Manusia Tak Pernah Ada di Zona Nyaman

0
1060

Oleh: Ulil Abshar Abdalla

Salah satu bahaya yang mengancam manusia, atau dunia batin manusia tepatnya adalah apa yang disebut waswas. Ciri dari pengetahuan yang datang dari Allah itu, pengetahuan tersebut mendatangkan keyakinan. Sementara yang bukan itu mendatangkan kebingungan. Kebingungan itulah yang kemudian mendatangkan waswas. Itu adalah situasi kebatinan yang tidak ada rasa aman, tentram dan yakin.

Selama manusia itu hidup, maka ia selalu dalam situasi yang terus diancam oleh waswas. Karena menurut nabi, setiap manusia ditongkrongi oleh kekuatan jahat. Dan sahabat pernah bertanya pada nabi, dan nabi pun mengatakan iya. Bahwa dalam diri nabi ada setan, bedanya setan dalam diri nabi itu sudah didomestikasi sehingga ia tidak lagi bisa mengganggu nabi. Tetapi intinya, tidak ada seorang pun yang boleh merasa aman dari kemungkinan situasi kebingungan. Jangan sampai manusia merasa dirinya paling suci.

Benar bahwa manusia itu akan terus digoda oleh setan selama ia hidup. Tetapi kadang-kadang sesorang menjadi kuat sehingga tidak tunduk pada setan dan bisa menangkal kejahatan dengan cara melawan. Ada orang yang punya kekuatan spiritual dan mungkin juga intelektual yang membuat dia tahan terhadap godaan setan. Tetapi, dia tidak bisa bebas dan mampu berdiri sendiri dari jihad. Meskipun manusia memiliki kekuatan spiritual untuk melawan setan, tapi ia butuh melakukan perlawanan (jihad) selama darah mengalir dalam tubuhnya.

Maka, selama hamba itu hidup, pintu-pintu setan terbuka terhadap kalbu manusia. Selama manusia itu hidup, ada kemungkinan ia dimasuki setan.

Esensi dari ajaran al-Ghazali dalam Kitab Ihya Ulumuddin ini sederhana, tapi penting. Bahwa tidak boleh seorang mukmin merasa ada dalam comfort zone, daerah nyaman. Tidak boleh seorang yang beriman hanya karena ia misalnya rajin beribadah, penuh dengan simbol keagamaan, kemudian merasa aman dari godaan setan. Ini adalah salah satu ajaran penting dalam dunia tasawuf yang juga penting untuk dunia kita sekarang dimana simbol agama digunakan untuk politik.

Ajaran tasawuf itu agak mirip dengan filsafat kritis. Kalau filsafat kritis itu biasanya objek kritiknya ke luar; sistem, ideologi, struktur. Tetapi tasawuf, kritiknya ke dalam. Sama-sama kritis. Atau dalam bahasa beragama itu muhasabah. Dan cara al-Ghazali membangun diskursusnya itu menarik. Semua orang itu ditongkrongi setan. Ada kekuatan jahat yang selalu menunggu orang itu lengah, kepleset. Disebut kepleset karena sifatnya momentary, sesaat saja. Setan itu biasanya masuk dalam ruang jiwa manusia saat ia lengah. Pada saat manusia itu tidak eling lan waspada.

Jadi setan itu tidak pernah menggoda manusia dalam situasi sadar. Pada saat manusia sadar, setan mundur. Dalam istilah al-Quran, al-khannas. Inilah watak setan, ketika manusia lengah, dia masuk tapi saat sadar setan itu mundur. Setan menggoda manusia bukan dengan mengajak manusia melakukan kejahatan langsung. Setan menggoda manusia dengan cara talbis, membuat sesuatu yang sebetulnya jahat, tampak baik atau  disimulasi. Sesuatu yang sebetulnya kotor, tapi diberi bungkus yang bagus sehingga tampak menjadi baik. Itu yang dalam dunia kapitalisme modern, menjadi suguhan sehari-hari. Kita hidup dalam citraan-citraan yang sesungguhnya buruk, tapi terlihat baik. Kita hidup di era talbis, era dimana setan menggoda manusia tidak dengan cara yang wajar.

Inti ajaran kebatinan Islam yang disebut dengan tasawuf adalah dia kritik, tetapi ke dalam. Sementara kalau ilmu-ilmu sosial modern, kritiknya ke luar.