Tidak Hanya Membaca Kitab, Tapi Juga Realitas

0
534

Semarang, nujateng.com- Salah satu faktor yang menjadikan pesantren memliki daya tahan sosial yang lebih kuat adalah karena kemampuannya beradaptasi dengan lingkungan sosial. Karenanya, santri sejatinya memiliki kepekaan untuk melihat realitas sosial yang mengitarinya. Upaya tersebut akan semakin mendapatkan momentumnya, jika santri bisa mengoptimalkan “kehidupan sementaranya” di pesantren.

Sekretaris Pengurus Wilayah Lakpesdam Nahdlatul Ulama, Tedi Kholiludin menyampaikan hal tersebut dalam Ngaji Kebangsaan yang dihelat oleh Pondok Pesantren Assalafy Al-Asror, Gunungpati, Kota Semarang, Sabtu (19/8). Diskusi yang diikuti oleh 70-an santri-mahasiswa itu dilaksanakan terutama untuk memberikan bekal kepada santri untuk memahami kenyataan sosial secara lebih komprehensif.

Tedi menambahkan, bahwa selain lekat dengan label pencari ilmu, identitas santri memiliki kekhasan lainnya, yakni kesediaannya untuk menciptakan perubahan dalam masyarakat. “Apalagi jika santrinya, santri mahasiswa. Saya kira, peluang untuk memahami kenyataan sosial mungkin akan lebih besar,” terang pria kelahiran Kuningan, 27 Juli 1981 tersebut.

Dalam memahami kenyataan, kata Tedi, ada dua hal yang mungkin kita lakukan. Yang pertama, kita hanya menafsirkan dan memaknai apa yang kita lihat. “Ini biasanya dilakukan oleh para peneliti. Dalam ilmu sosial, mereka masuk kategori penganut sosiologi keteraturan. Yang dilakukannya sebatas menafsirkan kenyataan saja, dan menjadi karya penelitian,” ujarnya. Kedua, cara pandang yang tak hanya sebatas menafsirkan tetapi juga punya kehendak untuk melakukan perubahan. “Idealnya, santri itu tidak hanya membaca kitab, tetapi juga membaca kenyataan. Tidak sebatas membaca yang tersurat tapi juga yang tersirat,” sambung ayah dari Najma Syafa Fathiyya menegaskan.

Tantangan

Bangsa Indonesia memiliki peluang sekaligus tantangan yang besar berupa bonus demografi. Pada tahun 2020-2030, penduduk Indonesia usia 14-64 tahun diperkirakan akan mencapai 70%. Dikatakan peluang, karena rentang usia tersebut adalah masa produktif seseorang. Jika banyak hal yang dilakukan, maka negara tentu akan diuntungkan karenanya. Namun, jika generasi usia produktif itu tidak cukup memberikan kontribusi, tentu ini akan menjadi persoalan besar.

Terhadap hal tersebut, Tedi menanggapi bahwa faktanya, harus diakui, kalau situasi itu agak kurang menguntungkan jika melihat indeks pembangunan manusia masyarakat Indonesia. “Dari 182 negara, Indonesia ada di urutan 111 untuk indeks pembangunan manusia. Dari 10 negara Asia Tenggara, Indonesia ada di urutan 6,” kata Tedi. Menurut Dosen Pascasarjana Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) tersebut, ini kenyataan yang harus dihadapi sebagai sebuah tantangan besar ke depan.

“Meski begitu saya masih optimis bahwa Indonesia masih tetap akan diperhitungkan. Semuanya tentu kembali kepada diri kita masing-masing. Tetapi, sebagai warga NU kita telah diajarkan untuk memodernisasi diri tanpa menanggalkan tradisi. Jepang terbukti sebagai negara maju yang tidak kehilangan akar kulturalnya.”

Di akhir pembicaraan, doktor Sosiologi Agama tersebut mengingatkan bahwa santri harus banyak mendengar. Jika terjun ke masyarakat, maka banyaklah mendengar meski sesekali harus juga memberikan masukan. “Masyarakat kita defisit mendengar dan over berkomentar. Sebagai santri kita harus bijak bersikap tatkala ada di tengah-tengah masyarakat yang tentu saja memiliki karakter beragam,” ujar Tedi di akhir sesi. [KA/001]