Banser, Tersenyumlah

0
148

Oleh: KH Ubaidullah Shodaqoh
(Rais Syuriah PWNU Jawa Tengah)

“Aku harus bisa membalas dendamku pada Banser,” begitu dalam benakku. Bagaimana tidak, sebagai tamu VVIP setelah usai acara semuanya dimohon untuk bersama-sama naik mobil van ke tempat transit. Nah karena tempat transit ke arah jalanku pulang maka aku drive sendiri gerobagku.

Jalan sesak dengan khalayak. Mobil van rombongan telah melaju jauh karena pengawalan. Saya pun terlambat, sementara tamu-tamu lainnya telah makan-makan dan beramah tamah. Dan tentu ada yang menanyakan keberadaanku.

Sampai di transit saya tidak boleh masuk oleh seorang Banser penjaga. Mungkin karena melihat potonganku yang tidak pantas berkumpul sama kyai-kyai. Okelah kang Banser tunggu pembalasanku. Undangan VVIP mau ikut makan-makan kok tidak boleh.

Kebetulan di kota lain mengundang saya sebagai keynote speaker. Sampai di depan gedung tempat acara, aku membuka pintu mobil dengan menyulut sigarette. Langsung aku bergabung dengan Banser-Banser, bertanya dan bercerita ini itu. Padahal forum sudah menunggu kedatanganku.

Salah seorang panitia yang juga seorang kyai keluar, mungkin sengaja mengecek kedatanganku. Melihat saya duduk-duduk di kerumunan Banser, kyai itu pun mempersilahkan ku segera masuk ke forum. Namun saya dengar kyai itu marah sama Banser. “Disuruh jaga menunggu kedatangan keynote speaker malah dibiarkan duduk di bawah pohon,” kata kyai itu kepada Banser.

Ha ha, rasain loe dimarahi kyaimu. Bukankah manusia yang kamu takuti hanya kyai? Ya, di kota S saya dikerjain oleh mereka, kini di lain kota aku bisa mengerjaimu. Namun saya kasihan juga, sudah berkeringat mengatur parkir, setelah selesai malah kena marah.

Ya di mana ada sholawatan di situ ada Banser, Di mana ada pengajian di situ ada Banser. Di mana ada bencana di situ ada Banser. Di mana ada pertemuan para kyai pasti ada Banser. Bahkan dalam acara kenduren sunatan pun ada Banser.

Serasa mustahil bin mustahal Banser membubarkan pengajian. Tidak ada sejarahnya Banser berbuat sekeji itu. Tentu kecuali kekejian yang berkedok pengajian yang dibubarkan Banser. Propaganda anti NKRI, menghasut umat untuk bertengkar, ajakan merobohkan rumah bangsa dengan dibungkus pengajian itulah yang barangkali dibubarkan oleh Banser. Toh sudah berkoordinasi dengan aparat tentu.

Bagi Banser, cemoohan dan ejekan dianggap cemilan. Andai seluruh pengamat di Jakarta mencacinya mereka tetap akan enjoy dengan kostumnya. Andai seluruh medsos membulinya mereka tetap patuh pada arahan kebijakan kyai-kyai lewat Ansor dan komandannya. Jangankan cuman dibully, keluarga pun dipertaruhkan demi Islam Ahlussunnah wal jamaah.

Semestinya mudah menciutkan nyali banser. Suruh para kyai kompak memarahinya. Suruh guru-guru mereka mengecamnya. Kalau sekedar tweet (ocehan) intelektual tukang malah bagai jamu bagi mereka. La kok tidak? Gotri besi saja dimakan kalau disuruh gurunya.

Mereka adalah sosok-sosok “sami’na wa atho’na”. Meskipun dalam suatu pidato tidak pernah diucapkan: “Al-mukarromun yang terhormat para Banser”. Meskipun tidak pernah diminta cipika cipiki. Meskipun tidak dicium tangannya.

Bagi mereka bukan tulisan, catatan dan penilaian komentator yang diperhitungkan. Hanya catatan Raqib Atid yang mereka takuti.

Kalau saya mah tidak takut pada mereka, tapi takut dengan doa anak-anak istri yang mereka tinggalkan dalam rangka menjaga dan mengamankan syiar Islam Ahlussunnah wal Jamaah. Kalau mereka saya lecehkan, bagaimana kalau anak-anak, istri-istri dan guru-guru mereka marah dan tidak terima, lalu saya diadukan pada Gusti Alloh Swt?

Allohu ya’shimukum wa wayusahhilu umuro ma’isyatikum wa yaqbalu a’malakum.