Kemenag Sukses Selenggarakan Ibadah Haji 2017

0
142
Memberikan Materi: Kepala Kanwil Kemenag Prov Jateng H. Farhani (tengah), mengisi materi pada malam lailatul ijtima' di kantor PWNU Jateng Jl. Dr. Cipto No. 180 Semarang, Rabu, (11/10/17) malam. Foto: Ceprudin

Semarang, nujateng.com – Kementerian Agama (Kemenag) dinilai sukses dalam menyelenggarakan ibadah haji tahun 2017. Kesuksesan itu merupakan buah keuletan dari para panitia penyelenggar ibadah haji.   

“Alhamdulillah, musim haji pada tahun ini berjalan lancar, sukses tanpa hambatan suatu apa paun. Semua berjalan baik,” kata Kepala Kanwil Kemenag Prov Jateng H. Farhani, pada malam lailatul ijtima’ di kantor PWNU Jateng Jl. Dr. Cipto No. 180 Semarang, Rabu, (11/10/17) malam.

Sebagai informasi, malam lailatul ijtima’ merupakan agenda rutin bulanan PWNU Jateng. Pada pertemuan ini hadir dari jajaran pengurus, Rais Syuriah PWNU Jateng KH Ubaidullah Shadaqoh, Sekretaris Tanfidziyah KH Mohamad Arja Imroni, Ketua PW LP Maarif Agus Sofwan Hadi beserta perwakilan Banom dan Lajnahnya.

Malam pertemuan rutinan itu juga terasa istimewa karena dihadiri Aparatur Sipil Negara (ASN) dari Kementerian Agama. ASN dari Kemenag Kota Semarang, Kabupaten Demak, Kendal, dan Kabupaten Semarang pun turut hadir utamanya bidang penyelenggaraan haji.

Farhani menambahkan, dalam mengurus calon jamaah haji yang jumlahnya ratusan ribut tidak mudah. Dari mulai yang paling sederhana, seperti mencocokkan nama lengkap, nomor induk kependudukan, dan tahun kelahiran. Meskipun terlihat sederhana, ternyata mencocokkan identitas cukup rumit.

NIK Berbeda

”Mendata jamaah haji itu tidak mudah. Ada yang namanya dalam KTP, KK, dan Ijazahnya berbeda-beda. Belum lagi NIK nya dalam KTP dan KK juga berbeda. Bahkan ada juga yang tanggal lahirnya itu berbeda, ini jamaah jumlahnya ratusan ribu lho,” papar Farhani yang juga berkali-kali jadi petugas lapangan musim haji ini.

Banyaknya identitas calon jamaah yang berbeda-beda membuat petugas ibadah haji semakin kerja ekstra. ”Kami sampai ngundang kepala-kepala desa untuk koordinasi berkali-kali, hingga datanya sama. Kalau tidak diseragamkan, akan menjadi masalah ketika membuat pasport,” terangnya.

Mengurus pasport sebetulnya merupakan kewajiban masing-masing calon jamaah. ”Tapi apa mungkin calon jamaah sepuh-sepuh, mayoritas lulusan SD, yang kebingungan ketika ke kantor imigrasi. Begitu jadi pun pasport tidak diberikan kepada jamaah, karena banyak kasus yang hilang. Kan kasian nggak jadi berangkat,” tambahnya.

Pada tahun ini, secara nasional jumlah peserta jamaah haji se Indonesia sebanyak 221.000 jamaah. ”Dari jumlah ratusan ribut itu, 73 persennya masuk pada kategori resiko tinggi. Tapi meskipun sebagian besar beresiko tinggi, jamaah haji yang meninggal hanya 109 jamaah,” terangnya.

Rais Syuriah PWNU Jateng KH Ubaidullah Shadaqoh pada kesempatan itu menyampaikan terima kasih kepada Kepala Kanwil Kemenag Jateng yang telah memberikan ruang bagi warga NU untuk mengisi beberapa pos di Kemenag.

Berkenaan dengan kuota ibadah haji, Rais Syuriah menanyakan perihal kuota pendamping haji perwakilan pesantren yang hanya enam orang. Padahal, di Jateng jumlah pesantren di Jateng lebih dari 45 ribu pesantren. Tentu jumlah itu tidak sebanding dengan kuota pendamping haji yang hanya enam orang. [Ceprudin/005]