KH. A. Syahid: Ramuan Sufistik Untuk Kesehatan Jiwa Manusia

0
651
Sumber Foto: shivaul.com

Oleh: Ubaidillah Achmad (Dosen UIN Walisongo Semarang dan Khadim PP. Bait As Syuffah An Nahdliyyah Sidorejo Pamotan Rembang)

Dalam perjalanan hidup umat manusia, banyak yang melupakan makna kehadiran Nabi Adam versus keberadaan Iblis yang sebelumnya menjadi penduduk yang disegani di Sorga. Iblis disegani karena kecerdasan dan kewibawaannya di antara penduduk Sorga. Hal ini yang membuat Iblis merasakan sebagai makhluk unggul dan mulia di antara makhluk Allah. Iblis sadar betul, sang pencipta agung seluruh alam semesta dan molikul terkecil di dalamnya, adalah Allah Jalla Jalaluhu. Karenanya, Iblis juga dapat dikatagorikan sebagai makhluk Allah Jalla Jalaluhu yang bertauhid.

Sikap bertauhid Iblis sangat teguh, namun berani membantah perintah Allah sendiri, ketika Allah memerintahkan kepada Iblis untuk menghormati Nabi Adam. Perintah Allah Jalla Jalaluhu ini di tolak oleh Iblis, karena Iblis hanya ingin hormat dan tunduk kepada Allah Jalla Jalaluhu secara langsung. Di tengah murka Allah kepada Iblis pun, masih membuat sikap percaya Iblis kepada Allah Jalla Jalaluhu. Sebaliknya, Allah juga memberikan kesempatan atas kepercayaan Iblis ini dengan mengabulkan permohonan Iblis.

Bukti terkabulkannya doa Iblis, yaitu adanya kesempatan Iblis untuk bisa melakukan dua hal: pertama, bisa menikmati hidup hingga hari qiyamah. Kedua, mendapatkan kesempatan bisa menggoda anak cucu Adam hingga hari qiyamah. Meskipun demikian, Allah Jalla Jalaluhu tetap menjaga Nabi Adam dan anak cucunya yang tetap teguh menjaga relasi suci ketauhidan manusia yang berdampak pada sikap baik kepada umat manusia dan lingkungan hidup.

Bagaimana Allah menjaga anak cucu Adam supaya tidak tergoda oleh Iblis? Dari pertanyaan ini, kiranya penting untuk menyampaikan jawaban KH. A. Syahid yang bersumber dari teks kewahyuan dan jejak risalah kenabian. Yang menarik, jawaban dari Mbah Syahid ini tercermin dari suluk beliau, yaitu sebagai sosok yang berbudi luhur dan berkpribadian santun kepada setiap individu dan masyarakat, baik dari latar belakang agama dan budaya yang sama maupun yang berbeda. Berikut ramuan sufistik Mbah Syahid:

Ramuan Sufistik KH. A. Syahid

Dalam pesan singkat Mbah Syahid di tengah pembacaan kitab Minhajul Abidin menegaskan, seharusnya manusia percaya penuh kepada Allah Jalla Jalaluhu dan jangan mengabaikan kebenaran yang bersumber dari Allah Jalla Jalaluhu. Jangan sampai kehadiran manusia meniru pola Iblis, yaitu percaya kepada Allah, namun mengabaikan perintah Allah. Jika manusia mengabaikan perintah Allah, maka kehadiran manusia akan mudah menjadi objek tipu daya Iblis. Dalam kondisi yang seperti ini, manusia akan terjerumus pada fatamorgana kehidupan dan jatuh pada lembah kehinaan, bahkan lebih hina dari hewan.

Jadi, hidup di dunia, yang pertama harus membangun kekuatan sikap bertauhid dan menghadirkan Allah Jalla Jalaluhu. Selain itu, juga harus meneguhkan pandangan dan perbuatan sesuai dengan prinsip keutamaan dan kemuliaan yang disampaikan oleh para utusan Allah Jalla Jalaluhu. Mengapa harus mengikuti petunjuk para Nabi, karena kebenaran risalah kenabian seluruhnya bersumber dari Allah Jalla Jalaluhu.

Salah satu contoh prinsip kenabian yang mengajarkan keutamaan hidup, adalah membentuk sikap keseteraan antara sesama umat manusia dan menghargai mereka yang berilmu dan berakhlak terpuji (mahmudah). Sifat dan sikap terpuji seseorang itu, telah mewarisi sifat dan sika para Nabi pembebas dan pencerah. Mereka yang memiliki sifat dan sikap terpuji, adalah mereka yang membebaskan dan mencerahkan umat manusia. Jadi, ingatlah, dalam “pesan Mbah Syahid”, bahwa Hidup tidak untuk membesarkan diri sendiri dan menguatkan hegimoni diri sendiri.

Sebagaimana ditegaskan oleh Mbah Syahid, mengutip Hikam, bahwa ketika manusia merasa lebih dari yang lain, maka bersamaan dengan apa yang dirasakan ini, Allah akan menurunkan derajat seseorang yang merasakan lebih itu di bawah mereka yang dianggap rendah dibawahnya. Sifat dan sikap ini sering disebut dengan bentuk kesombongan.

Kutipan Mbah Syahid di atas, juga mengingatkan penulis dari sari pemahaman penulis terhadap teks Hikam, yang dapat dipahami, bahwa kesombongan seseorang karena melampaui hak Allah, karena sifat kebesaran itu merupakan selendang Allah Jalla Jalaluhu. Misalnya, orang kaya merasa lebih tinggi dari yang miskin, yang cantik merasa lebih layak dihormati, yang bernasab dan berpangkat merasa lebih mulia dari rakyat, yang alim rajin ibadah merasa layak dicium tangan dan lebih berhak masuk surga.

Meskipun demikian, bersikap sebaliknya, juga perbuatan yang dilarang, seperti yang miskin merasa lebih suci dari orang kaya, yang awam merasa lebih hebat dari ulama. Dengan kata lain, sombong itu merupakan sifat buruk bagi semua makhluk, namun bagi orang miskin lebih buruk lagi.