yang penuh dengan makna.

Sebagai putra berdarah biru dari kalangan pesantren, pribadi Gus Dur sangat terbuka dengan pembaharuan. Menurutnya,   perubahan adalah sunatullah dan bukan satu kesalahan yang harus dihindari tetapi  sebaliknya bahwa perubahan dapat meningkatkan kualitas pribadi yang lebih baik.  Ini dapat terlihat dari perjalanan belajar  dan teman – teman diskusinya. Gus Dur tidak membatasi  pertemanan, baginya teman terbaik teman yang dapat diajak bertukar pikiran. Sehingga Gus Dur  tak pernah memperdulikan  latar belakangnya pendidikan, kultur dan agama.

Membaca adalah satu upaya menjadikan dirinya lebih progresif dalam membaca tanda -tanda jaman. Dengan membaca pula, pengetahuan dan pengalaman akan terus berkembang dari waktu ke waktu. Hal ini sudah dibuktikan Gus Dur  ketika masih menyandang pelajar atau mahasiswa. Hebatnya lagi buku – buku yang dibaca Gus Dur merupakan karya para ilmuan kelas dunia seperti Aristoteles, Karl Marx, Lenin, Mao Zedong.

Pemikiran atau ujaran yang disampaikan Gus Dur merupakan hasil dari proses panjang dalam memahami ayat – ayat Allah yang berupa hamparan jagat raya. Hal ini relevan dengan ujaran beliau  dalam petikan ujarannya tertulis Guru spiritual saya adalah realitas. Dan guru realitas saya adalah spiritualitas. (hal. 148 ). Namun,  oleh orang – orang yang tidak suka kepadanya dianggap sebagai tindakan yang kontroversial  dan membahayakan umat. Di buku ini penulis berusaha menghadirkan kembali  kata – kata  bijak yang pernah beliau sampaikan.  Dari  222 ujaran bijak sang guru bangsa tersebut terangkum dalam enam bagian. Bagian pertama Agama, Peradaban, dan Kemanusian ( 40 ujaran ), bagian kedua Negara, Kebangsaan dan Kepemimpinan ( 44 ujaran ), ketiga Keadilan, Kesejahteraan, Hukum, dan Hak Asasai Manusia ( 56 ujaran ), bagian keempat Motivasi, Pendidikan, dan Kebudayaan ( 23 ujaran ) bagian kelima Konflik, Kekerasan, dan Terorisme ( 23 ujaran) dan bagian keenam Kebhinekaan, Toleransi dan Perdamaian ( 31 ujaran ).

Sekilas Pemikiran Gus Dur

Esensi Islam tidak terletak pada pakaian yang dikenakan, melainkan pada akhlak yang dilaksanakan ( hal. 1). Peran agama sesungguhnya membuat orang sadar akan fakta bahwa dirinya bagian dari umat manusia dan alam semesta ( hal.3) Sehingga tidak penting apa agamamu dan apa sukumu, kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua manusia, maka orang tidak pernah bertanya apa agamamu ( hal. 5 ). Memang, Islam adalah agama yang sempurna prinsip-prinsipnya, tetapi hukum – hukum rincian di dalamnya akan terus berkembang sesuai dengan tuntutan zaman. Inilah yang dimaksud dengan ungkapan : Islam sesuai dengan tuntutan zaman dan tempat  (Al-Islam yashluhu kullazamanin walmakanin )” (hal 35 ).

Sejarah lama kita sebagai bangsa sangat menarik. Rasa tertarik itu timbul dari kenyataan bahwa yang ditulis sering tidak sama dengan yang terjadi. Dengan kata lain, sejarah masa lalu, sering dijadikan alat legitimasi kekuasaan ( hal. 45 ). Pertanyaan dasarnya adalah sanggupkah kita sebagai bangsa mengembangkan sikap meninggikan kepentingan bersama itu dan mengalahkan kepentingan pribadi para pemimpin bangsa kita ? “ Kemajemukan harus bisa diterima, tanpa adanya perbedaan .” ( hal. 47 ). Ingat ” agama dan nasionalisme tidak bisa berdiri sendiri “ (hal. 51). Marilah kita bangun bangsa dan kita hindarkan pertikaian yang sering terjadi dalam sejarah. Ini esensi kesejarahan kita, yang tidak boleh kita lupakan ( hal.55). Para pemimpin gerakan Islam saling bertengkar, minimal bersatu dalam ucapan. Mengapa demikian ? Karena mereka hanya mengejar ambisi pribadi belaka, dan jarang berpikir mengenai umat Islam secara keseluruhan ( hal 73 ).

Kalau Anda tidak ingin dibatasi, janganlah Anda membatasi. Kita sendirilah yang harus tahu batas kita masing-masing ( hal. 93 ). Bukan moderitas yang lebih dikejar melainkan terpenuhinya rasa keadilan dalam kehidupan bermasyarakat yang harus diutamakan ( hal. 97). Seapanjang dapat diterima oleh akal, maka sebuah hukum agama dapat berlaku berdasar pandangan akan dan selama tidak bertentangan dengan sumber – sumber tertuli Alquran dan Hadist ( hal. 103 )

Guru spiritual saya adalah realitas. Dan guru realitas saya adalah spiritualitas. (hal. 148 ) Dengan lelucon, kita bisa sejenak melupakan kesulitan. Dengan humor pikiran kita jadi sehat. ( hal.151 ). Selama budaya Islam masih hidup terus, selama itu pula benih-benih berlangsungnya cara hidup Islam tetap terjaga. Karena kita tidak perlu berlomba-lomba mengadakan syari’atisasi, bahkan itu dilarang oleh pihak UUD 1945 jika dilakukan oleh pihak pemerintah dan lembaga –lembaga Negara ( hal.157 ).

Jika kamu membenci orang karena dia tidak bisa membaca Al Quran berarti yang kamu pertuhankan itu bukan Allah, tapi Alquran. Jika kamu memusuhi orang yang berbeda agama dengan kamu, berarti yang kamu pertuhankan bukan Allah, tetapi agama. Jika kamu menjauhi orang yang melanggar moral berarti yang kamu tuhankan bukab Allah, tetapi moral. Pertuhankanlah Allah, bukan yang lainnya. Dan pembuktian bahwa kamu mempertahankan Allah, maka kamu harus menerima semua mahluk. Karena begitulah Allah ( hal 202 ).

Simpulan

Perbedaan di antara kita dalam memaknai ujaran seorang tokoh adalan sesuatu yang lumrah, selain akan menambah  kekayaan bangsa juga sebagai proses pendewasaan berbangsa. Bahkan dalam pandangan Islam, perbedaan itu sesuatu wajar terjadi dalam kehidupan bermasyarakat. Apalagi pada tingkat sebuah bangsa besar seperti manusia Indonesia.