Jalan Cinta Para Pencari Tuhan

0
236

Oleh: Sophia Salim

Judul: Jalan Hakikat
Penulis: KH. M. Luqman Hakim
Halaman: iii+132 halaman
Penerbit: Cahaya Sufi
Cetakan: Pertama (2017)
ISBN: 978-979-17649-5-7

“Bagaimana hatimu cemerlang sedangkan gambaran dunia seisinya ngecap di hatimu. Bagaimana engkau berjalan menuju Allah, sedangkan pundakmu penuh dengan beban syahwat dan nafsumu?” Kalimat yang sungguh menawan, bagi para pencari Tuhan.

Buku ini menyuguhkan perbincangan antara Pardi, Dulkamdi, Kang Soleh dan Cak San di Kedai Sufi. Di samping ngopi, mereka belajar tentang hakikat.

“Tak ada yang lebih sunyi dibanding alam hakikat, tetapi juga tak ada yang lebih ramai dibanding wilayah hakikat.”

Dalam sekali maknanya kan? Tenang, dalam buku ini KH. M. Luqman Hakim menyuguhkan cerita-cerita natural sehingga pemahaman tentang jalan hakikat menjadi begitu mudah untuk kita pahami.

Kenapa banyak yang menentang tasawuf? Secara akali, orang yang menentang tasawuf  karena mengamati tasawuf dari kulit luarnya saja, lalu membuat justifikasi. Cara pandangnya jadi sebelah mata. Justru tasawuf itulah intisari ajaran Islam. Karena dalam agama kita, ada 3 amaliyah, Islam, iman, dan ihsan.

Islam menjadi disiplin syariat, iman menjadi disiplin tauhid, dan ihsan menjadi disiplin tasawuf. Dan hal demikian sudah muncul sejak zaman Nabi Muhammad Saw.

Kang Sholeh menceritakan, “Mayoritas umat ini lebih banyak berburu pahala dan janji Allah Swt. Dalam segala gerak gerik ibadahnya. Padahal yang lebih utama adalah ibadah dan kepatuhannya itu sendiri. Sebab kepatuhan dan ubudiyah yang dituntut oleh Allah, dan menjadi hak-Nya, itu lebih utama dibanding hak kita yang besok hanya akan kita raih di akhirat.”

Ibnu Athoillah lalu menegaskan, mana yang lebih utama, tuntutan manusia atau tuntutan Allah?

“Di sinilah lalu berlaku pandangan: Taat itu lebih utama dibanding pahalanya; doa itu lebih utama dibanding ijabahnya; istiqomah itu lebih utama dibanding karomah; berjuang itu lebih utama dibanding suksesnya; sholat dua rakaat itu lebih utama ketimbang surga seisinya; bertobat itu lebih utama ketimbang ampunan; berikhtiar itu lebih utama ketimbang hasilnya; bersabar itu lebih utama ketimbang hilangnya cobaan; dzikrullah itu lebih utama dibanding ketentraman hati; wirid itu lebih utama ketimbang warid; dan seterusnya.”

Hasan Bashri suatu kali ditanya, “bagaimana orang-orang yang rajin beribadah berwajah bagus?” Ia menjawab, “karena mereka bercengkrama dengan Allah Yang Maha Rahman lalu Allah pun menghimbaskan cahaya keindahan-Nya kepada mereka.”

Sya’wanah berkata kepada para sahabatnya: “Biasakanlah hati kalian bersedih dan mencintai Allah, kemudian tidak peduli ketika meninggal dunia. Karena tidak ada yang dicintai selain Allah.”

Masih ingatkah kata Ibnu Athoillah? “Maha Besar Allah manakala si hamba melakukan ibadah kontan, lalu Allah menunda balasan-Nya. Allah senantiasa membalas amal hamba seketika, sama sekali tidak pernah menunda, walaupun kelak di akhirat masih diberi balasan lebih besar lagi.”

“Adapun balasan seketika yang kita terima adalah bertambahnya dekat kita kepada Allah, bertambah baik hati kita, bertambah terpuji akhlak kita, bertambah sabar, tawakkal, ridho, ikhlas, yaqin, ma’rifat, dan mahabbah kita kepada Allah Ta’ala. Begitu kata syarh Al-Hikam,” Kang Sholeh menjelaskan.

Karena itu, Ibnu Athoillah as-Sakandary melanjutkan, “Cukuplah bahwa yang disebut balasan bagimu, adalah bahwa Allah ridho padamu sebagai hamba yang taat kepada-Nya.”

Pagi itu Dulkamdi memandangi ke arah bintang kejora. Pardi pun duduk di sampingnya, ikutan memandang bintang pagi yang indah itu. Sesekali memandang Dulkamdi.

“Kamu jatuh cinta, Dul?”

“Jatuh cinta? Iya.”

“Siapa lagi yang kau pacari?”

“Gusti Allah…”