Arisan Kambing Kurban

0
217

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Bapak Ustadz yang saya muliakan, saya bersama 9 orang tetangga yang satu mushalla mengadakan arisan dengan membayar uang sebanyak Rp. 20.000,- setiap bulan. Lalu uang itu digunakan untuk membeli satu kambing yang dijadikan hewan kurban pada Hari Raya Idul Adha. Setiap memasuki tanggal 1 Dzulhijjah diadakan undian, lalu nama yang keluar menjadi orang yang memiliki kambing tersebut (mudlahhi).

Pertanyaannya, apakah kurban dengan cara arisan seperti itu diperbolehkan? Mendahului atas jawaban Bapak Ustadz, saya sampaikan terimakasih.

Sunandar
081914234xxx

Jawab:
Udlhiyah (berkorban) adalah ibadah sunnah yang dianjurkan Nabi Muhammad. Namun bagi orang yang bernazar, udlhiyah menjadi wajib hukumnya. Udlhiyah adalah nama bagi hewan ternak yang disembelih pada hari kurban (tanggal 10 Dzulhijjah) dan hari-hari tasyriq (11, 12, 13 Dzulhijjah) dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah Swt. Hewan ternak yang disembelih adalah unta untuk 7 orang, sapi/kerbau untuk 7 orang, dan kambing untuk 1 orang. Meskipun demikian, berkurban dengan kambing lebih utama karena bisa menyembelih atas nama 1 orang.

Hewan yang bisa dijadikan kurban adalah:

Pertama; kambing kibas yang putus giginya (Jawa: powel) berumur satu tahun penuh dan menginjak dua tahun. Jika belum usia satu tahun tapi giginya sudah putus dan umurnya lebih dari enam bulan dianggap cukup untuk dijadikan hewan kurban.

Kedua; kambing Jawa yang sudah berumur dua tahun lengkap dan menginjak tiga tahun. Tidak sah kambing jawa yang sudah putus giginya tapi umurnya belum dua tahun dijadikan hewan kurban.

Ketiga; unta yang sudah berumur lima tahun dan menginjak enam tahun.

Keempat; sapi atau kerbau yang sudah berumur dua tahun dan menginjak tiga tahun.

Hewan yang dijadikan kurban harus berkualitas karena bertujuan mendekatkan diri kepada Allah dan bersedekah kepada sesama. Untuk menjaga kualitas ini tidak diperbolehkan menjadikan hewan kurban dengan empat ciri: hewan yang buta, hewan yang pincang, hewan yang sakit, dan hewan yang kurus.

Waktu berkurban adalah sejak waktu shalat Idul Adlha sampai akhir hari tasyriq.  Ketika menyembelih hewan kurban disunnahkan membaca basmalah, membaca shalawat, menghadap qiblat, membaca takbir, dan berdoa supaya hewan kurbannya diterima Allah. Setelah disembelih, hewan kurban dibagikan kepada umat Islam, khususnya fakir-miskin. Untuk kurban wajib (seperti nadzar), bagi orang yang berkurban tidak boleh memakan dagingnya. Sedangkan kurban sunnah diperbolehkan orang yang berkurban untuk memakan dagingnya maksimal sepertiga. Lebih utama jika orang yang berkorban menyedekahkan seluruh dagingnya kecuali hanya sedikit saja untuk mendapatkan berkah daging kurban. Hewan kurban tidak boleh dijual, baik dagingnya, rambutnya, dan kulitnya (baca dalam kitab Tausyih ala Ibn Qasim karya Syekh Muhammad Nawawi bin Umar al-Bantani al-Jawi, h. 268-271).

Bagaimana status kurban dengan modal iuran seperti pertanyaan di atas? Hukumnya adalah sah karena hewan kurbannya mu’ayyan (ditentukan) dan orang yang berkurban juga ditentukan lewat undian. Meskipun kambing hanya untuk satu orang, tapi orang yang berkurban bisa memasukkan orang lain dalam pahala berkorban sehingga pahalanya bisa dirasakan banyak orang, khususnya jamaah yang mengikuti program arisan kurban (Baca: Al-Iqna’ karya Muhammad Asy-Syarbini Al-Khatib, juz 2, h. 279).

Program seperti ini sudah dijalankan di banyak tempat dan hasilnya bagus karena menyemarakkan Idul Adlha dengan korban yang dianjurkan Nabi. Program ini termasuk kategori al-wasail bi hukmil maqaasidi (hukum perantara sama dengan hukum tujuan) yang mendorong terjadinya budaya fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan), dan termasuk dalam hadis Nabi “man sanna fil Islami sunnatan hasanatan” (orang yang membuat tradisi baik dalam Islam) yang pahalanya akan selalu mengalir kapanpun sepanjang ada orang yang mengikutinya. Wallahu A’lamu Bish Shawab.

Dr. Jamal Ma’mur Asmani, M.Ag
(Dosen IPMAFA Pati, Alumni Perguruan Islam Mathaliul Falah Kajen Pati, Ponpes. Raudlatul Ulum Kajen, Ponpes. Sunan Ampel Jombang, Ponpes. Salafiyah Seblak Jombang, Ponpes. Al Aqobah Jombang dan Alumni S3 UIN Walisongo Semarang).