Sowan Kiai Ubaid

0
724
Manuskrip Kiai Muhadi yang sempat saya ambil gambarnya. [UAA]

Oleh: Ulil Abshar Abdalla

Ditemani oleh dua anak muda NU yang sangat pintar dan “intellectually imaginative”, yaitu Mas Tedi Kholiludin dan Khoirul Anwar dari eLSA Semarang, tadi malam (Minggu, 14/1), saya sowan ke Kiai Ubaidillah Sodaqah, Rois Syuriyah PWNU Jawa Tengah, dan pengasuh Pesantren Al-Itqan.

Sampai rumah beliau di Bugen, Pedurungan, Semarang, kira-kira pukul 10 malam, saya melihat Kiai Ubaid (begitu kami biasa memanggil beliau) sedang melayani dua tamu dari PKB di ruang tamu yang sangat sederhana. Mereka tampaknya sedang berdiskusi tentang perkembangan Pilkada di Jawa Tengah. Di era Pilkada begini, sudah bisa diduga, kiai-kiai karismatik sudah biasa “ketamon” tamu-tamu politis.

Begitu kami datang, arah pembicaraan langsung ganti “gigi” dan berubah total -dari yang semula “duniawi” menjadi sangat “ukhrawi”. Kami kemudian diskusi tentang banyak hal: soal tradisi pesantren, tentang bahtsul masail, tentang Kiai Soleh Darat, tentang murid Mbah Hasyim Asy’ari yang berasal dari Purwodadi, yaitu Kiai Muhadi, tentang pengembangan pengajaran usul fiqh di pesantren-pesantren NU, tentang Imam Ghazali, dan masih banyak yang lain.

Obrolan yang asyik ini berhenti kira-kira pukul 12 malam, dipungkasi dengan makan “nishful lail” (ini istilah saya sendiri) -maksudnya: makan tengah malam. Menunya sederhana tetapi lezat sekali: terong yang dicampur dengan pete dan gule kambing. Di luar, malam begitu sepi dan udara agak dingin karena hujan sejak sore, membuat makan tengah malam kami kian lezat.

Kiai Ubaid adalah salah satu kiai yang sangat asyik diajak ngobrol “ngalor-ngidul-tanpa-struktur” tentang hal-hal yang sifatnya keilmuan. Beliau adalah di antara sedikit kiai yang membaca dengan serius tentang pikiran-pikiran Ibn Arabi. Koleksinya mengenai Ibn Arabi lumayan lengkap.

Gaya hidup Kiai Ubaid juga saya anggap sebagai gaya hidup yang melawan arus, gaya hidup yang cenderung “counter culture“. Beliau hidup dengan sederhana, dengan tampilan yang juga sederhana – – kopyah yang agak sedikit aus, dan baju putih yang juga nampak lecek. Dr. Abu Hafsin, Ketua Tanfidziyah PWNU Jateng yang saya sowani sebelum saya menuju ke rumah Kiai Ubaid, punya komentar menarik tentang kiai “nyentrik” ini: “Saya hormat pada Kiai Ubaid karena tahan miskin dan hidup sederhana”.

Berada di dekat Kiai Ubaid kita merasakan aura spiritual dan intelektual yang menenangkan, karena sikap beliau yang sangat tawadlu’, andap asor sekali, tetapi sekaligus tidak “nyungkani”. Sosok beliau bukan “intimidatif”, tetapi membikin kita merasa “at home” berada di dekatnya.

Academic training” Kiai Ubaid sendiri sebetulnya adalah di bidang ilmu hukum. Dia bertitel SH dan pernah menjadi muridnya Prof. Muladi di Undip. Ketika saya mengusulkan gagasan pentingnya dialog antara fuqaha’ (ahli hukum fikih) dengan ahli hukum positif, Kiai Ubaid langsung menyambutnya dengan antusias.

Menjelang pamit pulang, Kiai Ubaid menunjukkan sebuah manuskrip berbahasa Arab yang ditulis oleh santrinya Mbah Hasyim Asy’ari, yaitu Kiai Muhadi dari Purwodadi. Menurut cerita Kiai Ubaid, Kiai Muhadi ini adalah santrinya Mbah Hasyim dan Syaikhana Kholil Bangkalan sekaligus. Konon, beliau nyantri enam tahun dengan Ra Kholil, dan sempat dengan Mbah Hasyim. Kiai Muhadi adalah, menurut cerita Kiai Ubaid, Rois Syuriyah PWNU pertama di Jawa Tengah atas mandat langsung dari Mbah Hasyim.

Yang menarik, Kiai Muhadi ini menulis beberapa kitab dalam bahasa Arab yang belum pernah terbit sama sekali. Salah satunya adalah manuskrip kitab tasawwuf yang ditunjukkan oleh Kiai Ubaid tadi. Saya langsung tak sabar mengambil gambar manuskrip itu.

Saya merasa beruntung dan merasakan “berkah” karena bisa melihat dan memegang manuskrip yang ditulis oleh santri langsung Mbah Hasyim, kakek Gus Dur itu. Saya percaya bahwa berkah ilmu bisa “dialirkan” secara spiritual melalui obyek-obyek material yang “karismatik” seperti manuskrip. Mengingatkan pengalaman waktu saya diajak oleh profesor saya di Harvard University dulu untuk berkenalan dengan ribuan manuskrip kuno di Widener Library di Univ. Harvard.

Sedikit keterangan tentang manuskrip ini: Manuskrip ini ditulis di atas buku tulis bersampul biru, dengan khat yang mendekati khat naskhi yang lumayan jelas dan berharakat. Beberapa bagian dalam manuskrip ini terkena air, menyebabkan tintanya “mblobor“, kabur. Halaman pertama hilang sehingga kita tak mendapatkan keterangan tentang informasi elementer mengenai manuskrip ini. Halaman judul masih ada tetapi tak mencantumkan sama sekali judul buku. Bagian akhir memuat kolofon yang cukup membantu: kapan manuskrip ini mulai ditulis dan kapan selesai. Kita tak tahu apakah ini karya asli atau ringkasan dari kitab-kitab tasawwuf lain.

Sayang sekali, dengan kealimannya ini Kiai Muhadi beserta karyanya jarang dikenal oleh kalangan NU.

Tengah malam saya balik ke tengah kota Semarang, di antar oleh Mas Tedi dan Khoirul Anwar, dengan mobilnya yang sangat kelihatan sebagai mobil aktivis (tandanya: kotor dan kurang terawat), sambil “mbatin” dalam hati: how blessed my night was, betapa berkahnya malam kami itu.