Tiga Model Iman

0
130
[Foto: http://mawdoo3.com]

Oleh: Tedi Kholiludin
(Sekretaris PW Lakpesdam NU Jawa Tengah)

Ada beragam jalan bagi seseorang untuk mengekspresikan apa yang diyakininya, diimaninya. Satu juta kepala, satu juta cara. Mungkin susah menebak kedalaman iman seseorang. Bahkan mustahil. Tapi, mencermati bagaimana iman itu terekspresikan, bukan perkara yang terlampau sulit untuk dikerjakan. Setidaknya itu yang saya lihat.

Secara umum, dalam amatan pendek saya, ada tiga model seseorang mengekspresikan keberimanannya. Saya sengaja pakai kata “model” setelah sebelumnya sempat terpikir untuk memakai “level”. Kalau menggunakan level, saya khawatir jatuh pada subjektivitas, meski sejatinya itu sah-sah saja. Toh pada banyak bagian tulisan ini, saya sulit menghindari yang subjektif itu. Hanya saja, sebagai sebuah deskripsi, saya akan menggunakan kata “model” terlebih dahulu.

Model pertama adalah iman-ofensif, iman yang “menyerang”. Ada orang atau kelompok yang di satu sudut, meyakini apa yang diimaninya, tetapi cara mengekspresikannya adalah dengan “menyerang” apa yang diyakini oleh kelompok lain. Iman di level ini seperti pengejawantahan salah satu filosofi dalam sepakbola, pertahanan terbaik adalah menyerang. Atau mirip propaganda sebuah pemerintahan, tentang upaya untuk membangun ketahanan nasional, tetapi caranya, adalah dengan mencari-cari “musuh bersama”, padahal wujudnya tak pernah ada.

Iman-ofensif ini agak membingungkan bagi beberapa kalangan. Jika kita sudah yakin, mengapa perilakunya seperti mencerminkan ketakutan dan kekhawatiran. Karena tidak sesuai dengan akidah saya misalnya, maka jangan ada patung, tidak boleh bergaul dengan mereka yang berbeda keyakinan dan seterusnya. Seolah-olah, kadar keimanan akan luntur jika seseorang berhadapan dengan mereka yang tak berkeyakinan sama.

Iman berikutnya adalah iman-pasif. Mungkin ini adalah model atau ekspresi keberimanan pada umumnya. Mereka yakin terhadap ajaran agamanya, tetapi tidak mau atau menghindari untuk bercakap-cakap tentang keyakinan yang lain. Entah, karena takut keseleo lidah, salah memahami, atau memang tidak ingin membuka ruang untuk saling berinteraksi dalam aspek teologis. Pada dasarnya, mereka siap untuk berinteraksi secara sosial, tetapi menghindari pembicaraan dalam tema-tema keagamaan.

Meski tidak ada penilaian yang negatif terhadap mereka yang berbeda, tetapi dalam sebuah kehidupan multibudaya, rasa-rasanya, bertahan dengan sikap seperti ini agak kurang bijak. Selain menutup kesempatan untuk belajar tentang agama lain, sikap ini menghilangkan peluang untuk passing over, berziarah lintas batas.

Yang berikutnya adalam iman-aktif atau iman-progresif. Kategori ini ideal, setidaknya menurut saya. Sembari kita meyakini apa yang kita percayai, di sudut lain, kita membuka ruang selebar-lebarnya untuk berdialog, belajar dan memahami keyakinan orang lain dari sudut pandangnya. Keterbukaan ini kunci. Memahami ritus agama lain, ya dari sudut pandang “mereka” bukan “kita”. Karena sudah yakin, tentu saja tidak ada kekhawatiran sedikit pun soal lunturnya akidah. Wong sudah yakin kok.

Ketika saya belajar tentang Yesus bersama teman-teman Kristen, iman saya sebagai seorang muslim menjadi semakin kokoh. Saya diperkaya oleh cerita dan narasi tentang Yesus yang begitu heroik melawan kedzaliman. Saya menjadi semakin yakin dengan ajaran Islam yang cinta damai setelah mempelajari dengan saksama kisah hidup Mahatma Ghandi, Bunda Theresa dan lainnya. Itulah iman yang aktif.

Kategorisasi di atas, tentu tidaklah mutlak sesuai dengan faktanya. Karena masalah iman tentu lebih kompleks dari kategorisasi-kategorisasi di atas. Namun, kita bisa dengan bijak menyikapi, harus seperti apakah hidup bersama yang lain itu.