Menggapai Cinta Allah dengan Istighfar

0
1595

Oleh: Muhammad Azza Ulin Nuha
(Pegiat Majelis Pengajian di STSN Bogor)

Manusia dalam beraktivitas sehari-hari kerap melakukan kesalahan baik disengaja atau tidak, mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki. Setiap orang mempunyai potensi yang besar melakukan perbuatan dosa.

Contoh kecil, kesalahan yang sering diperbuat anggota tubuh mata. Dari bangun pagi sampai saat ini, sudah berapa banyak dosa yang diperbuat. Mulai dari ketidaksengajaan melihat sesuatu yang tidak baik hingga sengaja melihatnya. Apalagi dengan ditambah anggota tubuh lain seperti telinga dengan mendengarkan yang tidak bermanfaat, lisan yang salah berucap, hati yang salah persepsi, dan lain-lain. Tapi, dosa-dosa kecil itu dapat dihapus sedikit demi sedikit dengan istighfar atau meminta ampn kepada Allah.

Dalam hadis riwayat Bukhari disebutkan bahwa Rasulullah Saw beristighfar kepada Allah tidak kurang dari 70 kali dalam sehari. Hal ini patut menjadi renungan bersama, beliau nabi sekaligus rasul, beliau dijamin surganya oleh Allah dan mendapatkan tingkatan surga tertinggi, bahkan beliau dijamin terjaga dari dosa (ma’shum). Dengan seluruh jaminan tersebut beliau masih menyempatkan diri untuk beristighfar 70 kali setiap hari. Bagaimama dengan orang biasa? Surga atau neraka saja masih belum jelas, bahkan esok akan meninggal dunia dalam keadaan khusnul khotimah atau tidak pun masih abu-abu.

Akhlak Rasulullah di atas dapat menjadi teladan bagi siapapun, yakni jika ingin dijaga dari dosa-dosa kecil, maka harus membiasakan diri untuk membaca istighfar. Orang-orang yang selalu beristighfar dan membiasakannya bukan hanya akan dijaga dari dosa-dosa kecil, melainkan cinta Allah juga akan turun kepadanya. Hal ini dijelaskan dalam QS. Ali Imran ayat 31:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Katakanlah (wahai Muhammad): Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Cinta selalu menuntut pembuktian. Jika seseorang mencintai Allah, dalam ayat tersebut seseorang dituntut untuk membuktikannya dengan mengikuti utusan-Nya, yakni Nabi Muhammad Saw. Begitu banyak hal yang bisa diikuti darinya. Contoh kecil ketika Rasulullah makan, beliau memberikan berbagai macam contoh seperti makan diawali dengan membaca basmalah, menggunakan tangan kanan, mengambil makanan yang dekat dan tidak pernah menjadikan makanan mubadzir (sia-sia). Masih banyak lagi akhlak keseharian maupun ibadah yang dilakukan Nabi Saw yang dapat diteladani oleh para umatnya.

QS. Ali Imran 31 di atas memberikan kesimpulan bahwa jika seseorang serius dalam mencintai Allah, maka buktikan cinta tersebut dengan mengikuti Nabi Muhammad. Jika seseorang serius dalam mencintai Nabi Saw, maka cinta Allah akan diturunkan kepadanya. Kejutan Allah bukan hanya sampai di situ, selain cinta-Nya, Allah juga akan mengampuni dosa-dosanya.

Cinta Allah kepada makhluk-Nya bersanding dengan ampunan-Nya. Dengan demikian, orang-orang yang sering meminta ampunan kepada Allah maka akan lebih besar potensinya untuk mendapatkan cinta Allah. Beristighfar merupakan salah satu kunci efektif untuk mendapatkan cinta Allah. Lebih hebatnya lagi, bagi orang yang sudah mendapatkan cinta Allah, maka tanpa meminta pun doanya akan dikabulkan. Bukankah jika kita mencintai seseorang, kita akan bersedia untuk melakukan apapun untuknya?

Khasiat atau faedah istighfar tersebut pernah dibuktikan oleh tukang roti pada zaman Imam Ahmad bin Hanbal. Ketika Imam Ahmad melakukan safar atau perjalanan ke Mesir, Imam Ahmad ingin beristirahat sejenak pada suatu masjid. Karena busananya yang sangat sederhana, orang-orang tidak tahu kalau ia seorang “syaikh” (guru besar). Ketika beliau masuk ke dalam masjid, beliau diusir oleh salah  seorang lelaki. Imam Ahmad berkata kepadanya bahwa ia ingin beristirahat sejenak, tapi lelaki tersebut tetap bersikukuh untuk mengusirnya.

Ketika Imam Ahmad meninggalkan masjid tersebut, sampai di luar dia dipanggil oleh tukang roti di dekat masjid untuk beristirahat di tokonya. Imam Ahmad terkesima dengan akhlak tukang roti tersebut. Tiap mengerjakan apapun dia selalu mengucap istighfar. Karena ingin mengujinya, Imam Ahmad bertanya “Ya Fulan, apa faedahnya istighfar buatmu?”

Tukang roti tersebut menjawab: “Wallahi, selama aku merutinkan istighfar ini, Allah selalu mengabulkan doaku. Hanya satu doa yang belum Allah kabulkan. Saya ingin bertemu dengan Imam Ahmad bin Hanbal sebelum aku meninggal atau beliau yang meninggal lebih dulu.”

Imam Ahmad tekejut bukan main. “Allahu Akbar, rupanya aku diperjalankan oleh Allah jauh-jauh ke Mesir dan diusir dari rumah Allah, hingga sampai di sini gara-gara istighfar-mu,” kata Imam Ahmad.

Sungguh begitu banyak hikmah yang dapat diambil dari kisah-kisah di atas. Membiasakan diri dengan meminta ampunan Allah atau membaca istighfar (Astaghfirullaha-l ‘adhim) dapat menghapus dosa-dosa kecil dan mendapatkan cinta-Nya. Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah mengatakan: “Jika engkau mempunyai permohonan yang cukup banyak dalam waktu yang singkat, cukuplah dengan merutinkan istighfar.”