Rais Syuriah PWNU Jateng: Tak Ada Dalil yang Bolehkan Bunuh Pencuri

0
1400

Semarang, nujateng.com – Tragedi mengerikan terjadi di Kampung Cabang Empat, Desa Hurip Jaya, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi. Usai menunaikan Shalat Ashar, seorang teknisi elektronik meregang nyawa dengan cara yang amat tragis, dibakar hidup-hidup. Ya, dia adalah MA alias Zoya.

Mushala Al-Hidayah yang ia singgahi untuk sholat, ternyata menjadi awal petaka baginya. Setelah disangka maling amplifier mushala, zoya kemudian diburu ratusan massa. Usai mendapatkan berbagai pukulan, massa dengan beringas menyiramkan bensin lalu membakarnya.

Tragedi ini cepat meluas, viral di media sosial. Tak sedikit yang merasa tersayat hatinya melihat seorang manusia hitak terbakar di selokan. Tak sedikit pula netizen yang menyalahkan pelaku karena menycuri dengan bumbu-bumbu dalil agama. Disinilah pentingnya memahami dan sadar hukum supaya tidak salah kaprah.

Lalu, dalam agama Islam, sejatinya apa hukuman bagi seorang pencuri? Untuk lebih jelasnya mengenai hal itu, redaktur nujateng.com melakukan wawancara khusus dengan Rais Syuriah PWNU Jateng, KH Ubaidullah Shadaqoh, pada Jumat, (18/8/17) sore di Kantor PWNU Jateng.

Belakangan ramai di media mainstream serta media sosial mengenai seorang pencuri yang dihakimi massa dengan cara dibakar hingga meninggal. Bagaimana sejatinya hukuman bagi pencuri itu?

Haddun (hukuman) iku ono panggonane dewe-dewe (hukuman itu ada tempatnya masing-masing). Artinya kalau kita merujuk pada nash (dalil) awal, mencuri itu ya hukumannya dipotong tangannya. Itu kalau barang yang dicuri sudah sampai pada batas nisab (batasan yang ditentukan).

Kalau belum (sampai pada nisab) tentunya tidak boleh (dipotong tangan). Jadi, kalau ada pencuri kok dibunuh (tidak boleh) karena tidak dalam (rangka) membela diri. Kalau mencuri itu definisinya mengambil sesuatu barang secara samar dimana barang itu diletakan pada tempat yang sewajarnya.

Kalau saya ngambil uang di tengah jalan raya itu saya tidak mencuri. Wong uang itu diletakan bukan pada tempat yang wajar. Barangkali itu namanya menemukan. Kalau pencurian itu misalnya mengambil uang di dalam lemari atau di saku atau mengambil amplifier yang telah ditempatkan lemari di mushola ya itu mencuri.

Namun demikian hukumannya harus dilihat dari apa yang dicuri. Apabila sudah sampai nisab. Artinya satu nisab itu ya nisabnya emas. Maka baru hukumannya adalah potong tangan. Tapi itu belum memperhatikan hal-hal yang lain. Sebab bagaimanapun hukum itu harus diterapkan secara integral.

Artinya kalau ada hukuman potong tangan maka ada hukuman ambil paksa bagi yang tidak membayar zakat. Sehingga faqir miskin itu bisa diambilkan dari harta baitul mall itu.

Tadi Mbah Yai mengatakan pencuri boleh dipotong tangannya dengan syarat memenuhi nisab? Nisab pencurian itu dalam hukum Islam berapa jika dirupiahkan kira-kira berapa?

Nisabnya emas, dalam pencurian itu ya 70 gram. 70 gram itu berapa harganya kalau di kurs kan? Ya katakanlah harganya 1 gram Rp. 500 ribu, ya maka harganya sekitar Rp 35 juta an.

Itu hukuman bagi yang memenuhi nisab njih Mbah Yai? Lalau apa hukuman bagi pencuri yang barang curiannya tidak memenuhi nisab?

Ya, (dalam hukum Islam) hukumamnya takzir (denda, bisa juga dalam bentuk kurungan). Kalau takzir ya terserah pemerintah. Terserah pemegang kuasa. Jadi, semacam di penjara atau apa itu.

Kalau merujuk pada kasus yang terjadi di Bekasi itu, pencurian amplifier mungkin belum sampai pada nisab njih?

Iya, amplifier apa ada yang harganya sampai Rp 30 juta? Paling tinggi kan harganya 5 juta. Yang jelas yang namanya pencuri itu tidak melakukan perlawanan kalau yang melakukan perlawanan itu ya begal namanya. Nah itu bedanya dalam fiqih, kalau begal itu melakukan perlawanan tapi pencuri itu tidak.

Jadi, tidak ada dalih pencuri itu untuk dibunuh. Karena jika alasan dia melawan itu definisinya bukan mencuri lagi tapi namanya merampok atau membegal. Oleh karena tidak melakukan perlawanan maka tidak boleh diapa-apakan. Ya, diselesaikan atau dibawa kemuka hakim atau dipotong tangan jika itu dalam hukum Islam jika sudah memenuhi syarat-syarat.

Bagaimana dengan kasus amplifier, status massa yang melakukan pembunuhan bagaimana Mbah Yai?

Adapun pembunuhan itu ya jelas tidak diperbolehkan. (Dalam kasus amplifier) ya pembunuhan biasa. Perbuatan kriminal biasa. Hukumnya ya yang membunuh biasa.

Dalam hukum Islam, apakah ada kemungkinan pencuri itu diampuni?

Kalau diampuni, selama ini kami belum menemukan teks-teks dalil (pencuri) yang diampuni. Tapi menerapkan hukum itu tentunya harus disesuaikan dengan kondisi yang ada di masyarakat.

Bagaimana kita akan menerapkan hukum potong tangan kalau kondisi masyarakat cuek (tidak peduli) terhadap orang-orang faqir miskin. Atau pencurian itu karena lapar, ya terpaksa. Kalau itu tentunya sudah darurat tentunya. Kalau darurat tentunya tidak dihukum dengan potong tangan tersebut.

Tapi apakah betul pencurian selama ini karena keterpaksaan? Saya kira tidak, karen hanya untuk sekadar makan, dalam hal ini darurat itu artinya kalau tidak dilakukan maka dia akan mati. Tapi saya kira tidak terjadi di negara kita ini. Pencurian yang sifatnya darurat tidak akan terjadi.

Tadi Mbah Yai menyampaikan bahwa pembunuhan dalam kasus pencuri amplifier itu pidana biasa. Lalu apa hukum bagi pembunuhnya, sekalipun kepada pencuri?

Ya, kalau pun (yang membunuh) bersama-sama satu desa pun ya semuanya harus di qishas (dihukum sesuai dengan kejahatan yang dilakukan) Jika membunuh ya harus dibunuh. Ya memang begitu (hukum Islam), meh opo meneh (mau apa lagi)? Ya, memang kesadaran hukum (dimasyarakat) itu sangat penting sekali. Kita tidak boleh serampangan.

Artinya semua yang terlibat dalam pembunuhan itu harus diqishas?

Ya.

Lalu, dalam kasus di Bekasi itu kan perannya berbeda-beda. Jika diterapkan qishas apakah hukumamnya diratakan atau berbeda-beda?

Ya, dalam hal ini artinya tindakannya itu menimbulkan kematian atau tidak? Bagi yang melakukan pemukulan dan disusul dengan pemukulan-pemukulan lain dan mengakibatkan kematian, maka dalam bahasa kita bisa dikategorikan kerjasama dalam pembunuhan. Ya, makannya anehlah, seorang pencuri kok harus dibunuh.

Jadi pada intinya, pencuri itu tidak boleh dibunuh?

Ndak ada (dalilnya) pencuri hukumannya dihilangkan nyawanya. Jika pencurian itu dilakukan berulang-ulang, maka hukumannya, potong tangan kanan, potong kaki kiri, potong tangan kiri, potong kaki kanan.

Lalu, siapa yang berdosa jika terjadi pembunuhan ramai ramai demikian?

Itu kan perkoro sing mungkar tho? Man Ra’a Minkum Munkaran Falyughayyirhu Biyadihi, Fa illam yastathi’ fabilisaanihi, Fa illam yastathi’ fabiqalbihi, Wadzalika adl’aful iimaan. Ya semua kita ingkar, diam saja. Ada maling dibunuh kita diam saja. Man ra’a minkum munkaran itu bukan dalil untuk minum arak,  lihat zina saja, mungkar itu dimana ada yang tidak sesuai dengan syariat ya itu kemungkaran.

Termasuk membunuh pencuri itu kan tidak sesuai dengan syariat. Ya orang yang melihat pembunuhan itu ya melihat kemungkaran. Mungkar kok didelo zina tok, ngombe arak tok, ya kan tidak. Sesuatu yang tidak sesuai dengan syara’ ya itu ya mungkar.

Artinya, jangankan ikut memukul, melihat saja sudah ikut berdosa?

Ya, kalau tidak woro-woro. Tidak berani woro-woro ya tidak ingkar dalam hati. Semestinya bilang (yang melihat itu) ’hay jangan dibunuh’. Dan diserahkan ke polisi. Setidaknya bilang demikian. [Ceprudn/002]