Pengetahuan Milenial: Sekelumit Cerita dari KH. M Dian Nafi’

0
635
KH. Dian Nafi’ ; Pengasuh Pondok Pesantren Al-Mu’ayyad Solo. [Foto: M. Husni Mushonfin]

Solo, nujateng.com – Setelah mengadakan Training of Instructure, PKC PMII Jawa Tengah sowan kepada KH. Dian Nafi’ di Pondok Pesantren Al-Mu’ayyad, Solo, Rabu (6/12). Seperti biasa, namanya santri yang sowan ke kyainya pasti yang dilakukan pertama pasti cium tangan dan mohon nasehat. Setelah itu baru kita ngobrol ringan.

Ngobrol ringan bukan isi obrolannya yang ringan. Tapi yang membuat terasa ringan adalah suasana dan kedekatan antara kyai dan santri yang dekat tanpa sekat membuat kita yang tadinya merunduk jadi bebas ngomong apa saja. Kita ngobrol sambil minum kopi dengan topik seputar perkembangan gerakan PMII. Tapi sayang saya dan sahabat-sahabat PKC PMII tidak bisa merokok karena kyai yang satu ini memang tidak merokok sekalipun beliau tidak melarang.

Kyai Nafi’ memulai obrolan dengan menanyakan kehidupan pribadi kami masing-masing, mulai dari urusan perkuliahan, berapa umurnya, sampai soal status perkawinan, tentu sudah ada yang menikah dan belum.

Pertanyaan-pertanyaan itu memang tidak serius, itu hanya pembuka obrolan agar masing-masing dari kita semakin dekat dan akrab. Tapi Kyai Nafi’ segera mengambil kesimpulan bahwa rata-rata umur Pengurus PKC PMII Jawa Tengah sudah di atas 25 tahun, yang artinya bukan bagian dari generasi milenial.

Saya sendiri lupa menanyakan umur berapa dan generasi kelahiran tahun berapa kategori milenial itu. Tapi menurut Kyai Nafi’, generasi Milenial adalah manusia yang secara psikologis sangat tergantung dengan teknologi, terutama teknologi komunikasi dan informasi.

“Penandanya gampang, jika ada anak kehilangan HP kemudian stres, depresi, dan tertekan berarti dia generasi milenial. Tapi jika tidak punya HP masih bisa santai, dia bukan milenial.

Hal ini menandakan bahwa bagi generasi milenial, segala bidang kehidupan yang mereka jalani akan bisa dijalankan jika memiliki teknologi yang memadai. Jika tidak ada teknologi, mereka tidak akan bisa berbuat apapun. Termasuk urusan pengetahuan, semuanya sudah berbasis teknologi, mula-mula dengan munculnya e-book.

Pria Pengasuh Pondok Pesantren Al-Mu’ayyad memaparkan beberapa perguruan tinggi pun sudah mengadopsi sistem perkuliahan virtual melalui gadget serta presentsi makalah tanpa perlu memfoto copy makalahnya, cukup dishare melalui medsos via grup WA.

Untuk berbelanja refrensi karya ilmiahpun mahasiswa milenial tidak perlu bersusah payah mencari di perpus atau toko buku. Cukup klik tema atau judul yang sedang digarap maka akan keluar berbagai buku yang berhubungan dengan tema itu.

“Bahkan untuk membeli kebutuhan hidup sehari-hari tidak perlu susah-susah ke warung, cukup klik di olshop semua kebutuhan ada. Tenaga yang seharusnya digunakan untuk pemenuhan kebutuhan pribadi sudah tergantikan dengan gadget. Betapa mudahnya…….,” jelasnya.

Tapi sayangnya, menurut Kyai Nafi’, tumbuhnya generasi milenial justru sangat dikhawatirkan oleh PBB. Kenapa demikian? Karena hal ini berpotensi melahirkan konflik-konflik baru. Terutama persoalan penggunaan medsos yang cenderung negatif.

“Generasi milenial yang belum mampu memverivikasi informasi akan mudah terprovokasi oleh hoax. Jangankan hoax, informasi yang valid sekalipun akan menjadi pemicu tafsir negatif jika sang pembaca gagal memahami konteksnya,” tambahnya.

Belum lagi, menurut beberapa ilmuwan, teknologi komunikasi dan informasi fungsinya bukan hanya menjadi alat komunikasi saja, tapi berkembang menjadi senjata ideologis yang mempengaruhi pandangan ideologi sebuah masyarakat milenial.

Setali tiga uang, tumbuh-suburnya teknologi ini juga meruntuhkan budaya literasi di beberapa negara maju karena hanya menampilkan informasi singkat dan kutipan ringkas, sama sekali tidak ada pendalaman. Coba kita bayangkan, negara maju saja runtuh budaya literasinya, apalagi negara kita yang tanpa teknologi inipun budaya literasinya sudah memprihatinkan.

Dia mencontohkan, salah satu tanda dari generasi melenial sendiri adalah mudahnya mereka menyimpulkan suatu perkara, mengeneralisir sebuah permasalahan, dan ketergesa-gesaan mengambil tindakan tanpa pertimbangan matang.

Bahkan, perkara-perkara sepele seperti rebutan makanan dan tawar-menawar harga yang deadlock dengan mudah akan memicu persoalan sosial. Memang sebetulnya sikap “sumbu pendek” generasi milenial ini adalah akumulasi masalah-masalah sosial yang menyejarah dan terbungkus oleh kecenggihan teknologi informasi dan komunikasi.

Pada akhirnya Kyai Nafi’ berkesimpulan bahwa medsos, semakin canggih sesungguhnya semakin miskin nilai literasinya. Semakin miskin nilai literasinya, semakin miskin juga kandungan pengetahuannya. dan jika suatu informasi tidak bisa diverifikasi, maka hanya akan melahirkan provokasi.

Tapi bukan berarti teknologi ini sama sekali tidak berguna, kegunaannya sangat jelas. Semua urusan mampu dipermudah. Kita hanya harus membiasakan diri menggunakan teknologi ini menjadi alat berdialektika. Saling tukar pengetahuan dan pengalaman. Melalui WA misalnya. Kita bisa mengumpulkan sahabat-sahabat yang memiliki visi pengetahuan yang tinggi dan memulai diskusi dengan positif, berbagi refrensi dan metodologi.

Dia menjelaskan yang perlu kita ingat adalah, teknologi Informasi dan komunikasi harus betul-betul dijadikan alat untuk komunikasi, bukan sebagai bahan referensi. Kita tidak boleh puas hanya dengan berbagi informasi di dalamnya.

Kita juga harus mengadakan kopdar, kumpulan, atau tatap muka. Karena sejatinya, diskusi yang progresif akan lahir jika bertatap muka. Mencari referensi juga harus dari sumber aslinya, kita datangi sumbernya, tidak hanya puas melihat gambar dan caption di medsos. Medsos hanyalah alat untuk mempermudah komunikasi saja. Bukan alat untuk memastikan informasi.

“Medsos bisa dijadikan alternatif menumbuh-kembangkan budaya ilmiyah di kalangan mahasiswa Nahdliyin asalkan kita mampu meletakkan teknologi informasi sebagai alat bukan sebagai bahan. Bahan-bahan ilmiyah tentunya terdapat pada buku-buku babon, kalau pesantren ya di kitab-kitab kuning maupun putih yang metodologis dan genealogi keilmuannya jelas,” ungkapnya.

Intinya adalah, penggunaan medsos jangan sampai melemahkan “prosedur” baku untuk mencari informasi.

“Ada proses observasi, verifikasi, advokasi, pengamatan, referensi, dan lain sebagainya. Biasanya pengguna medsos, kader-kader PMII generasi milenial terutama, lebih suka melakukan shortcut dan tidak mau ribet-ribet menggunakan “prosedur” di atas. Maka wajar cara berpikir generasi milenial gegabah. Apalagi sekarang dengan mudah melakukan copy-paste, rusak sudah nalar ilmiyah kader-kader PMII,” tukasnya. [Husni Mushonfin/009]