Meredam Radikalisme dengan Akhlak Tasawuf

0
176

 Oleh : Muhamad Nasrudin

Pengajar di IAIN Metro Lampung. Bergiat di beberapa komunitas berdaya.

 

Seorang teman pernah berdebat panjang lebar dengan seorang Islam radikal. Teman saya berhasil membantah dan bahkan mematahkan argumen mereka. Lawan debat yang sudah tersudut ini hanya diam tak menjawab. Apakah kemudian dia menjadi lebih lembut dan tidak radikal lagi? Sebulan berselang, lawan debat itu tetap saja menulis dan membagikan konten radikal di akun media sosialnya.

Kasus-kasus semacam ini sering terjadi. Anda bisa saja mematahkan argumentasi kaum radikalis. Tapi saya yakin, Anda tidak akan pernah mendengar mereka berkata begini, “Terima kasih, Akhi, atas penjelasannya. Saya khilaf. Ajari saya jalan yang lebih baik.” Sebab itulah, Anda tidak akan pernah bisa memenangkanperdebatan dengan kalangan Islam radikal. Mengapa hal ini terjadi?

Ada satu kecenderungan yang sangat kuat di kalangan Islam radikal, yakni bahwa mereka merasa sebagai pemegang kebenaran tunggal yang bersifat mutlak. Mereka yakin bahwa apa yang mereka pahami adalah sebuah kebenaran yang bersifat final dan mutlak. Adapun pemahaman lain di luar sana adalah salah dan bahkan sesat, sehingga layak direstriksi, dieksklusi, hingga dipersekusi.

Kalangan radikalis ini hanya ingin mendengar apa yang ingin mereka dengarkan. Mereka hanya mau membaca apa yang mereka yakini kebenarannya, selebihnya tidak. Kecenderungan semacam ini sealur dan berbanding lurus dengan tingkat radikalisme dan ekstremisme seseorang. Makin ekstrem dan makin radikal, makin merasa paling benar.

Lalu apakah dalam Islam ada penawar bagi watak kebenaran tunggal tadi?

Jika kita mengacu pada trilogi epistemologi Islam yang ditulis oleh Muhammad Abed Al-Jabiri (1935-2010), Islam mengenal tiga epistemologi, yakni burhani (rasio), bayani (teks), dan irfani (intuisi). Di kalangan Islam radikal, klaim kebenaran tunggal muncul karena pola pikir mereka tidak seimbang lantaran terlalu berat pada titik bayani atau teks.

Kecenderungan ini tampak dalam kuatnya tradisi teks dan pemahaman mereka yang tekstualis terhadap nash. Sebab itulah, kalangan Islam moderat perlu melakukan kampanye untuk mempromosikan epistemologi lain yang lebih soft, yakni irfani atau intuisi. Dan satu metode yang diajarkan oleh Islam untuk mengasah dimensi irfani adalah tasawuf.

Membersihkan Hati

Tradisi tasawuf sesungguhnya sudah ada sejak era Rasul saw. dan ia menjadi bagian yang tak terpisahkan dari ajaran Islam. Abu Dzar Al-Ghifari R.A. tercatat sebagai salah seorang sahabat Rasul yang disebut-sebut sebagai salah satu tokoh penting tasawuf pada era Sahabat.

Pada era Rasul saw, mayoritas sahabat bertanya tentang fadhail a’mal kepada Rasul. Mereka  bertanya amal apa yang jika dilakukan akan dilipatgandakan pahalanya. Sabda-sabda Rasul dalam hal ini tentu sangat memotivasi sahabat, sehingga mereka sangat suka. Namun sahabat Abu Dzar R.A. berbeda.

Alih-alih bertanya soal fadhail a’mal, Abu Dzar justru bertanya kepada Rasul tentang perkara-perkara yang bisa merusak amal ibadah. Pertanyaan Abu Dzar ini memang tidak mainstream. Tetapi dari pertanyaan nyeleneh semacam inilah, kita mendapatkan banyak rahasia dalam Islam yang selama ini tersimpan.

Kita kemudian memiliki banyak perbendaharaan hadits Rasul yang memberikan warning bagi kita tentangancaman terhadap amal ibadah kita. Banyak petuah Rasul tentang bagaimana menjaga amal ibadah kita agar tidak sia-sia. Juga agar pribadi kita semakin bersih dari sifat-sifat tercela, akhlak buruk, dan perilaku yang buruk.

Sebagai contoh, Rasul saw. berpesan agar kita menjauhi sifat iri dan dengki. Sifat ini, kata Rasul saw., bisa melenyapkan kebaikan, laksana api membakar kayu, laksana nila yang merusak susu. Demikian halnya pesan Rasul yang melarang mengungkit-ungkit sedekah lantaran bisa melenyapkan pahala sedekah tanpa sisa.

Dari sini kita jadi mengerti bahwa titik sentral tasawuf adalah mengajak kita untuk membersihkan hati dari segenap kotoran. Sebagaimana asal kata tasawuf yang bermakna suci, bersih, dan jernih. Tasawuf merupakan upaya seorang insan untuk menjernihkan hati.

Tasawuf Penawar Hoax

Beberapa tahun belakangan, kita dibanjiri oleh berita sampah atau hoax yang menyulut kebencian. Hampir setiap hoax berpotensi menyinggung perasaan atau identitas tertentu dengan bahasa yang provokatif. Bahasa yang demikian membuat nyaris siapa pun yang menerima pesan hoax tersebut menjadi tersulut emosinya.

Akibatnya, mereka yang tersulut segera berkomentar negatif lalu menyebarkan pesan hoax tersebut. Maka virallah hoax tersebut. Tidak hanya itu. Luapan emosi ini kemudian merembes dari dunia maya untuk kemudian tumpa-ruah dalam kehidupan di dunia nyata. Sudah terlalu banyak kejadian semacam ini.

Dengan tasawuf, hati kita akan menjadi lebih bersih. Hati yang jernih membuat kita tidak gampang tersulut amarah dan tidak reaksioner.  Kita menjadi memiliki waktu jeda untuk merenungkan setiap informasi yang masuk. Waktu jeda ini akan sangat bermanfaat bagi kita untuk merenungkan lebih dalam terkait pesan yang baru saja diterima.

Kita punya kesempatan untuk menimbang pesan tersebut: Apakah berita ini benar atau tidak? Jika benar, apakah akan bermanfaat jika diteruskan kepada orang lain atau tidak? Jika disebar, apakah akan menyulut kemarahan orang atau tidak? Apakah akan menimbulkan keresahan atau tidak?

Pribadi yang jiwanya bersih akan lebih mudah untuk melakukan manajemen hati, memenej hati. Sebab itulah, hati yang bersih tidak akan mudah terpapar virus informasi hoax yang penuh dengan kebencian. Tasawuf bisa menjadi penawar hoax yang merajalela. Ia menjadi oase di tengah padang pasir.

Tasawuf Menjaga Kerendahan Hati

Sebagaimana disinggung di muka, radikalisme hanya bisa muncul dari kebenaran mutlak yang diyakini. Kebenaran mutlak ini membuat pemegangnya merasa paling benar sendiri sedangkan yang lain salah. Ketika ada pesan yang masuk ke ponselnya, maka ia akan segera mengamininya, tanpa melakukan kroscek atau tabayun kepada pihak yang bersangkutan.

Hati yang bersih juga akan membawa pemiliknya untuk senantiasa bersifat rendah hati, tidak merasa paling benar sendiri dan mau menang sendiri. Seperti yang diketahui bersama, mayoritas hoax bersumber dari perasaan sebagai mayoritas atau superior sehingga merasa dilecehkan atau diremehkan.

 

Akhlak Karimah

Pada akhirnya, tasawuf mengajak kita untuk berperilaku dengan akhlak yang mulia sebagaimana dicontohkan Rasul. Karena akhlak mulia inilah inti ajaran Islam sebagaimana sabda Rasul, “Sesungguhnya aku diutus tidak lain untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”

Dengan akhlak yang mulia, kita akan memiliki kepekaan yang lebih baik untuk melihat diri sendiri sebagai pihak yang masih banyak kelemahan sehingga tidak merasa benar sendiri. Kita menjadi malu untuk menyalah-nyalahkan apalagi mencap sesat pihak lain yang berbeda dengan kita.

Akhlak yang baik akan menuntun kita untuk lebih bisa mendengarkan ketimbang berbicara. Memiliki lebih banyak ruang untuk berkontemplasi ketimbang bersuara. Akhlak yang baik akan mendorong kita untuk menjadi pribadi pembawa kedamaian. Allahu a’lam.