Sikap Ibnu ‘Arabi Kepada Pencacinya

0
860
Foto: http://www.dotmsr.com

Oleh: KH Ubaidullah Shodaqoh
(Rais Syuriah PWNU Jawa Tengah)

Dituduh dan difitnah sebagai orang sesat, zindiq, liberal dan sebutan sejenisnya, Syaikh Abu Bakr Muhyiddin Muhammad ibn Ali ibn Muhammad ibn Ahmad ibn Abdillah al-Hatimy al-Tho’iy tetap konsisten pada pemahaman dan pendiriannya. Seorang tokoh yang dilahirkan pada 17 Ramadlan 560 H itu sedikitpun tak menyimpan dendam bahkan merasa kasihan dan selalu mendoakan kebaikan untuk orang yang mencaci dan melaknatinya.

“Polan”, nama samaran, bersumpah untuk mencaci dan melaknat Syaikh sepuluh kali sehari. Setelah beberapa tahun menjalankan sumpahnya, Polan yang juga salah satu tokoh di masyarakat Damaskus itu meninggal dunia. Syaikh ibn Arabi rahimahulloh bukan merasa lega telah mati orang yang selalu mencacinya tapi malah bersedih bahkan menghadiri upacara pemakamannya.

Sekembalinya dari pemakaman, Ibn Arabi duduk menghadap kiblat. Pada pagi hari makanan yang disajikan pada beliau pun tak disentuh, beliau tetap hudlur (khusyuk, red) dalam munajatnya. Keadaan demikian ini berlanjut sampai setelah shalat Isya’. Wajah beliau tampak sumringah gembira dan penuh dengan senyum lega. Dan meminta seorang khadimnya mengambilkan makan malamnya.

Salah seorang santrinya memberanikan diri bertanya apa yang sedang terjadi. Beliau berkata:

التزمت مع الله اني لا آكل ولا اشرب حتى يغفر لهذا الذي يلعنني و ذكرت له سبعين الف لا اله الا الله فغفر له

“Saya mengharuskan diriku di hadapan Allah Ta’ala bahwa saya tidak akan makan dan minum sedikitpun sebelum Allah Ta’ala mengampuni orang yang selalu melaknat dan mencaciku itu. Pengampunan itu baru diberikan setelah saya hadiahkan bacaan tahlil sebanyak 70 ribu kali.” (Ibnu ‘Arabi, Dzakhâ`ir al-A’lâq Syarh Tarjumân al-Asywâq).