NU Sevisi dengan Media

0
394
Pimpinan Redaksi Tribun Jateng Cecep Burdiansyah menyampaikan maksud pertemuan antara jajaran Redaksi Tribun Jateng bersama Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jateng, di kantor PWNU Jl. Dr. Cipto 180 Semarang, Senin, (12/2/18). Foto: Ceprudin

Semarang, nujateng.con – Pimpinan Redaksi Tribun Jateng Cecep Burdiansyah menilai, Nahdlatul Ulama (NU) mempunyai visi yang sama dengan media massa. Dalam beragama, NU selama ini dikenal moderat saat ada dua pendapat yang bertentangan.

“NU itu segaris dengan media massa, terutama pada situasi seperti sekarang ini. Media  massa juga harus ditengah, seperti juga NU,” katanya, pada pertemuan antara jajaran Redaksi Tribun Jateng bersama Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jateng, di kantor PWNU Jl. Dr. Cipto 180 Semarang, Senin, (12/2/18).

Hadir pada pertemuan itu wartawan dan Redaktur Tribun Jateng Abduh Imanulhaq, Iswidodo, dan M Nur Huda. Dari jajaran PWNU Jateng hadir Rais Syuriah PWNU Jateng KH. Ubaidullah Shadaqoh, Wakil Rais Syuriah KH. Muhamad Adnan, Ketua Tanfidziyah H Abu Hapsin, Wakil Tanfidziyah Najahan Musyafak, Sekretaris Tanfidziyah M. Arja Imroni dan jajaran lainnya.

Cecep menambahkan, prinsip jurnalistik berada di tengah-tengah semua kepentingan golongan. “Jangan segan-segan mengkritik kami. Karena kami juga manusia yang punya nafsu, keseleo, dan karena pressure,” jelasnya.

Butuh Referensi

Ketua Tanfidziyah H Abu Hapsin mengatakan, meskipun saat ini sudah era media sosial, namun koran harus tetap ada. Masyarakat masih butuh referensi yang sehat untuk mendapatkan informasi. “Ketika medsos mulai mewarnai, media elektronik dan cetak tidak tergerus habis. Masyarakat masih butuh referensi,” kata Abu.

Rais Syuriah PWNU Jateng KH. Ubaidullah Shadaqoh berpesan, pada era sekarang ini sulit membedakan informasi yang betul dan bohong (hoax). Karena itu, media diharapkan bisa memberikan informasi yang betul-betul terjamin kebenarannya. Gus Ubaid, sapaan akrabnya, menceritakan bahayanya penyebaran berita bohong.

“Era sekarang ini, orang sulit memperoleh kepercayaan dari info yang tersebar. Ada dua peristiwa (dalam sejarah Islam) dimana nabi hampir ‘termakan’ hoax. Pertama, ketika nabi mengutus orang ke Bani Mustholik. Utusan itu bilang ada org yang tidak mau bayar zakat. Ternyata Bani Mustolik datang menyambut dan harta zakat sudah menumpuk,” tuturnya. [Cep/003]