Peluit Panjang Perang Jawa

0
315
Wisma Residen Belanda tempat ditangkapnya Pangeran Diponegoro yang menandai berakhirnya Perang Jawa. Foto: Salam

Oleh: Tedi Kholiludin

Sekretaris PW Lakpesdam Nahdatul Ulama Jawa Tengah

Di ruangan yang luasnya kurang lebih 20 meter persegi itu, tiga kursi tertata rapi. Di tengahnya ada sebuah meja kecil dari awal abad 19 yang tingginya melebihi tiga kursi yang mengelilinya. Satu kursi lainnya ada di dalam lemari. Kursi ini begitu legendaris. Mereka yang berkunjung kesana, kerap mencabut satu demi satu rotannya untuk dibawa pulang. Agar terjaga, maka kursi yang menghadap ke pintu masuk dikerangkeng didalam sebuah lemari.

Kursi yang ditutup dengan kain putih itu yang pada 28 Maret 1830 menjadi tempat duduk Pangeran Diponegoro. Ruangannya sendiri, pada tahun-tahun tersebut merupakan tempat baca Hendrik Merkus baron de Kock atau Jenderal De Kock, panglima tentara Belanda. Kursi yang terletak di sebelah barat, merupakan tempat duduk De Kock. Dua lainnya ditempati Letkol W.A. Roest dan J.J. Roeps yang berperan sebagai juru bahasa mendampingi De Kock.

Di belakang sebelah kanan empat kursi itu ada jubah panjang di dalam sebuah lemari. Panjangnya 165 cm. Jubah itu yang digunakan oleh Diponegoro ketika ditangkap De Kock. Di pojok kiri ruangan, al-Qur’an bersanding dengan Kitab Taqrib, menunjukkan bahwa ia adalah seorang santri yang soleh. Kitab Taqrib yang ditulis tangan itu, besar kemungkinan adalah milik Kyai Nur Iman dari Mlangi.

Semua barang-barang itu, masih terjaga dengan baik. Begitu pun dengan cangkir, teko serta bale-bale yang digunakan oleh Diponegoro untuk melaksanakana kewajiban sholat. Kita bisa menemukannya di Museum Kamar Pengabadian Pangeran Diponegoro yang dulu digunakan sebagai tempat perundingan. Museum tersebut ada di Kompleks Kantor Badan Koordinasi Wilayah (Bakorwil) II Jawa Tengah, Jalan Diponegoro nomor 1, Magelang.

***

Perang Jawa (1825-1830) merupakan episode paling melelahkan dalam sejarah pemerintahan Belanda di Hindia. Menurut Peter Carey, inilah untuk kali pertama pemerintahan Kolonial Eropa berhadapan langsung dengan pemberontakan masyarakat hampir di semua wilayah Jawa Tengah dan Timur serta banyak daerah pesisir. Keuangan mereka terkuras. 20 juta Gulden. 8000 serdadu Belanda tewas, termasuk 7000 orang pribumi yang membantu mereka. Sepertiga penduduk Jawa (sekitar dua juta orang) sangat menderita. 200.000 diantaranya menjadi korban.

Inilah situasi yang oleh Carey disebut sebagai akhir dari tatanan lama di Jawa. Perang yang mengakhiri sistem yang sebenarnya sudah cukup matang ditenun ketika Willem Daendels berkuasa (1830-1811). Perubahan itu terkait dengan masa “Perserikatan Dagang Hindia Timur Belanda, ketika hubungan antara Batavia dan kerajaan-kerajaan di Jawa tengah-selatan masih bersifat diplomatik tingkat kedutaan antar-negara berdaulat, ke masa ‘kolonial tinggi’ ketika kerajaan-kerajaan tersebut tunduk pada kekuasaan Eropa.”

Banyak alasan mengapa rakyat melakukan perlawanan. Pemerintahan Belanda-Prancis di bawah Daendels dan Inggris di bawah komando Thomas Stamford Raffles (1811-1816) membuka paksa wilayah timur Yogya, harta kraton dikuras habis dan melucuti rajanya. Setelah itu, dibuatlah perjanjian baru yang tidak menguntungkan rakyat. kebutuhan dana pemerintahan Belanda begitu mendesak. Tak hanya soal itu, masalah kesehatan (wabah kolera di tahun 1821) dan lingkungan yang buruk juga mendera. Situasi ini digenapi oleh harga beras yang meninggi. Lengkap sudah menjadi alasan meletusnya perang Jawa. Perang Jawa merupakan pemberontakan yang terjadi di lingkungan kraton, karena kesulitan ekonomi, bukan ambisi kekuasaan.

Dalam situasi inilah muncul pemimpin yang berwibawa, Pangeran Diponegoro (1785-1855). Dialah yang menyebut dirinya sebagai Ratu Adil Jawa. Selama berlangsung Perang Jawa, Diponegoro berulang-ulang menyebut tentang tujuannya untuk mendirikan negara agama (Islam) di Jawa (mangun luhuripun agami Islam ing Tanah Jawa).

Faktor agama ini yang menjadi magnet untuk kemudian menghimpun banyak unsur masyarakat dibawah panji Islam-Jawa. Narasi tentang perang sabil, dan harapan kembalinya tatanan yang luhur dalam masyarakat Jawa membantu pembentukan jatidiri masyarakat Jawa yang mendukung Diponegoro. Kesinambungan antara persoalan ekonomi dengan pengharapan akan Ratu Adil menjelma menjadi sebuah kekuatan sosial yang meluas.

Diponegoro merupakan tokoh penting Islam tradisional, yang menjangkarkan nilai lingkungan kraton Jawa Tengah-selatan, budaya Jawa, serta juga mewartakan masa depan. Ia membentangkan sebuah pola yang dalam gerakan sosial dikenal sebagai gerakan messianiastik. Diponegoro hidup diantara dua dunia; mereka yang bersiap menerima keuntungan dari hadirnya masyarakat Eropa dengan mereka yang memandang tatanan nilai Islami sebagai pegangan dalam komunitas yang kehilangan kendali tradisionalnya.

Diponegoro dan Perang Jawa mewariskan sebuah semangat yang terus relevan; internalisasi nilai-nilai Islam dalam identitas masyarakat Jawa dan “Indonesia” pada eranya.

***

25 Februari 1830 atau bertepatan dengan 1 Ramadlan 1246, Diponegoro sudah berada di Menoreh. Ia sudah disana sejak 4 hari lalu bersama 700 orang rombongan perjalanan. Diponegoro awalnya hendak menunggu kembalinya De Kock dari Batavia di Bagelen Barat, namun Jan Baptist Cleerens, utusan Jenderal De Kock, membujuknya untuk terus melanjutkan perjalanan ke Menoreh.

Dua minggu Diponegoro berada di perbukitan yang sering menjadi batas alamiah tiga kabupaten; Magelang, Purworejo dan Gunung Kidul. Dalam keadaan sakit, Diponegoro melanjutkan perjalanan ke Magelang pada 8 Maret sebagai bagian dari upaya diplomasi dengan Belanda. Ketika tiba di Magelang, pasukan Diponegoro bertambah menjadi 800 orang. Setiap hari, lima ekor kerbau disembelih untuk kebutuhan pangan pasukan ini.

Belum ada perjanjian apapun antara Diponegoro dengan De Kock hingga saat itu. Diponegoro hanya beramah tamah dengan De Kock. Setelah itu, Diponegoro dan prajuritnya menjalankan puasa di sebuah kawasan perkemahan di barat-laut Wisma Residen (tempat perjanjian dilakukan) yang dikenal dengan daerah Metesih.

De Kock menyadari bahwa Diponegoro tidak akan benar-benar menyerahkan diri tanpa syarat. Salah seorang telik sandi De Kock yang turut dalam pasukan Diponegoro, Tumenggung Mangunkusumo, mengabarkan kalau Diponegoro keukeuh ingin mendapatkan pengakuan sebagai sultan atas bagian selatan Jawa. Pejabat Belanda lain melaporkan kalau Diponegoro menghendaki kedudukan sebagai “raja pemelihara dan penata agama di seluruh Tanah Jawa”(ratu paneteg panatagama wonten in Tanah Jawa sedaya).

Tuntutan itulah yang membuat De Kock memutuskan akan bersikap tegas setelah puasa berakhir. Pada 25 Maret, pesan rahasia dikirimkan De Kock pada dua perwira infanteri seniornya, Letkol Louis du Perron dan Mayor A.V. Michiels. Inti perintahnya adalah jika Diponegoro datang dan berbicara tentang syarat perdamaian, maka semua pasukan militer harus siap untuk melakukan penangkapan.

Diponegoro berangkat pukul 8 pagi pada hari yang sudah ditentukan, 28 Maret 1830, kata Carey, tanpa rasa curiga. Di Wisma Residen, Diponegoro disambut Residen Frans Gerhardus Valck dan dipersilahkan menuju ruang baca De Kock.

De Kock memulai percakapan dengan meminta Diponegoro untuk tak lagi kembali ke Metesih. Dikutip dari Carey, Diponegoro menjawab, “mengapa saya tidak boleh pulang? Apa yang saya lakukan adalah sebagai seseorang sahabat yang sesungguhnya datang sebentar. Sebagai kebiasaan adat di Jawa pada selesai puasa, yang muda mendatangi ruah yang dituakan untuk menghilangkan semua kesalahan. Yang tua adalah (anda) jenderal jadi (adat-istiadat) yang sama berlaku juga.”

Jawaban De Kock kemudian membuat kaget Diponegoro. “Alasan saya menahan adalah saya ingin agar semua persoalan diselesaikan hari ini juga,” kata De Kock. Inilah yang mengagetkan. Ia tak berpikir bahwa ada masalah yang harus diselesaikan. Pertemuannya dengan De Kock, murni untuk silaturahmi pasca lebaran.

Valck menguatkan jawaban De Kock, bahwa hal utama yang harus dilakukan Diponegoro selama di Magelang, adalah menyelesaikan urusan dengan Belanda. Salah satu panglima perang Diponegoro, Mertonegoro menyela dan menawarkan hari lain untuk menyelesaikan urusan politik. Namun, De Kock menjawab tegas, “Tidak! Hal itu tak dapat diterima. Dia suka atau tidak, saya ingin menyelesaikan semuanya sekarang!”

Peluit panjang ditiup, menandai usainya Perang Jawa. Inilah babak akhir perlawanan Diponegoro. Pasukan Belanda pimpinan Du Perron semakin mendekat ke Residen. Diponegoro sempat bertanya pada pimpinan pasukan perangnya tentang kemungkinan penangkapan itu. Mereka hanya tertunduk lesu dan tak bisa menjawab apapun. Di Metesih, pasukan Belanda sudah melucuti persenjataan pasukan Diponegoro.

Diponegoro ditangkap dan dinaikan kereta dan sampai di Semarang esok harinya. Sang penyuka roti putih hangat itu kemudian berlayar ke Manado pada 4 Mei-12 Juni 1830.