NU CARE LAZISNU adalah “Raksasa” yang Sedang Tidur

0
312
Guntur Raditya Wardhana. Foto: Abdus Salam

Guntur Raditya Wardhana, ketika dikenalkan dengan Lembaga Amil Zakat Infaq Shadaqah Nahdlatul Ulama Jawa Tengah (NU CARE LAZISNU Jateng) oleh seorang sahabatnya langsung  mengatakan “iya” dan siap untuk menyalurkan zakatnya melalui lembaga zakat milik Nahdlatul Ulama Jawa Tengah ini. Menurutnya, NU CARE LAZISNU Jateng ibarat “raksasa” yang sedang tidur.

“Kultur saya sebagai warga nahdliyin tentu sudah tidak ragu lagi untuk menyalurkan ZIS (Zakat Infaq Shadaqah) ke NU CARE LAZISNU,” ungkapnya saat ditemui di kantornya, Suara Merdeka Tower lt. 12 Jl. Pandanaran No. 30 Kota Semarang, Sabtu (9/9/17) siang.

Awalnya zakat yang disalurkannya ke NU CARE LAZISNU Jateng hanyalah zakat pribadi dirinya sendiri, namun sebagai seorang pemimpin perusahaan yang mempunyai banyak karyawan rasanya kurang etis jika tidak mengajak karyawannya yang muslim untuk melakukan kebaikan, yaitu menyalurkan zakatnya melalui NU CARE LAZISNU Jateng.

Tidak hanya kulturnya yang warga nahdliyin, tapi karena kemudahan yang diberikan NU CARE LAZISNU Jateng untuk para muzakki membuat Guntur lebih nyaman menyalurkan zakatnya ke lembaga zakat milik NU Jawa Tengah ini.

“Dengan NU CARE LAZISNU selama ini kita nyaman-nyaman saja, komunikasi juga terjalin dengan baik,” terang pegusaha muda ini.

Pria kelahiran Semarang 17 Juni 1987 ini menceritakan kedekatannya dengan NU CARE LAZISNU Jateng karena NU CARE LAZISNU Jateng mempunyai potensi besar untuk menghimpun dan mendistribusikan ZIS secara profesional. Awalnya, pria yang akrab disapa Guntur itu, sebelum mengenal NU CARE LAZISNU Jateng dirinya menyalurkan zakatnya dilakukan sendiri. Namun menurut alumni UGM ini, zakat dengan mendistribusikan sendiri kurang tepat karena belum tentu pendistribusiannya tepat sasaran.

“Maka dengan adanya NU CARE LAZISNU Jateng jadi sangat menolong sekali,” tutur suami Fertilina Hardiyani.

“Raksasa” Tidur

Ditemani secangkir teh panas di meja ruangannya, ayah dari saudara kembar Kidung dan Kirana ini berharap besar kepada NU CARE LAZISNU Jateng menjadi semakin besar dan  mampu memberikan manfaat yang besar pula bagi masyarakat luas tidak hanya warga NU saja. Karena jika NU CARE LAZISNU Jateng semakin besar, mau membuat program yang besar dan bermanfaat bagi masyarakat jadi lebih mudah.

“Saya berharap NU CARE LAZISNU Jateng semakin besar, NU CARE LAZISNU Jateng ini bagi saya adalah raksasa yang sedang tidur,” tegasnya.

Bisa dibayangkan saja seberapa banyak warga yang selama ini belum sadar akan zakat, padahal menurutnya, ketika bertemu dengan orang lain ketika ditanya “kamu NU atau apa? Pasti jawabnya NU”.  Guntur mencotohkan perusahaan yang dipimpinnya itu, meski  bukan perusahaan yang besar, tapi kontribusi zakat yang disalurkan ke NU CARE LAZISNU Jateng cukup signifikan.

Kalau perusahaan-perusahaan lain yang mengaku NU meniru perusahaan Laxita Paramitha dengan menyalurkan zakatnya ke NU CARE LAZISNU Jateng, pasti untuk mengumpulkan zakat dengan nilai ratusan milyar sangat mudah. Harapannya NU CARE LAZISNU Jateng menjadi lembaga zakat yang menjadi jujukan dan rujukan referensi yang dikenal dan disayang warga NU khususnya dan masyarakat Jawa Tengah secara umum, sehingga warga NU mau menitipkan zakatnynya ke NU CARE LAZISNU Jateng.

Zakat itu memang urusan pribadi masing-masing, mau membayar zakat kepada siapa itu urusan dirinya dengan Tuhannya. Namun bagi pria berkacamata ini, sebagai seorang pemimpin harus bertanggungjawab terhadap apa yang dipimpinnya. Jadi sebagai seorang pemimpin Guntur merasa berkewajiban paling tidak untuk mengingatkan karyawannya sadar akan mengeluarkan zakat.

“Saya gak mau dong nanti ketika dihisab, dimintai tanggungjawab zakat karyawannya,” tutur Guntur dengan senyum.

Kedekatan perusahaan yang dipimpin Guntur dengan NU CARE LAZISNU Jateng semakin terjalin harmonis, meski awal-awalnya menyalurkan zakat ke NU CARE LAZISNU Jateng sifatnya sukarela. Namun karena kemudahan yang diberikan NU CARE LAZISNU Jateng dalam penghitungan ZIS dan mengingat kesadaraan dari karyawan untuk membayar zakat, maka Guntur mewajibkan semua karyawannya yang muslim wajib dipotong gajinya untuk membayar zakat dan disalurkan ke NU CARE LAZISNU Jateng.

“Ini adalah tanggung jawab saya sebagai pemimpin perusahaan,” jelasnya.

Pria yang mempunyai putri kembar ini mengajak kepada perusahaan lain mengikuti jejaknya dalam menerapkan zakat dan berharap mampu menyalurkan ZIS-nya ke NU CARE LAZISNU Jateng yang sudah terbukti dan profesional dalam menghimpun dan manyalurkan ZIS. [Abdus Salam/003]