KH. A. Tamamuddin Munji: Hati Altar Cahaya Ilmu Pengetahuan

0
615
Sumber Foto: shivaul.com

Oleh: Ubaidillah Achmad (Penulis Buku Suluk Cebolek dan Islam Geger Kendeng, sekarang ini berkhidmah di PP. Bait As Syuffah An Nahdliyah)

Kiai Tamam telah memenuhi panggilan Allah, pada tanggal 29 Maret 2017. Artinya, dua bulan lagi para santri dan masyarakat akan mengulang hari wafat beliau menutup pendampingan pada majlis Thariqah Naqsyabandiyah Khalidiyah, kajian kitab kuning, pengajian selapanan, dan Organisasi NU dan Thariqah.

Panggilan Allah merupakan siklus kebahagiaan, yaitu semua manusia dari ciptaan Allah, selalu bersama Allah dan akan kembali kepada Allah. Berbeda dengan kepergian Kiai Tamam, para santri dan masyarakat, kembali diingatkan pada kenangan bersama sosok Kiai Tamam. Sebelum wafat, Kiai Tamam bisa menjadi teman, orang tua, dan guru sufi bagi masyarakat. Karenanya, sudah hampir satu tahun, seperti baru kemarin sejak 29 Maret 1017, Mbah Tamam sudah tidak bersama santri dan masyarakat.

Dalam bulan terakhir ini, banyak santri dan masyarakat menanyakan kepada penulis, kapan haul Kiai Tamam dan kisah kisah yang belum mereka dengar tentang Kiai Tamam. Di tengah pertanyaan ini, berkembang diskusi yang berlangsung antara penulis, santri As Syuffah, dan masyarakat.

Berikut ini, catatan penulis yang bisa penulis bagikan kepada pembaca, sisi lain yang menarik dari kekhasan beliau, yang mengemuka di tengah diskusi sederhana, yang dapat menjadi model keberagamaan bagi santri dan warga NU.

Masyarakat Transisional Versus Kapitalis

Dalam masyarakat transisional, telah banyak mengalami kesedihan dan beban psikis para penduduk desa, karena gerak industrialisasi yang diciptakan kaum kapitalis, telah mengancam ketenangan hidup petani, masyarakat, nilai luhur budaya dan agama. Fenamena ini, dalam teori psikososiologis disebut sebagai masyarakat transisional, yaitu kondisi masyarakat dari masyarakat desa yang penuh dengan nuansa tradisi menuju masyarakat kota yang ditandai demgan kekuasaan kapitalisme.

Kaum kapitalis percaya, bahwa ilmu pengetahuan yang dibangun atas fundasi akal, pengalaman, temuan ilmiah yang masih terus saling terkait, dan kesesuaian antara fakta dan realitas, kesemuanya mudah direduksi untuk kepentingan permodalan. Sikap kaum kapitalis ini, sudah tidak lagi memperdulikan kemanusiaan, kelangsungan kesalingterkaitan antara unsur kesemestaan, dan keseimbangan relasi suci (Allah, manusia, dan alam).

Persoalan yang menyedihkan, sering kali eksekusi sistem permodalan kaum kapital ini, selalu mendapatkan dukungan dari penguasa dan kelompok kepentingan, politisi dan kehendak kuasa. Kerjasama mereka ini, sering mengabaikan kemanusiaan dan kesemestaan untuk memenuhi keuntungan pribadi (hedonistik-pragmatik).

Sehubungan dengan fenomena perkembangan ilmu pengetahuan yang telah direduksi oleh kaum kapitalis dan mereka yang mendukungnya, telah membuat masyarakat yang masih sadar arti kemanusiaan, untuk tidak percaya lagi post-industri dan narasi-narasi besar yang melegitimasi kaum kapitalis. Kondisi memudarnya kepercayaan masyarakat terhadap perkembangan teknologi dan ekspansi kapitalisme, karena muncul benih-benih keputusan yang mengancam kemanusiaan dan lingkungan hidup dalam grand narratives abad ke-19 .

Yang mengherankan, sekarang ini muncul banyak sikap dan kepentingan yang merusak relasi suci kosmologi, namun mengapa para ilmuwan tidak mau tahu terhadap problem legitimasi yang mengancam fungsi ilmu pengetahuan bagi ljngkungan hidup. Tentu saja, pertanyaan ini bisa dijawab dari berbagai pendekatan dan perspektif teoritik, namun secara singkat penulis akan menjawab dengan perspektif sufistik KH. A. Tamamuddin Munji.

Sisi Gelap Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi

Berbicara tentang perkembangan ilmu pengatahuan, secara bersamaan justru telah lahir modus spekulasi para penguasa dan kaum kapital serta agamawan, yang menjadikan ilmu pengetahuan sebagai kedok kehendak kuasa di tengah masyarakat. Ada beberapa masyarakat yang memahami hal ini, namun banyak yang “cuek”, bahkan mendukung bahaya kapitalisme. Kapitalisme yang lahir dari materialisme ini, sesungguhnya telah di tentang oleh para Nabi Pembebas sejak Nabi Adam hingga Nabi Muhammad.

Kaum kapital belum menganggap sebagai pengetahuan sebelum ia melegitimasi pengetahuannya itu. Karakter buruk ini sering dikritik oleh para aktivis kajian filsafat, yang menegaskan, bahwa pengetahuan hanya pantas disebut sebagai pengetahuan jika berfungsi melegitimasi keinginan kaum kapitalis. Anggapan ini merupakan bentuk pengandaian buruk kaum kapitalis, karena mengabaikan pengandaian proses penyebaban (the Life of spirit) yang benar dan dapat dipertanggung jawabkan dengan penuh kejujuran dan komitmen pada kebenaran. Dengan demikian, dalam perkembangan ilmu pengetahuan tidak terjadi erosi internal dalam prinsip legitimasi ilmu pengetahuan

Sebenarnya, terjadinya erosi internal dalam prinsip legitimasi ilmu pengetahuan tidak hanya terjadi pada masyarakat transisional, namun juga terjadi pada gerakan kesetaraan hak antara laki laki dan perempuan (emansipasi) dan gerakan kebebasan intelektual (liberalisme) yang direduksi melalui kebutuhan pasar.

Dalam konteks narasi emansipasi dan liberalisme, selalu seolah olah telah mendapatkan legitimasi ilmu pengetahuan dan kebenaran otonomi individu yang terlibat dalam praksis etis, sosial, dan politis. Yang terjadi, justru sebaliknya, ilmu pengetahuan tidak dapat melegitimasi dirinya sendiri, karena kalah dengan narasi modernisme. Meskipun demikian, sisi yang lain, dari bahaya modernisme, yaitu realitas modernisme yang menyisakan nestapa manusia modern dan kerusakan lingkungan hidup.

Hal ini menunjukkan adanya peristiwa sejarah manusia modern yang justru menggagalkan proyek rasionalitas modernitas dan menggagalkan pengetahuan yang harus dihasilkan demi pengetahuan itu sendiri. Ilmu Pengetahuan dihasilkan tidak demi pengetahuan melainkan demi profit. Jika ilmu pengetahuan mengacu pada kriterium profit, maka akan berlaku hukum perfomatif: maximum output with a minimum input. Semua diukur dengan pasar dan keuntungan.

Proyek emansipasi dan liberalisme telah kandas pada peristiwa krisis ekonomi tahun 1911 dan 1929 dan krisis tahun 1974-1979. Pendek kata semua kisah besar modern telah kehilangan kredibilitasnya di mata masyarakat, karena para ilmuwannya telah mengalami kebingungan di tengah perkembangan teknologi. Alih alih gagal menyelamatkan ilmu pengetahuan dari tikaman kapitalisme, para ilmuwan yang berlindung di balik perkembangan teknologi, juga tidak kuasa mengisi makna teknologi bagi kemanusiaan.

Hati, Altar Cahaya Ilmu Pengetahuan

Dari kajian di atas, bukan berarti menunjukkan bahwa Islam membenci permodalan (kapital) dan “menganak-emaskan” pekerja, seperti barter, petani, buruh, dan tata nilai masyarakat kuno. Keduanya (pemodal dan pekerja) sama sama saling memiliki hak kehidupan yang manusiawi dan tidak seharusnya merendahkan satu sama yang lain.

Dalam teka ajaran Islam, yang dilarang, adalah bersikap “sok berkuasa” dalam sistem kehidupan. Contoh sikap yang dilarang, sikap curang dan merusak ilmu pengetahuan untuk legitimasi kehendak dan logika kaum pemodal. Sementara pekerja harus menanggung kesedihan bersma petani, buruh, dan masyarakat minim permodalan.

Reduksi kaum kapitalis berpasangan dengan penguasa terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sebenarnya hanya untuk memenuhi kepentingan sendiri dan bentuk kecurangan memenuhi kehidupan berbudaya dan beragama. Yang mengherankan, sikap beberapa kapital yang tidak ramah terhadap lingkungan ini, telah mendapatkan dukungan dari beberapa ilmuwan.

Sehubungan dengan fenomena penyimpangan makna terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi, adalah fenomena yang tidak dapat dilepaskan dari model penyimpangan karakter para intelektual dan ilmuwan. Kondisi yang demikian ini tidak terlepas dari suasana hati setiap para pakar di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebagaimana yang pernah disampaikan Kiai Tamam, jika hati tidak dapat menyinari kemampuan akademik seseorang, maka sulit bagi seseorang mampu menjaga komitmen pada prinsip keutamaan dan kebanaran serta menjaga kemanusiaan dan peradaban.

Dalam pesan Kiai Tamam ditegaskan, bahwa hati merupakan altar cahaya ilmu pengetahuan, maka untuk membuka rahasia ilmu pengetahuan dan teknologi harus dengan cahaya hati.

Dengan cahaya hati, setiap individu akan membaca ilmu pengetahuan dan teknologi dengan cara yang benar, misalnya, membaca kebesaran-keagungan Allah, prinsip kebenaran manusiawi melalui ilmu pengetahuan. Sebagai altar ilmu pengetahuan dan teknologi, cahaya hati akan dapat membaca kesatuan ilmu pengetahuan dengan sumber ilmu pengetahuan, yaitu Allah Jalla Jalaluhu dan prinsip kebenaran universal.

Dalam pendangan Kiai Tamam mengutip pandangan Imam Ghazzali di kitab Al Munqidl min Ad Dlalal, bahwa cahaya itu akan bersinar, namun harus diawali dengan disinari cahaya ilahiyah melalui cahaya kenabian yang telah dipancarkan para pewaris tradisi kenabian. Para pewaris tradisi kenabian ini, yang dikenal dengan sebutan Ulama.

Jadi, meskipun hati merupakan altar cahaya ilmu pengetahuan dan teknologi, ia tidak akan dapat berpotensi tanpa cahaya kenabian. Hal yang sama, pengetahuan dan teknologi tidak akan mampu membaca hakikat pengetahuan dan hakikat hidup tanpa membuka cahaya hati yang tersinari oleh cahaya kenabian. Karenanya, menurut Kiai Tamam, setiap manusia harus berupaya memohon petunjuk Allah dan berupaya beramal baik, sehingga terasa cahaya kenabian, cahaya hati, dan cahaya kebenaran ilmiah dan teknologi.