Islam Dan Budaya Jawa: Pengalaman Dari Tradisi Pesantren Untuk Islam Nusantara

0
963
Ubaidillah Ahmad. Foto: GU

Oleh: Ubaidillah Achmad (Penulis Islam Geger Kendeng dan Suluk Kiai Cebolek, Khadim PP. Bait As Syuffah An Nahdliyah Sidorejo Pamotan Rembang)

Sejak dikeluarkan perpu no 02 Tahun 2017, bukan berarti persoalan keberadaan Ideologi “terlarang fersi perpu no.2/2017 ” telah selesai. Dalam sistem teknologi informasi yang canggih, mereka yang loyal terhadap ideologi ini akan dengan sangat mudah melakukan koordinasi dan menguatkan gerakan pasca dikeluarkannya perpu. Fenomena ini, akhirnya memunculkan dua kemungkinan: Pertama, menguatkan gerakan yang terlarang versi perpu. Kedua, menguatkan peran pemerintah melakukan pencegahan terhadap organisasi yang dianggap mengancam NKRI.

Jika dipahami dari perspektif negara demokratis, maka kedua fenomena di atas sama sama akan menjadi persoalan bagi keragaman dan kebinnekaan. Persoalan fenomena yang pertama, yang dijadikan alasan perpu melakukan pembubaran, karena adanya sikap intoleransi dan berlebihan merefleksikan simbolisme agama versus NKRI. Sedangkan, persoalan yang kedua, memunculkan anggapan, yaitu sebuah sikap otoriter yang membungkam kebebasan berserikat dan berpendapat di muka umum yang dilindungi oleh UUD 45.

Sehubungan dengan problem di atas, penulis akan membatasi pada tinjauan nilai keutamaan hidup antara Islam dan Budaya Jawa. Karenanya penulis tidak akan membahas kedua persoalan di atas. Penyebutan dua persoalan di atas, penulis maksudkan sebagai latar belakang perlunya menulis tema ini sebagai model resolusi budaya menjawab intoleransi berbagai pihak terhadap relasi agama dan budaya, yang berujung pada konflik kepentingan.

Islam Dan Budaya

Sebelum penulis menyampaikan pengalaman memetik hikmah Islam dan budaya jawa dari tradisi pesantren, pada pembahasan subbab ini akan memfokuskan pada kajian teoritis tentang Islam dan Budaya. Jika seseorang berbicara tentang Islam, maka akan menemukan pengertian dasar dari Islam, yaitu mencondongkan, memasrahkan dan meluruskan hati kepada Allah sesuai dengan ajaran al-Qur’an dan pesan kenabian.

Bagaimana relasi Islam dengan budaya? adanya fenomena pertemuan antara Islam dan budaya, bukanlah sebuah fenomena yang baru terjadi, namun sudah terjadi sejak pasca Nabi Adam. Pada zaman Nabi Adam sumber pengetahuan dan kebenaran muthlak dari Allah melalui wahyu kenabian yang antarkan oleh MALAIKAT JIBRIL kepada para Nabi yang menjadi pilihan Allah Jalla Jalaluhu.

Meski demikian, keberadaan wahyu pada zaman Nabi Adam tidak dapat dilepaskan dari proses keberagamaan dan aktualisasi sifat manusia antara berpegang pada wahyu dan pada kehendak normatif manusia. Beberapa kehendak normatif manusia, misalnya, adanya pandangan, refleksi, imajinasi, harapan, cita cita, kehendak kuasa, dan kebutuhan kebutuhan yang bersifat biologis. Kehendak normatif inilah yang memperpanjang sejarah manusia dan membentuk bidang relasi agama, sejarah, bisnis (motif ekonomi) pada sistem kapitalis, politik, sosial, psikologi, antropologi, dan budaya. dan lainnya. Hal ini, juga melahirkan konflik dan resolusinya, persahabatan dan permusuhan.

Sehubungan dengan fenomena di atas, juga berlangsung hingga zaman Nabi Muhammad. Pada era Nabi Muhammad, beliau berada di tengah masyarakat ummi (yang tidak bisa membaca dan tidak bisa menulis). Meski zaman ini memiliki tradisi sastra yang tinggi, namun masyarakatnya, juga dikenal sebagai masyarakat Arab jahiliyah. Ada tradisi yang bagus pada masa arab Jahiliyah, yaitu semangat masyarakatnya yang menghormati para tamu, memiliki sifat dermawan, semangat menjaga kelangsungan hidup, memiliki siat keberanian yang tinggi dan memiliki sifat nasionalisme kepada lingkungan kesukuannya.

Sebaliknya, dalam tradisi masyarakat arab jahiliyah zaman Nabi Muhammad, juga ditemukan tradisi yang memerlukan perbaikan dari Nabi Muhammad. Misalnyà, menyembah berhala, memuja ka’bah dan menjadikan ka’bah sebagai tempat memeras bagi mereka yang mendatangi ka’bah yang sudah berlangsung secara turun temurun, mabuk-mabukan, saling berperang, membunuh anak perempuan. Kesemuanya ini, adalah menjadi kawasan pendampingan Nabi Muhammad untuk menyempurnakan akhlak mulian di tengah masyarakat zamannya dan sesudahnya.

Jadi, kisah Nabi Muhammad di tengah zamannya, dapat dipahami, telah mendapatkan wahyu Allah dan dihadapkan pada sebuah tata kehidupan yang dipengaruhi oleh budhi dan daya setiap individu melalui proses interaksi, baik dengan cara konflik maupun saling bekerjasama antara satu sama yang lainnya. Dalam konteks ini, Nabi Muhammad telah menjalankan wahyu menjadi fungsi sumber nilai yang berintegrasi dengan nilai keutamaan masyarakat lokal zamannya, Hal ini, dapat dibaca, bagaimana Nabi Muhammad berinteraksi di tengah masyarakat?

Jelas, kelahiran Nabi Muhammad, bertugas untuk memancarkan Cahaya Allah, cahaya wahyu dan cahaya kenabian kepada alam semesta seisinya. Sehubungan dengan tugas ini, telah lahir prinsip kebenaran hidup dan keutamaan yang menjadi dasar ajaran agama Islam. Dalam menyebarkan prinsip ini, Nabi Muhammad telah menggunakan pendekatan “Al Mu’idzah Hasanah Wajadilhum Billati Hiya Ahsan” untuk membangun interaksi dengan budaya lokal. Akhirnya, sifat budaya yang baik yang berkembang pada zaman jahiliyah masih ditemukan dalam risalah kenabian, sehingga banyak ditemukan dalam hadis Nabi Muhammad. Hal ini, dapat dibaca pada hal hal positif masa jahiliyah.

Oleh karena itu, banyak kajian sosiologi dan antropologi budaya yang menegaskan, bahwa agama menjadi bagian dari unsur budaya. Hal ini dapat dipahami dari integrasi makna wahyu, potensi akal-pikiran dan pengetahuan Para Nabi dan penerusnya yang memiliki kemampuan untuk menafsirkan berbagai gejala serta simbol-simbol budaya masyarakat.

Berbeda dengan martabat Nabi dan Ulama’, yaitu mereka yang masih membutuhkan waktu belajar agama Islam atau masyarakat awam. Masyarakat awam sangat terbatas dan tidak mampu mencapai hakikat dari ayat-ayat dalam kitab suci masing-masing agama. Bagi Masyarakat awam, dapat mehami ayat-ayat suci agama sesuai dengan keterbatasan kemampuannya masing masing.

Di tengah keterbatasan masyarakat awam untuk mencapai hakikat ajaran agama Islam, telah banyak nilai kebudayaan yang sudah membentuk perilaku dan pandangan masyarakat awam. Karenanya, para Nabi dan Walisongo memiliki cara dan metode mengajarkan hakikat ajaran agama dengan nilai nilai keutamaan yang sudah menjadi tradisi dan budaya masyarakat. Secara teoritis, cara dan metode ini disebut dengan metode transmisi budaya melalui pribumisasi Islam.

Oleh karena itu, adanya keberagamaan seseorang tidak bisa murni sebagai hasil pembentukan ajaran agama kewahyuan, namun juga karena dipengaruhi oleh sistem kebudayaan seseorang. Hal yang sama, sikap dan perilaku keagamaan seseorang, juga diatur dengan interpretasinya memahami teks kewahyuan. Konteks keberagamaan ini, telah memunculkan beberapa pandangan: pertama, agama mempengaruhi dan menjadi bagian dari perkembangan budaya dan sebaliknya. Kedua, agama tidak memiliki relasi dengan bidaya.

Terlepas dari pandangan relasi agama dan budaya, ada keberadaan yang lebih mendasar dari perkembangan agama dan budaya, yaitu manusia. Manusia merupakan makhluk yang memiliki keutamaan bentuk di antara ciptaan Allah. Manusia memiliki dua alam, yaitu alam fisik dan alam psikis. Alam fisik memiliki kebutuhan biologis yang didorong oleh kebutuhan syahwat.

Sedangkan, alam psikis memiliki kebutuhan untuk mengikatkan ruh selalu ingat kepada Allah, mempotensikan daya berfikir, menggerakkan hati untuk berempati dan simpati kepada lingkungannya, menggerakkan kehendak yang lebih stabil hingga memasuki kehendak abadi Allah. Kedua alam keberadaan manusia ini dapat dipengaruhi oleh dua hal: pertama, prinsip ajaran agama (Islam). Kedua, dipengaruhi oleh adanya dorongan dari sistem kebudayaan masyarakat.

Dengan kedua potensi fisik dan psikis di atas, manusia mampu membangun tata kehidupan dan peradaban yang lebih tinggi. Sebaliknya, manusia juga dapat merendahkan kehidupannya menjadi lebih buruk dari hewan. Pilihan manusia pada makna kehidupan yang lebih rendah, karena adanya pengaruh dari pengetahuan yang bersifat material mengalahkan rahasia spiritual yang menimbulkan manusia kehilangan keseimbangan.

Tradisi Pesantren Untuk Islam Nusantara

Dari paparan tentang Islam dan Budaya di atas, bagaimana relevansinya dengan konteks tradisi pesantren untuk Islam Nusantara? jika ditinjau dari cakupan makna tradisi atau kebiasaan (Latin: traditio, “diteruskan”), bermakna sesuatu yang telah dilakukan individu dan masyarakat dalam waktu yang lama dan menjadi bagian dari kehidupan yang terus berkesinambungan.

Dalam sistem tradisi ini, sering mendapatkan legitemasi dari institusi dan lembaga masyarakat. Sumber dari tradisi masyarakat, adalah sistem kebudayaan yang mengikat masyarakat. Dalam siatem kebudayaan, juga tidak dapat berdiri sendiri, namun banyak dipengaruhi oleh agama dan kepercayaan individu yang berkembang di lingkungan masyarakat. Sebaliknya, juga banyak terjadi proses keberagamaan umat Islam, yang dipengaruhi oleh sistem kehudayaan masyarakat.

Sehubungan dengan realitas adanya relasi agama dan budaya, para walisongo hingga sampai pada gerakan Syekh Ahmad Al Mutamakkin, telah terbentuk tradisi pesantren yang berlangsung hingga sekarang. Yang menarik, banyak kiai pesantren yang berbeda beda, namun masih tetap bertahan dengan tradisinya. Tradisi pesantren tidak bertujuan untuk melakukan dekonstruksi terhadap budaya masyarakat, namun melestrikan tradisi, pengembangan kebudayaan, dan penghargaan terhadap model kearifan lokal.

Hal ini, tidak terlepas dari kemampuan para Kiai pesantren yang memilih berkembang secara cultural dan memberikan apresiasi terhadap proses akulturasi budaya untuk kemajuan Islam Nusantara. Bukankah sudah terasa hingga sekarang: manfaat Islam Nusantara bagi kemanusiaan dan NKRI!!