Kontribusi Santri untuk Hari Pahlawan di Era Digital

0
198
[Foto: Istimewa]

Oleh: Minardi
(Mahasiswa Ketahanan Nasional Sekolah Pascasarjana UGM, Ketua LTN PCNU Klaten, Koordinator Divisi Scouting AIS Nusantara)

Hari ini, 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan. Pada hari itu, tepatnya 72 tahun yang lalu, yaitu tanggal 10 November 1945 terjadi pertempuran besar di Surabaya. Kelak, pertempuran besar itu diperingati sebagai Hari Pahlawan. Di mana pasukan Sekutu yang awalnya ingin melucuti senjata Jepang karena kalah di Perang Dunia II ternyata diboncengi NICA. Sehingga pertempuran besar antara bangsa Indonesia yang baru merdeka melawan sekutu yang baru saja menjadi pemenang Perang Dunia II.

Ini sebenarnya merupakan serangkaian sejarah yang panjang dan menarik untuk disyukuri, dipelajari dan diteladani. Maka tidak heran pada Pembukaan UUD 1945 tertulis “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.” Karena memang kemerdekaan ini merupakan rahmat dari Allah sehingga bangsa Indonesia diberikan pertolongan untuk mempertahankan kemerdekaan ini.

Dari Resolusi Jihad Sampai Pertempuran 10 November

Kisah indah diawali setelah kekalahan pihak Jepang, lalu bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945. Lalu, rakyat dan pejuang Indonesia berupaya melucuti senjata para tentara Jepang. Maka timbullah pertempuran-pertempuran yang memakan korban di banyak daerah.

Ketika gerakan untuk melucuti pasukan Jepang sedang berkobar, tanggal 15 September 1945, tentara Inggris mendarat di Jakarta, kemudian mendarat di Surabaya pada tanggal 25 Oktober 1945. Tentara Inggris datang ke Indonesia tergabung dalam AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies) atas keputusan dan atas nama Blok Sekutu, dengan tugas untuk melucuti tentara Jepang, membebaskan para tawanan perang yang ditahan Jepang, serta memulangkan tentara Jepang ke negerinya.

Namun selain itu tentara Inggris yang datang juga membawa misi mengembalikan Indonesia kepada administrasi pemerintahan Belanda sebagai negeri jajahan Hindia BelandaNICA (Netherlands Indies Civil Administration) ikut membonceng bersama rombongan tentara Inggris untuk tujuan tersebut. Hal ini memicu gejolak rakyat Indonesia dan memunculkan pergerakan perlawanan rakyat Indonesia di mana-mana melawan tentara AFNEI dan pemerintahan NICA.

Pada puncaknya, terjadilah Pertempuran 10 November di Surabaya. Hal itu yang menjadi sebab tewasnya seorang Jenderal Inggris yang bernama Mallaby. Kematian Mallaby ini menyebabkan pihak Inggris marah kepada pihak Indonesia dan berakibat pada keputusan pengganti Mallaby, Mayor Jenderal Eric Carden Robert Mansergh untuk mengeluarkan ultimatum 10 November 1945 untuk meminta pihak Indonesia menyerahkan persenjataan dan menghentikan perlawanan pada tentara AFNEI dan administrasi NICA.

Kondisi Indonesia belum kuat, karena baru beberapa bulan merdeka. Ditambah belum memiliki angkatan bersenjata yang kuat dan kondisi ekonomi yang tidak menentu. Dalam menghadapi ultimatum Sekutu, Ir. Soekarno mengirim utusan kepada Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari ke Tebuireng Jombang. Utusan itu menyampaikan pesan dari Bung Karno, untuk meminta fatwa “Apa hukumnya membela tanah air, bukan membela agama”.

Pada 72 tahun silam, tepatnya tanggal 22 Oktober 1945, terjadi peristiwa penting yang merupakan rangkaian sejarah perjuangan Bangsa Indonesia melawan kolonialisme. Dikatakan penting, karena hari ini, 71 tahun silam, PBNU yang mengundang konsul-konsul NU di seluruh Jawa dan Madura yang hadir pada tanggal 21 Oktober 1945 di kantor PB ANO (Ansor Nahdlatul Oelama) di Jl. Bubutan VI/2 Surabaya, berdasar amanat berupa pokok-pokok kaidah tentang kewajiban umat Islam dalam jihad mempertahankan tanah air dan bangsanya yang disampaikan Rais Akbar KH Hasyim Asy’ari, dalam rapat PBNU yang dipimpin Ketua Besar KH Abdul Wahab Hasbullah, menetapkan satu keputusan dalam bentuk resolusi yang diberi nama “Resolusi Jihad Fii Sabilillah”, yang isinya sebagai berikut:

“Berperang menolak dan melawan pendjadjah itoe Fardloe ‘ain (jang haroes dikerdjakan oleh tiap-tiap orang Islam, laki-laki, perempoean, anak-anak, bersendjata ataoe tidak) bagi jang berada dalam djarak lingkaran 94 km dari tempat masoek dan kedoedoekan moesoeh. Bagi orang-orang jang berada di loear djarak lingkaran tadi, kewadjiban itu djadi fardloe kifajah (jang tjoekoep, kalaoe dikerdjakan sebagian sadja)…” 

Bangsa yang selama ini sangat minim menguasai dunia militer, tidak terlatih, tidak memiliki harus menghadapi Inggris dan pasukan Sekutu lainnya yang memiliki senjata canggih, terlatih dan khususnya Ghurkha yang sangat terkenal ganas itu.

Di Indonesia, hanya segelintir saja yang memiliki skill militer seperti eks-KNIL, eks-PETA dan eks-bentukan Jepang lainnya. Namun, itu bukan menjadi penyebab untuk tidak berjuang, apapun yang dimiliki rakyat Indonesia dibawa untuk mempertahankan Kemerdekaan Indonesia. Apalagi ditambah dan diperkuat atas Fatwa Resolusi Jihad dari Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, sehingga geliat untuk mempertahankan kemerdekaan semakin membara.

Jaringan santri dan ulama menyambutnya dengan gegap-gempita. Ini merupakan konsolidasi (lagi) yang dilakukan para santri untuk membela bangsanya. Maka tidak heran jika ada yang menyampaikan, jika jaringan-jaringan ini sebenarnya sudah tersusun-rapi tetapi bergerak di bawah tanah. Hal ini dikarenakan karena kekalahan Perang Jawa yang dipimpin Pangeran Diponegara, maka perlawanan bangsa Indonesia harus tetap dilakukan walaupun dengan cara yang lebih berbeda, mengikuti perubahan zaman. Persatuan dan kesatuan bangsa, dalam mempertahankan dan mengisi kemerdekaan.

Kontribusi Santri di Era Digital

Semangat para santri memang selayaknya harus ditumbuhkan untuk mengisi kemerdekaan di zaman sekarang. Bangsa ini merdeka atas keringat dan darah para pahlawan, khususnya para Kyai dan Santri. Perlawanan bangsa Indonesia harus tetap dilakukan walaupun dengan cara yang lebih berbeda, mengikuti perubahan zaman.

Ke depan semakin banyaknya tantangan yang harus dihadapi para santri. Mulai dari sektor ekonomi, politik sampai budaya. Arus peperangan perebutan pengaruh ala santri Nusantara melawan dengan yang ingin merobohkan negeri ini. Maka tepatlah jika Imam Ali bin Abi Thalib berkata: “Didiklah anakmu sesuai dengan massanya”.

Atas perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka perubahan-perubahan akan terus berkembang. McLuhan (1962) dalam bukunya The Gutenberg Galaxy memetakan sejarah kehidupan manusia ke dalam empat periode: a tribal age (era suku atau purba), literate age (era literal/huruf), a print age (era cetak), dan electronic age (era elektronik). Menurutnya, transisi antar periode tadi tidaklah bersifat gradual atau evolusif, akan tetapi lebih disebabkan oleh penemuan teknologi komunikasi. (Griffin, 2003: 341-342)

Menurut penulis, space saat ini terbagi menjadi dua yaitu dunia nyata ini, dunia maya. Sebenarnya masih ada satu lagi, yaitu dunia ghaib, tetapi nampaknya ini kurang bisa diterima oleh sebagian orang. Kecepatan orang mengakses media sosial mengakibatkan terjadinya beragam fenomena yang berkaitan dengan arus informasi.

Fenomena ini tidak hanya berlangsung di negara-negara maju, tetapi juga di Indonesia. Pesatnya perkembangan media sosial juga dipicu oleh keinginan setiap orang untuk merasa harus memiliki media sendiri (facebook, blog, twitter). Beberapa waktu yang lalu untuk memiliki media tradisional seperti televisi, radio, atau koran dibutuhkan modal yang cukup besar serta butuh tenaga kerja yang banyak, berbeda halnya dengan sosial. Pengguna media sosial dapat mengakses hanya dengan menggunakan jaringan internet bahkan yang kemampuan aksesnya lambat sekalipun, tanpa dibutuhkan biaya besar, tanpa alat yang mahal dan bahkan bisa dilakukan sendiri tanpa karyawan (Pujho dalam Junaedi, 2011: 33)

Media sosial yang didukung dengan murahnya alat yaitu handphone, murahnya kuota dan kuatnya sinyal membuat siapapun bisa terbuai. Bukan hanya para orang dewasa, para anak-anak pun juga secara rutin mengkonsumsi sajian-sajian di media sosial. Kekhawatiran yang bisa muncul adalah jika sajian-sajian itu bernuansa negatif. Karena sampai saat ini, belum ada menghadang khusus untuk menyaring konten-konten negatif itu. Sebenarnya fungsi dari adanya media sosial adalah untuk saling berinteraksi antar individu, lalu kemudian meluas menjadi semacam jejaring sosial di dunia maya.

Di situ ada interaksi dalam hal informasi, hiburan, dan komunikasi. Namun, jika informasi, hiburan dan komunikasi itu berwarna negatif maka akan merugikan, baik diri sendiri, orang lain bahkan Bangsa dan Negara.

Penulis membagi aktivitas dunia maya menjadi tiga, pertama adanya penyimpangan. Penyimpangan ini hanya merugikan diri sendiri dan tidak begitu merugikan orang lain, seperti cybersex, perselingkuhan online dan sebagainya. Kedua, adanya kejahatan dunia maya yang biasa berada di deep web. Walaupun internet umum juga bisa terjangkit aktivitas ini, seperti penipuan, pembobolan dan sebagainya. Sedangkan yang terakhir adalah aktivitas yang bisa mengancan Kedaulatan NKRI, yaitu terorisme dan separatism serta serangan dari luar. Termasuk adanya ujaran kebencian dan kebohongan.

Dewasa ini, dunia maya masih digenggam oleh berita-berita hoax. Pemberitaan yang penuh dengan kebencian dan kebohongan secara massif dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab. Sebenarnya ini merupakan bagian dari propaganda, yang biasa dipakai di dalam perang. Namun, oleh orang yang tidak bertangungjawab dipakai untuk membuat suasana kacau.

Jozef Goebbels, Menteri Propaganda Nazi pada zaman Hitler, mengatakan: “Sebarkan kebohongan berulang-ulang kepada publik. Kebohongan yang diulang-ulang, akan membuat publik menjadi percaya.” Tentang kebohongan ini, Goebbels juga mengajarkan bahwa kebohongan yang paling besar ialah kebenaran yang diubah sedikit saja. Sebagai dampak, masyarakat diliputi saling curiga dan terjebak di dalam saling hujat. Sehingga dari perang dunia maya tidak jarang mengarah kepada bentrok fisik di dunia nyata. Misalnya, ada kelompok A yang berbeda pemahaman dengan kelompok B, tiba-tiba ada kelompok C yang mencoba memancing air keruh itu agar semakin keruh. Antara kelompok A dengan kelompok B saling serang argumen, hinaan, dan kebohongan yang tiada habisnya, semacam masuk jalan “Jalur Lingkaran Setan”. Sedang pihak-pihak di luar A dan B tadi, bisa C atau lain lagi untuk mengambil keuntungan dari kekacauan ini. Goreng-menggoreng isu menjadi sangat lumrah di dunia maya. Foto di daerah lain, foto editan, foto tahun lampu dipakai agar terpuaskan hasrat untuk merendahkan orang lain.

Jika ujaran kebencian dan kebohongan di dunia maya dan dunia nyata ini tidak dihentikan, maka penulis khawatir dengan massa depan Bangsa. Di beberapa Negara lain, pengaruh dunia maya yang kuat bisa membuat Badai Gurun “Arab Spring” di Timur Tengah. Dan, kita bisa melihat kondisinya, dengan mengatas-namakan Allah mereka menghancurkan alam semesta ini. Kebencian yang terus-menerus dibumbui kabar kebohongan semakin membakar ke-nekad-an orang-orang untuk menghancurkan peradaban. Padahal Allah sendiri adalah Maha Cinta yang merupakan Rahmat bagi Seluruh Alam. Maka di sinilah para santri harus menjiwai Resolusi Jihad NU yang teraktualisasi di pertempuran 10 November di Surabaya.

Para santri harus mampu menguasai dunia maya, minimal ikut serta untuk menyebarkan konten-konten kedamaian.

Pertama, santri harus menjadi pelopor mencegahan hoax. Cara efektif untuk pencegahan hoax yaitu dengan cara menahan diri dan tabayyun. Para santri harus mampu menahan diri dan tidak menelan mentah-mentah setiap informasi yang masuk ke handphone nya. Oleh karena itu, para santri harus ber-tabayyun dengan cara membandingkan berita-berita se-isu namun dari sudut pandang yang berbeda. Bisa juga dengan bertanya kepada orang yang lebih mumpuni tentang itu atau yang bersangkutan.

Kedua, aktifkanlah kegiatan literasi di kalangan santri. Zaman dahulu, Ulama Ahlus-Sunnah wal Jama’ah terkenal sebagai ulama yang gemar belajar, meninggikan adab dan menulis. Penulis merasa, kegiatan literasi santri saat ini mulai kendor, tidak seperti zaman Para Ulama dulu. Dunia maya itu tidak terbatas, nampaknya ini dilirik orang lain untuk menggunakan untuk merebut wacana publik. Oleh karena itu, NU, khususnya santri juga harus giat untuk berliterasi untuk mengimbangi dalam rangka menyajikan wacana lain, sudut pandang lain dan meng-counter isu negatif bagi masyarakat. Ladang literasi dunia maya bukan hanya website, tetapi juga media sosial, seperti facebook, instagram, youtube dan twitter yang umum dipakai masyarakat. Saatnya Wong NU membaca konten-konten NU, Wong NU punya website dan media sosial yang menarik.

Referensi:

Griffin, Emory A., A First Look at Communication Theory, 5th edition, New York: McGraw-Hill, 2003.

Junaedi, Fajar. 2011.Komunikasi 2.0: Teoritisasi dan Implikasi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Umum.