KH. A. Tamamuddin Munji: Jangan Mempersulit Belajar “Utawi Iki Iku” (bagian 01)

0
914
Sumber Foto: shivaul.com

Oleh: Ubaidillah Achmad (Ubaidillah Achmad, penulis Buku Suluk Kiai Cebolek dan Islam Geger Kendeng, khadim PP. Bait As Syuffah An Nahdliyah)

Dari tradisi pesantren, telah melahirkan banyak ulama yang gigih mempertahankan prinsip keutamaan ulama abad pertengan dan kearifan budaya masyarakat lokal, Jawa. Selain laku tirakat sudah menjadi tradisi bagi masyarakat pesantren, juga terdapat model pembelajaran secara tekstual, yang hingga sekarang masih bertahan dan efektif untuk pendalaman karya abad pertengahan. Model pembelajaran ini, disebut dengan model terjemah “utawi iki iku”. Model ini difokuskan pada model kajian kitab yang umumnya berwarna kuning, yang tidak berharakat dan berisi karya Ulama abad pertengahan.

Model terjemah ini disebut sebagai makna gandul (hanging translation method). Ada yang menyebut metode makna gandul ini disebut sebagai metode “At-Tarjamah Al-Wazhifiyyah Al-Mu’jamiyyah Al-Mu’allaqoh”. Meski demikian, metode ini memiliki kelebihan dan kekurangan yang akan kembali pada karakter kecenderungan pemahaman para santri belajar kajian teks karya Ulama abad pertengahan.

Metode ini tidak bisa diklaim oleh salah seorang saja, karena sudah masyhur dikalangan santri dan akademisi lulusan pesantren di beberapa wilayah nusantara, seperti: Jawa Sunda, Madura, dan Melayu secara umum. Hal yang sama, juga tidak bisa diakui sebagai cara mudah temuan penelitian seseorang yang bisa mengklaim telah menemukan cara mudah pembacaan kitab kuning. Ada beberapa anggapan yang masih memerlukan penelitian lebih lanjut, yaitu anggapan yang mengatakan, bahwa pencipta metode yang menggunakan bahasa lokal ini, adalah Syaikh Sholeh Darat). Ada yang menyebut metode ini, sudah berkembang sejak abad 16 M.

Belajar “Utawi Iki Iku”

Sejak lulus MTs, penulis sempat tidak berminat belajar kitab kuning. Hal ini bertentangan dengan kondisi lingkungan penulis sendiri, yang serat kajian kitab karya Ulama abad pertengahan. Bermula dari upaya Kiai Tamam memasukkan saya “tabarrukan” di pesantren KH, A, Syahid Kemadu, akhirnya berlangsung hingga 5 bulan. Setelah 5 bulan, Kiai Syahid mendukung penulis melanjutkan di Kajen, namun beliau pesan sebaiknya sebelum melanjutkan sekolah belajar terlebih dahulu dengan Abah sendiri, Kiai Tamam.

Singkat cerita, dalam kesempatan ini, Kiai Tamam menekankan kepada penulis untuk menyimak pembacaan ringkasan teks pembahasan ilmu kalam, fiqh, dan tasawuf. Dalam bidang Ilmu kalam, penulis menyimak dan belajar kitab Aqidah Al Awwam, yang menjelaskan aqa-id 50. Dalam bidang fiqh, belajar menggunakan kitab fathul qarib.

Sedangkan, dalam bidang tasawuf menggunakan kitab Ta’lim Muta’alim (karya Imam Zarnuji) dan kitab Al adab Fiddin (karya Al Ghazali). Kesemua metode pembacaan dan kajian teks ini menjadi ringkasan bangunan ilmu di pesantren, dengan menggunakan sistem sorogan (model santri membaca dan Kiai membenarkan), yang langsung dipandu Kiai Tamam.

Selain menyimak kajian tekstual kitab pemula di atas, penulis berlanjut dengan kajian kitan kuning yang lebih serius, seperti fathul mu’in, asbah wanadza-ir, Tahrir, jam’ul jawami’, dan lain lain, Beberapa kitab yang terhitung berat dan rumit ini, sangat membutuhkan kajian serius, yang telah penulis baca dihadapan Kiai Tamam.

Adapun, metode yang menggunakan model membaca cepat tanpa makna gandul ini, telah Kiai Tamam gunakan untuk menambahkan pemahaman terhadap isi kitab dan untuk memperbaiki cara pemahaman dan pengungkapan cakupan makna kitab. Meski demikian, jika ada beberapa kesalahan beliau sangat tegas dan serius menegur penulis.

Metode “Utawi Iki Iku”

Berikut ini, akan penulis sampaikan beberapa hal yang pokok yang harus dipahami dalam belajar khazanah at turast dengan metode “Utawi Iki Iku”. Meski metode ini masyhur di kalangan pesantren NU, namun akan penulis sertakan yang khas dengan metode ini dari kenangan belajar bersama Kiai Tamam. Sekarang ini, metode ini akan diterapkan di PP. Bait As Syuffah An Nahdliyah Njumput-Sidorejo Pamotan Rembang, yang secara langsung menjadi kawasan khidmah penulis kepada para Santri.

Sebelum membaca kitab at turast, kitab kuning, Kiai Tamam selalu menganjurkan memahami enam hal: pertama, klasifikasi bidang keilmuan (kalam, fiqh, dan tasasuf), karena ini akan mempengaruhi pemaknaan istilah yang harus disesuaikan dengan maksud kata terkait dengan bidangnya. Artinya, meski tidak selalu terjadi, pada penggunaan kata akan berbeda makna sesuai dengan bidang keilmaun. Kedua, perlu “titen” atau mengidentifikasi karakter kata dan gramatikanya.

Dengan demikian, saat bertemu bacaan pada kalimat yang berbeda dengan sebelumnya, akan mudah membacanya karena sudah tidak asing. Ketiga, Sebaiknya santri membaca dari kata ke kata sampai melewati beberapa kalimat yang akan dibacanya sambil menghadirkan horizon untuk mencakup maksud teks. Keempat, setiap membaca, sebaiknya santri selalu memperhatikan susunan kalimat, yang ismiyah dan fikliyah serta memperhatikan Subjek, Predekat, Objek, dan kata keterangan. Kelima, perlu memahami mufradat dan cakupan makna teks, baik yang tersurat maupun yang tersirat. Keenam, lakukan pemaknaan kitab sampai selesai (khatam), sehingga memahami pembahasan kajian teks dengan tuntas.

Sesudah memahami enam hal di atas, perlu secara spesifik, para santri memahami kekhasan model terjemahan “utawi iki iku” yang sudah berlangsung lama di lingkungan tradisi pesantren. Secara teoritis, utawi iki iku, adalah metode terjemah dengan teknik menggunakan bahasa Jawa bagi pesantren jawa, yang tidak hanya mengartikan bahasa Arab, namun mengartikan nahwu dan shorof pada teks kitab yang dibaca.

Metode makna “utawi iki iku”, di bawah kata berbahasa arab dibuat secara menggantung dan miring dengan arab pegon, sehingga dikenal dengan makna gundul menggantung. Adapun makna yang ditekankan dalam perspektif Utawi Iki Iku, berupa
makna leksikal (ma’nan mu’jami), makna fungsional (ma’nan wazhifi), dan makna tafsir lafaz-lafaz, yang sering menggunakan istilah “tegesi”. Dalam metode ini, selain mempelajari arti perkata dan mengkaji cakupan makna melalui penafsiran Kiai, juga sekaligus memahami sintaksis/nahwu/i’rob dan konsepsi morfologis. Secara rinci dan spesifik tentang model bacaan kitab kuning, dapat dibaca pada bagian dua (02).