Paling Nikmat Dimakan dengan Es Kombor

0
997

Semarang, nujateng.com- Mungkin, dari namanya, banyak orang yang mengira makanan ini terbuat dari bantalan rel kereta api. Dinamakan Ganjel Rel karena roti ini bentuknya menyerupai ganjel rel yang berwarna kecoklatan. Bedanya, roti berwarna coklat ini diatasnya ditaburi biji wijen dan enak dimakan. Kalau bantalan rel, ditaburi kerikil dan tentunya, tidak bisa dimakan.

Ya, perjalanan waktu yang teramat panjang tak selamanya mengikis masa lalu. Kalau saja sepotong roti bantat, macam ganjel rel bisa bercerita, sangat panjang durasinya. Kebertahanannya beberapa zaman tak mengurangi kepopuleran olahan yang terbuat dari gaplek itu.

Masih diingat betul oleh Hasanah Rif’an (69), ibu tujuh anak dan 10 cucu warga Kampung Pompa RT 1 RW 2 Kelurahan Kauman, Kecamatan Semarang Tengah saat masih duduk di bangku sekolah dasar. Selain sebagai makanan khas Kota Semarang, kudapan yang dibuat dengan bahan dasar gaplek, gula jawa dan rempah-rempah itu menjadi jajanan favorit ia dan teman-temannya yang lain.

”Kalau dulu, bentuknya memang lebih keras dan bantat. Rasanya juga tidak seperti sekarang, dimodifikasi dengan menambah telur dan mengganti gaplek dengan tepung terigu atau tepung tapioka,” tuturnya.

Kenikmatan menikmati ganjel rel juga diungkapkan oleh Sarimah Shodiq (64) warga Kampung Pungkuran. Saat ia masih remaja, makan ganjel rel dicampur dengan es kombor menjadi kebiasaannya setiap hari saat jam istirahat ataupun pulang sekolah.

”Roti ganjel rel dicelupkan ke dalam semangkuk es kombor, rasanya sangat nikmat. Kalau sekarang, dicelupkan ke dalam susu coklat atau putih. Karena, es kombor sudah tidak ada lagi yang jualan,” ungkap ibu dua anak itu.

Ditemui terpisah, pembuat roti ganjel rel, Marzuki (51) warga Jalan Bangunharjo 387 B, Kelurahan Kauman menuturkan, variasi atau modifikasi cara membuat roti khas Semarang itu dilakukan untuk menarik masyarakat agar tetap menyukai ganjel rel.

”Dulu memang rasanya bantat, jarang orang yang memakannya kalau tidak mencampurnya dengan susu, es kombor atau yang lain. Kalau sekarang, bahan gaplek diganti tepung terigu atau tepung tapioka. Penambahan rempah-rempah seperti cengkeh, kayu manis dan kembang lawang tetap dipertahankan, agar rasa ganjel rel tetap asli,” ujar bapak empat anak yang sehari-hari berjualan bahan roti di Pasar Johar dan mendapat ilmu membuat ganjel rel dari mertua dan istrinya, Aunil Fadhilah (43).

Mas Juki, sapaan akrab Marzuki, juga membeberkan cara membuat ganjel rel. Untuk membuat satu loyang berukuran 24 sentimeter x 24 sentimeter, dibutuhkan 13 butir telur yang dicampur dengan air gula jawa dan rempah-rempah yang telah dihaluskan terlebih dahulu. Setelah dikocok hingga menjadi satu, ditambahkan tepung tapioka dan tepung terigu. Setelah adonan menjadi kenyal, dituangkan ke dalam loyang. Kemudian ditaburi biji wijen dan dioles minyak goreng.

”Butuh waktu 35 menit untuk memasak ganjel rel di dalam oven. Setelah matang dan diangkat. Ganjel rel dipotong sesuai selera masing-masing,” ungkap Mas Juki yang berharap, ganjel rel tetap menjadi makanan khas Kota Semarang.

Karena keahliannya membuat roti, Mas Juki pun dipercaya oleh Takmir Masjid Agung Semarang atau lebih dikenal dengan Masjid Kauman untuk membuat ribuan potong ganjel rel untuk dibagikan kepada masyarakat setiap ramadhan. [KS/002]