Agen Internal dan Kejahatan Manusia

0
547

Oleh: Tedi Kholiludin

Pengajian rutin Jum’at sore yang diampu oleh Rais Syuriah PWNU Jawa Tengah, KH. Ubaidullah Shodaqoh (2/2/18) kemarin, mengkaji bagian yang cukup penting untuk refleksi diri. Sebagaimana umumnya kajian sufistik, Kitab Minhajul Abidin anggitan Hujjatul Islam Imam al-Ghazali tersebut juga mengajak umat manusia untuk menelanjangi diri, berkaca tentang dirinya.

Saya hendak mereview dan memberikan penjelasan sesuai dengan yang saya pahami dari konten yang dikaji secara close reading oleh Kyai Ubed tersebut. Ini semata-mata sebagai bahan pengingat materi yang dikaji teramat penting untuk bermuhasabah.

***

“Awal mula kecelakaan, penyesalan, kehinaan, dosa dan penyakit yang hinggap pada manusia sejak awal ia diciptakan hingga hari kiamat adalah datang dari nafsu.”

Kita kerap menisbatkan segala keburukan pada setan, iblis dan agen eksternal lainnya. Padahal, kata Al-Ghazali, sumber segala perbuatan tidak baik itu justru ada di diri kita sendiri. Maksiat mula-mula yang dilakukan oleh Iblis sendiri adalah nafsunya; takabur dan hasud. Singkatnya, sumber keburukan itu adalah agen internal, sesuatu yang ada di dalam diri kita sendiri.

Iblis pun beribadah. Kata Al-Ghazali, Iblis beribadah selama delapan puluh ribu tahun. Tapi nafsunya itulah yang kemudian menyeret dia pada jurang kesesatan. Nafsu juga yang kemudian membuat Nabi Adam dan Siti Hawa terperdaya. Contoh yang sama bisa juga dijumpai dalam kisah Qabi dan Habil serta Harut dan Marut (dua malaikat yang diberikan hawa nafsu oleh Allah).

Hemat saya, inilah penjelasan al-Ghazali yang penting untuk diinternalisasi. Bahwa nafsu tidak mungkin dihilangkan dari diri manusia. Bahkan, nafsu itu sendiri adalah motor penggerak. Maka hal yang paling mungkin bisa dilakukan adalah mengendalikan nafsu serta menahan diri agar kita tidak dikuasainya.

Tentu saja itu bukanlah perkara gampang. Menahan diri untuk tidak berlaku konsumtif ketika ada banyak saldo tersedia tentu tak mudah. Ibu-ibu (termasuk sebagian besar bapak-bapak) yang kebetulan tidak bisa keluar rumah, bukan berarti pasif berbelanja. Tinggal klik “oke” beberapa menit kemudian barang sampai di rumah. Mudah dan sederhana.

***

Kalaulah nafsu itu diumpamakan binatang buas atau kuda binal yang liar, maka ada tiga cara mengendalikannya kata Al-Ghazali. Pertama, mengekang atau mencegah keinginan (man’us syahwat). Kuda yang binal akan tak berdaya jika dikurangi makannya. Ini tentu saja hanya perumpamaan. Pointnya pada pengendalian diri. Lagi-lagi ini masalah yang bersifat internal. Manusia kerap memrioritaskan keinginan meski sesungguhnya itu bukanlah kebutuhannya. Inilah sesungguhnya cikal bakal kerusakan yang terjadi pada diri manusia. Nafsu, karenanya, harus terlebih dahulu dikendalikan dengan cara mengekang keinginan.

Kedua, dibebani dengan ibadah, karena keledai yang dibebani banyak dan dikurangi makannya, akan tunduk dan menurut. Sekali lagi ini juga tamsil atau perumpamaan. Makna kontekstualnya kira-kira begini; kita perlu mentarget diri dengan sesuatu yang berguna, untuk kita sendiri maupun orang lain (yang kedua tentu lebih baik). Seorang dosen perlu membuat target misalnya dalam satu minggu harus membuat 5-10 paper. Pembebanan seperti inilah yang dimaksud Al-Ghazali. Mengendalikan nafsu salah satunya bisa dengan cara membebani diri dengan target-target tertentu. Sehingga, tidak ada lagi waktu yang terbuang sia-sia. Tidak lagi tersisa ruang bagi nafsu untuk menyelinap dan melambungkan keinginan-keinginan yang tidak perlu.

Ketiga, meminta petunjuk kepada Tuhan. Saya memaknai hal ini sebagai bentuk kerendah-hatian manusia. Setelah berikhtiar kemudian tawakkal. Tuhan punya kuasa kepada manusia.

***

Di akhir pengajian, Kyai Ubed menekankan point kedua kepada jamaah, terutama yang hadir di sore itu. Bagi para akademisi atau aktifis, mengaktifkan diri untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain adalah salah satu cara agar bisa mengendalikan hawa nafsu. Menulis artikel, makalah, menguasai teori, dan seterusnya.