Mengamalkan Nilai-nilai Ajaran Islam

0
2040
Sumber Ilustrasi: knowyourmeme.com

Oleh: M. Yusuf Al Faruq

اَلْحَمْدُ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَهْدِيْهِ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَ نَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَّلَكُمْ تُفْلِحُوْنَ، قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْأَنِ الْكَرِيْمِ: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بسم الله الرحمن الرحيم: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا الله وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ الله وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا. وَقَالَ تَعَالَى أيْضًا: يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Ma’asyiral muslimin hadirin jama’ah jum’ah rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah SWT. Jalankan semua perintah-Nya, jauhi segala larangan-Nya. Dan jangan sekali-kali kita meninggalkan dunia ini kecuali sebagai seorang muslim dan dalam keadaan husnul khatimah.

Ma’asyiral muslimin hadirin jama’ah jum’ah rahimakumullah,

Suatu ketika Syaikh Muhammad Abduh, salah seorang ulama besar Mesir pada abad ke-19, geram dan geregetan terhadap dunia barat yang menganggap bahwa Islam adalah agama yang kuno dan terbelakang. Kepada seorang filsuf Perancis yang bernama Renan, dengan tegas Syaikh Muhammad Abduh menjawab bahwa Islam adalah agama yang hebat, cinta ilmu, dan mendorong kemajuan. Dan sederet kehebatan-kehebatan yang lain. Mendengar penjelasan Syaikh Muhammad Abduh, Renan menjawab dengan enteng; “Saya tahu dan paham betul akan kehebatan ajaran-ajaran al-Qur’an seperti yang tercantum dalam al-Qur’an. Tapi tolong tunjukkan satu saja komunitas muslim atau negara Islam yang bisa mencerminkan ajaran-ajaran Islam”. Syaikh Muhammad Abduh pun terdiam lantaran tidak mampu menjawab.

Beberapa tahun yang lalu tepatnya pada November 2013, Hossein Askari, seorang profesor dari George Washington University, Amerika Serikat, merumuskan nilai-nilai islami yang ada di dalam al-Qur’an. Hasilnya ditemukan lebih dari 100 nilai-nilai kebaikan yang diajarkan oleh agama Islam, mulai dari jujur, ikhlas, kerja keras, dispilin, tertib, bersih, aman, amanah, toleran, saling menolong, saling menghargai, dan lebih dari 100 ajaran yang lain yang bersifat universal, yang artinya bisa diamalkan oleh siapapun apapun agamanya. Dari kriteria tersebut, Askari membuat peringkat negara paling islami sedunia. Hasilnya mengejutkan, dari 30 besar urutan yang ia tuliskan tidak disebutkan satupun negara yang penduduk muslimnya mayoritas. Malaysia urutan ke-33, Kuwait ke-42, Arab Saudi ke-91, Indonesia sendiri berada di urutan ke-140.

Ma’asyiral muslimin hadirin jama’ah jum’ah rahimakumullah,

Pada kesempatan lain, ketika berkunjung ke Perancis Syaikh Muhammad Abduh berkata; “Aku tidak menemukan orang Islam di sini, namun aku lihat ajaran-ajaran Islam dipraktikkan dengan begitu indahnya. Sedangkan di Mesir, aku bertemu dengan banyak muslim, tapi aku tidak merasakan ajaran-ajaran Islam”. Ungkapan ini merupakan cerminan keheranan Syaikh Muhammad Abduh, dan mungkin juga keheranan kita, mengingat Perancis adalah negara yang mayoritas penduduknya non muslim, namun mereka justru mempraktekkan dan mengamalkan apa yang menjadi ajaran-ajaran Islam. Begitu jujur pemerintahannya, begitu tertib lingkungannya, begitu bersih sungai-sungainya, dan sederet keistimewaan lainnya.

Hal yang sama dirasakan oleh Prof. Afif Muhammad, seorang cendekiawan muslim sekaligus guru besar di UIN Sunan Gunung Djati Bandung, ketika berada di negara Kanada. Kanada ini menurut sebuah penelitian yang dilakukan Hossein Askari tadi termasuk 10 besar negara paling islami sedunia. Prof. Afif Muhammad heran saat tinggal di sebuah kota di Kanada, beliau melihat tidak ada rumah yang dikunci ketika ditinggal pergi oleh pemiliknya. Lalu beliau bertanya pada warga setempat, “Mengapa pintu rumahnya tidak dikunci saat ditinggal pergi?”.

Pertanyaan ini pun oleh warga tersebut justru dijawab dengan pertanyaan, “Mengapa harus dikunci?”. MasyaAllah, saking amannya kondisi lingkungan di sana.

Hal berbeda justru terjadi di negara kita. Tangan-tangan jahil sudah tersebar di mana-mana. Pintu-pintu yang terkunci justru dicongkel. Motor terparkir rapi di kampus bisa dicuri dengan gampangnya. Laptop yang disimpan baik-baik di kamar takmir masjid atau mushola bisa menghilang sekejap saat shalat jama’ah berlangsung. Bahkan sendal jepit yang dipakai ke masjid pun terkadang bisa hilang ikut dicuri. Na’udzubillah. Masih banyak masyarakat kita yang mengaku Islam, tapi perilakunya sama sekali tidak islami.

Ma’asyiral muslimin hadirin jama’ah jum’ah rahimakumullah,

Kita tahu bahwa kata “iman”, itu seakar kata dengan “aman”. Artinya, seharusnya ketika kita hidup di lingkungan orang yang beriman kita merasa aman. Tetapi penduduk Kanada merasa aman meskipun tinggal di lingkungan orang yang bisa jadi tidak beriman. Sementara kita di sini, seringkali tidak merasa aman walaupun tinggal di lingkungan orang yang beriman. Ini berarti kita sedang menyaksikan degradasi moral, fenomena di mana akhlak mulia sudah menjadi barang langka.

Orang Islam itu dilihat dari akhlaknya. Di dalam hadis nabi tidak ada keterangan yang menjelaskan bahwa muslim yang baik itulah dia yang khusyuk shalatnya, atau yang paling bagus puasanya, yang paling mabrur hajinya, tidak ada keterangan seperti itu. Yang ada untuk menilai kualitas seorang muslim adalah aspek akhlaknya. Misalnya dhawuh nabi, “Khairun naas anfa’uhum linnaas” (Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat terhadap orang lain). Atau dhawuh beliau, “man kaana yu’minu billahi wal yaumi akhiri fal yashil rahimah, fal yukrim dhaifah, fal yaqul khairan au liyashmut” (Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah menyambung tali silaturrahim, baik dengan tetangga, memuliakan tamu, dan berkatalah baik. Kalau tidak bisa berkata baik minimal diam dan tidak menimbulkan kegaduhan). Inilah yang menjadi ukuran.

Ma’asyiral muslimin hadirin jama’ah jum’ah rahimakumullah,

Umat Islam adalah umat terbaik.  Allah SWT. Berfirman dalam QS. Ali Imran: 110

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ (١١٠)

(Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik)

Inilah 3 ciri umat terbaik. Karena itu kita harus berusaha ketika ber-amar ma’ruf, caranya harus ma’ruf. Bahkan saat nahi munkar caranya pun harus ma’ruf. Bukan nahi munkar dengan cara yang munkar pula. Banyak mungkin dari kita yang sudah amar ma’ruf, tetapi belum bisa meninggalkan kemungkaran. Banyak orang yang shalat tapi masih suka korupsi dan ngapusi, banyak yang puasa tapi masih suka menyakiti saudara, menyakiti tetangga, banyak yang sudah berkali-kali pergi haji dan umroh, tapi pelitnya masyaAllah. Ini namanya nyamar ma’ruf nyambi munkar. Berbuat baik iya, perbuatan yang tidak baik juga tetap dikerjakan. Maka kejayaan seorang muslim sesungguhnya terletak pada akhlaknya.

Terakhir, Syaikh Basyuni Imran, Mufti Kesultanan Sambas, pernah mengirim surat kepada gurunya, Syaikh Muhammad Rasyid Ridha, murid Syaikh Muhammad Abduh sekaligus penulis kitab Tafsir al-Manar. Isi suratnya, “Limadza taakhkharal muslimun, wa taqaddama ghairuhum?” (Mengapa orang Islam semakin tertinggal sedangkan umat lain mengalami kemajuan?), Syaikh Muhammad Rasyid Ridha pun menjawab dengan panjang lebar yang intinya umat Islam semakin tertinggal karena meninggalkan dan tidak menjunjung tinggi nilai-nilai ajaran Islam. Meninggalkan kejujuran, keikhlasan, keadilan, kebersihan, dan sederet nilai-nilai yang lain.

Karena itu melalui khutbah singkat ini, khatib mengajak khususnya pada diri khatib sendiri dan jama’ah sekalian umumnya, mari kita raih kejayaan Islam dengan cara berusaha menjadi seorang muslim yang islami. Muslim yang benar-benar mengamalkan nilai-nilai ajaran Islam sepenuh hati. Udkhulu fissilmi kaffah (Jadilah seorang muslim yang sempurna).

بارك الله لي ولكم فى القران العظيم … إلخ

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

 

أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيْنَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ