Tujuan Ibadah Menurut Imam Al-Ghazali

0
466

Oleh: Muhamad Zainal Mawahib
Pengajar di Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Walisongo Semarang

Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Ghazali ath-Thusi atau populer dengan sebutan Imam al-Ghazali, dalam mukadimah karyanya, Kitab Minhajul ‘Abidin, mengawali dengan mengingatkan kepada kita tentang ibadah (baca: menghamba) kepada Allah Swt.

Pengingat atau renungan dari Imam al-Ghazali ini untuk menyadarkan kembali kepada kita tentang ibadah sebagai jalan menuju Allah, menuju ridla Allah dan surga Allah.

Hal ini menjadi sangat penting sekali, mengingat seluruh umat Islam melakukan ibadah sebagai wujud ketaatannya kepada Allah. Namun jangan sampai ibadah yang sudah dilakukan itu menjadi ibadah yang sia-sia, melakukan ibadah hanya karena keterpaksaan dari sebuah kewajiban tanpa memahami makna di dalam pelaksanaan ibadah itu sendiri.

Ibadah yang sia-sia tidak mengantarkan seorang hamba kepada keridlaan Allah dan surga Allah. Padahal tujuan dari ibadah tidak lain adalah ridla Allah dan surga Allah.

Menurut Imam al-Ghazali, ibadah adalah buah dari ilmu, faedah dari umur, hasil jerih payah hamba-hamba Allah yang kuat, barang berharga dari aulia’ Allah, jalan yang ditempuh oleh orang yang bertaqwa, imbalan bagi orang yang luhur, tujuan orang yang memiliki tujuan mulia, petanda orang yang mulia, perbuatan orang yang berani melakukan kebajikan, pilihan orang yang waspada, jalan kebahagian dan jalan menuju surga.

Dalam mendeskripsikan tentang ibadah di atas, Imam al-Ghazali juga mengajak untuk memahami tentang ibadah, sebagaimana dalam firman Allah:

وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاعْبُدُونِ

Artinya: “Dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku” (QS. Al-Anbiya’: 92)

إِنَّ هذَا كَانَ لَكُمْ جَزَاءً وَ كَانَ سَعْيُكُمْ مَشْكُوْرًا

Artinya: “Sesungguhnya ini adalah balasan untukmu, dan usahamu adalah disyukuri (diberi balasan)”. (QS. Al-Insan: 22).

Dari deskripsi ini dapat dipahami bahwa ibadah adalah wujud menghamba kepada Allah dengan melakukan segala perintah dan menjauhi larangan-Nya, hingga kemudian Allah memberikan balasan atas usaha yang telah dilakukan oleh hamba berupa surga.

Tidak berhenti di situ saja, kemudian Imam al-Ghazali mengajak untuk berpikir dan menyadari tentang ibadah di atas, mulai dari awal hingga tujuan akhir, yakni surga yang itu sangat diharapkan oleh orang yang menjalankan ibadah.

Ternyata untuk menuju tujuan tersebut merupakan suatu perjalanan yang amat sulit, penuh lika-liku, halangan dan rintangan banyak sekali yang harus dilalui, cobaan yang selalu mengelilingi, berbagai macam musuh yang harus dihadapi, sedangkan orang yang mau diajak untuk ibadah agar sampai tujuan tersebut sedikit, bahkan orang yang mau menolong pun juga sedikit.

Dalam hal ini, Imam al-Ghazali tidak bermaksud menakut-nakuti, akan tetapi ini sebuah kenyataan yang perlu disadari dan dihadapi oleh orang mukmin. “Demikian keadaannya, dan ini wajib ditempuh meskipun memang terlihat menyulitkan, sebab ibadah nantinya sebagai jalan menuju surga”, kata Imam al-Ghazali.

Penjelasan Imam al-Ghazali ini bukan tanpa dasar, ini sebagaimana dalam hadits Nabi Muhammad Saw:

عَنْ اَنَس رضِيَ اللَّه عنْهُ قَال : قَال رسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم حُفَّتِ اْلجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ رواه مسلم

Artinya: “Surga dikelilingi dengan hal-hal yang tidak menyenangkan, dan neraka dikelilingi dengan kesenangan-kesenangan.” (HR. Muslim)

أَلَا إِنَّ عَمَلَ الْجَنَّةِ حَزْنٌ بِرَبْوَةٍ – ثَلَاثًا – أَلَا إِنَّ عَمَلَ النَّارِ سَهْلٌ بِسَهْوَةٍ . رواه احمد

Artinya: “Ingatlah, sesungguhnya amal surga itu bagaikan tanah licin yang ada di bukit —sebanyak tiga kali—. Ingatlah, sesungguhnya amal neraka itu bagaikan tanah yang mudah dilalui yang berada di tanah datar” (HR. Ahmad)

Bukan hanya keadaan jalan yang sangat terjal dan penuh rintangan untuk sampai tujuan ibadah, namun juga keadaan diri manusia itu sendiri pun harus disadari.

Imam al-Ghazali mengatakan “manusia adalah makhluk yang lemah, tantangan zaman sangat berat sekali, keadaan keberagamaan kita selalu berputar kadang lemah dan kadang kuat, kesempatan sedikit sedangkan kita selalu disibukkan dengan urusan dunia yang begitu banyak.

Umur kita hidup di dunia pendek, sedangkan Allah Yang Maha Mengetahui dan Teliti terhadap segala aktiftas yang kita jalani selama hidup di dunia. Kematian semakin dekat sedangkan perjalanan jauh yang harus ditempuh agar sampai tujuan, maka satu-satunya bekal adalah ketaatan, sebab waktu yang telah berlalu tidak akan kembali”.

“Beruntunglah dan berbahagialah orang-orang yang taat kepada Allah, dan sebaliknya rugilah dan celakalah orang-orang yang tidak mau taat kepada Allah Swt”, jelas Imam al-Ghazali.

Mengingat keadaan yang menyulitkan dan penuh resiko yang akan dihadapi dalam melakukan ibadah agar sampai tujuan, menurut Imam al-Ghazali jarang sekali orang yang mau menempuh perjalanan ini.

Di antara orang-orang yang mau menempuh perjalanan ini sedikit yang menjalankannya. Bahkan orang yang menjalankan ibadah dengan serius sangat sedikit, dan lebih sedikit lagi orang-orang yang mampu mencapai tujuan ibadah.

“Orang-orang yang berhasil inilah adalah umat yang mulia dan pilihan Allah untuk dapat ma’rifat dan mahabbah kepada Allah. Allah memelihara dan memberi taufik kepada mereka, dan dengan karunia-Nya, Allah mengantarkan mereka untuk sampai pada keridlaan dan surga-Nya”, kata Imam al-Ghazali.

Oleh karena itu, kita berdoa dan berharap kepada Allah, semoga Allah memasukkan kita ke dalam golongan orang-orang yang beruntung dengan mendapatkan rahmat dari Allah.