Ketua RMI NU: Resolusi Jihad Bukan Hanya Dari NU

0
157
Dalam rangkaian silaturahim daerah Ayo Mondok Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, kali ini menggelar seminar nasional dengan tema “Revitalisasi Pondok Pesantren untuk Penguatan Perguruan Tinggi Islam” di Graha Institut Agama Islam Negeri Surakarta, Kamis (19/10/17). [Foto: Zulfa]

Sukoharjo, nujateng.com- Pendidikan pesantren memiliki dua hal penting yang diemban. Beban pertama ilmiah dan moral. Hal ini menjadi konsen penting yang terus diaktualisasikan dalam dunia pesantren.

Dalam rangkaian silaturahim daerah Ayo Mondok Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, kali ini menggelar seminar nasional dengan tema “Revitalisasi Pondok Pesantren untuk Penguatan Perguruan Tinggi Islam” di Graha Institut Agama Islam Negeri Surakarta, Kamis (19/10/17).

Hadir Ketua Pengurus Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyyah Nahdlatul Ulama KH. Abdul Ghafarrozin, Sejarawan Universitas Sebelas Maret Hermanu Joebagyo, Rektor IAIN Surakarta H. Mudofir dan guru besar Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga H. Abdul Munir Mulkhan.

Hari Santri Nasional yang telah dua tahun ini diperingati menjadi momen penting untuk terus menjaga akhlak santri dan meningkatkan kompetensinya. Pesantren sebagai jangkar keislaman tak dapat dipisahkan dari ilmu agama. Selain itu, pesantren masih mengakui hal yang ghaib.

“Resolusi jihad,  bukan hanya dari NU, Mas Mansur,  PERSIS,  ini kemengan umat Islam Indonesia,” papar KH. Abdul Ghafarrozin yang akrab disapa Gus Rozin.

Kekuatan pesantren tak hanya pengajaran tapi juga pendidkan. Membentuk kepribadian secara utuh terhadap santrinya. Selain itu, santri mudah berdiaspora. Dengan banyaknya jumlah santri  bisa dimulai dari mana saja tak harus linier dengan keilmuan yang dimilikinya.

Selain narasumber yang hadir, tampak Direktur Jenderal Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama H. Kamaruddin.

“Apa yang kami rumuskan bukan hanya ilmu agama,  tapi juga ada life skill, supaya pondok pesantren punya keterampilan. Tapi ilmu agama tetap harus kuat,” ungkap Kamar.

Dalam lintasan sejarah secara garis besar Hermanu membenarkan bahwa peran santri dalam kontribusi bangsa ini sangat besar. Disisi yang lain Abdul Munir menjelaskan pesatren harus mau dan mampu menganalisa perkembangan zaman.

Gus Rozin menambahkan, pihak pesantren seharusnya tidak memandang teknologi sebagai hal yang tabu tetapi lebih sebagai sarana dan mitra dalam penyebaran ilmu dan ideologi Islam yang rahmatan lil alamin.

Langkah kongkret dilakukan IAIN Surakarta dengan membacakan Risalah Solo yang berisikan sembilan poin pada intinya terdapat sinergitas antara perguruan tinggi Islam dan pesantren dalam membangun, mengembangkan kualitas pendidikan masa depan untuk kemajuan bangsa dan peradaban. [Zulfa/002]