Pesan Kasih Sayang dalam Idul Adha

0
1738

Oleh: KH Ahmad Nadhif Abdul Mujib, Lc
(Dewan Instruktur Pengurus Pusat GP Ansor)

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الله أكبر الله أكبر الله، الله أكبر كبيرا، والحمد لله كثيرا، وسبحان الله بكرة وأصيلا، لا إله إلا الله والله أكبر، الله أكبر ولله الحمد

الحمدُ لله الذي سهَّلَ لِلعبادِ طريقَ العبادةِ ويسَّر* وَوَفَّاهُمْ أُجُورَ أَعْمَالِهِمْ مِنْ خَزَائِنِ جُودِهِ التي لاَ تُحْصَر* وَجَعَلَ لَهُمْ يَومَ عِيْدٍ يَعُودُ عليهم في كلِّ سنةٍ وَيَتَكَرَّر* وَتَابَعَ بينَ الأوقاتِ لِكَيْ تُشَيَّدَ بِأَنْوَاعِ العبادةِ وَتُعَمَّر* أَحْمَدُهُ سبحانه وهو الْمُسْتَحِقُّ لِأَنْ يُحْمَدَ وَيُشْكَر* وأَشْكُرُهُ عَلَى نِعَمٍ لاَ تُعَدُّ وَلاَ تُحْصَر* وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له الْمَلِكُ الْعَظِيمُ اْلأَكْبَر* وأشهد أن سيدنا محمدًا عبدُه ورسولُه الشافعُ فِي الْمَحْشَر* نبيٌّ غَفَرَ اللهُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّر* اللهم فصلِّ وسلِّمْ على سيدِنا محمدٍ وعلى آلِه وأصحابه الذين أَذْهَبَ عَنْهُمُ الرِّجْسَ وَطَهَّر* الله أكبر

أما بعد

فيا أيها المسلمون والمسلمات، أَسْعَدَنا اللهُ وإياكم، أوصيكم ونفسي بتقوى الله وطاعتِه، فاتقوا الله تعالى حقَّ تُقُاتِه ولا تموتنّ إلا وأنتم مسلمون، واعلموا أيها الحاضرون والحاضرات، هذا يومٌ يُوَفَّى الصابرون فيه أُجُورَهُم بأحسنِ ما كانوا يعملون، ويُكْرِمُ الرحمنُ فيه عبادَه بالفضلِ العظيمِ على ما كانوا يَصْنَعُون

Hadirin Hadirat Rohimakumullah

Dalam kitab Syarah Hikam milik Ibnu Abbad, tersebutlah riwayat bahwa setiap malam Nabi Ibrahim diberi izin oleh Allah untuk bermi’raj ke langit. Dalam setiap kali bermi’raj itu, Nabi Ibrahim diperlihatkan oleh Allah sejumlah rahasia kebesaran Allah. Hal ini secara jelas telah termaktub dalam ayat: Wa kadzalika nurii Ibrohiima malakuutis samawati wal ardl”, dan demikianlah kami perlihatkan Ibrahim rahasia-rahasia kebesaran kerajaan Allah di langit dan bumi.

Maka suatu ketika Nabi Ibrahim diperlihatkan sebuah catatan di Lauhil Mahfudh tentang seorang hamba yang banyak berbuat maksiat. Melihat catatan ini, Nabi Ibrahim kesal hatinya karena kemaksiatan si hamba sudah sangat melampaui batas kewajaran. Maka Nabi Ibrahim pun berdoa kepada Allah agar Allah berkenan mencabut nyata si hamba tukang maksiat itu. Dan Allah pun mengabulkan doa Nabi-Nya itu hingga si hamba yang kelewat batas itu pun akhirnya meninggal dunia.

Berikutnya Nabi Ibrahim kembali diperlihatkan Allah catatan hamba yang lain yang lebih parah lagi maksiatnya. Dan lagi-lagi Nabi Ibrahim pun berdoa semoga Allah mencabut nyawa si hamba tukang maksiat itu. Maka sekali dan sekali lagi Allah mengabulkan doa Nabi Ibrahim.

Syahdan, suatu ketika dalam cerita yang kita hafal semuanya adalah bahwa kemudian Nabi Ibrahim diuji oleh Allah dengan diperintahkan untuk menyembelih putranya satu-satunya, yaitu Nabi Ismail. Nabi Ibrahim sebagai seorang Nabi jelas patuh kepada setiap titah Allah apapun bentuknya. Namun yang patut kita cermati adalah dialog antara Allah dan Nabi Ibrahim sebelum Nabi Ibrahim melaksanakan perintah itu.

Nabi Ibrahim matur kepada Allah: “Wahai Allah ini adalah putraku, buah hatiku dan satu-satunya orang yang paling aku kasihi dan cintai. Tetapi hanya karena aku taat kepada-Mu wahai Allah, maka aku laksanakan perintah-Mu dengan sepenuh hati.”

Kemudian Allah menjawab: “Wahai Ibrahim tidakkah engkau ingat malam itu di mana engkau memintaku untuk mencabut nyawa hamba-hamba-Ku yang memang telah banyak berbuat maksiat secara kelewat batas. Jika engkau saat ini merasa kasihan kepada putramu untuk kau sembelih atas perintah-Ku, maka ketahuilah bahwa Aku pun sebenarnya dulu dan sampai kapanpun mengasihi hamba-hamba-Ku yang meskipun mereka kelewat batas dalam bermaksiat kepada-Ku. Sebab bisa saja mereka itu bertaubat sebelum mereka meninggal dunia. Maka sebagaimana engkau mengasihi putramu Ismail, ketahuilah wahai Ibrahim bahwa Aku, Allah,  mengasihi seluruh hamba-Ku tiada terkecuali!”

الله أكبر الله أكبر الله أكبر ×۳ ولله الحمد

Hadirin Hadirat Rohimakumullah

Peristiwa ujian Allah kepada Nabi Ibrahim yang diperintahkan untuk menyembelih putranya yang bernama Nabi Ismail itu memang merupakan peristiwa agung yang sudah semestinya kita renungi hikmah-hikmahnya.

Peristiwa yang kemudian dijadikan momentum Hari Raya Kurban atau Idul Adha itu, seringkali hanya cenderung kita maknai dengan hikmah utama yaitu hikmah berkorban dan bersabar. Namun, karena peristiwa ini adalah peristiwa besar, maka Allah pasti menyisipkan berbagai hikmah agung yang tidak selayaknya kita batasi dengan hanya satu atau dua hikmah saja.

Maka dari itu kecuali hikmah berkorban dan bersabar seperti yang sering kita dengarkan dari para da’i dan khatib ketika mengupas Idul Adha, adalah sangat layak jika kita ketengahkan hikmah “Ar-rohmah” atau kasih sayang sebagaimana dalam gambaran dialog antara Nabi Ibrahim dengan Allah SWT seperti termaktub dalam Kitab Syarah Hikam di atas. Di mana dengan sangat jelas kita pahami dari kisah itu betapa agungnya Rahmat Allah kepada seluruh hamba-Nya, baik hamba-hamba yang durhaka, maupun apalagi hamba-hamba yang taat dan patuh.

Dari sini, mari kita baca salah satu firman Allah:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ 

Terjemahan harfiyyahnya adalah: “Maka dengan rahmat Allah, wahai Muhammad, engkau bersikap lemah lembut kepada mereka.”

Terjemahan ini sebenarnya merupakan terjemahan yang kurang pas. Dalam tinjauan linguistik bahasa Arab, ayat tadi memuat huruf jar ba’ “fabi” kemudian digabung dengan “maa” menjadi “fabimaa” baru kemudian disambung dengan kata “rohmatin” menjadi “fabimaa rohmatin”. Sebenarnya jika susunan kata itu bukan merupakan susunan Al-Qur’an, maka bisa saja kita menyusunnya seperti berikut: “fabirohmatin”. Tetapi nyatanya dalam ayat tadi Allah mengfirmankan dengan bentuk “fabimaa rohmatin”, yang berarti ada sisipan kata “maa” antara huruf jar ba’ dan kata rohmatin sebagai isim yang dibaca jar atau kasroh. Pertanyaan logisnya adalah: mengapa harus ada kata “maa” antara ba’ sebagai huruf jar dan kata “rohmatin”? Jawabannya yang tepat memang hanya Allah Yang Maha Mengerti. Tetapi sejumlah ahli bahasa melihat bahwa keberadaan “maa” itu mengindikasikan pendalaman makna yang luar biasa. Dengan kata lain, seolah-olah ayat “fibimaa rohmatin” itu bisa saja berarti: Maka semata-mata hanya karena rahmat dari Allah. Atau juga bisa berarti: maka dengan segala bentuk rahmat dari Allah, dan seterusnya.

Hadirin Hadirat Rohimakumullah

Sementara itu dalam kehidupan kita sehari-hari, kita menyaksikan dan bahkan merasakan sendiri betapa kita semakin hari semakin jauh dari cakupan kata rahmat. Dalam sebuah pesta demokrasi di Ibukota, terlepas dari perdebatan dan perseteruan politik apapun, kita menjadi semakin mudah marah dan tersinggung oleh apa yang menurut kita salah tanpa adanya tabayyun dan klarifikasi. Sejumlah warga yang kebetulan meninggal dunia hampir tidak disholati jenazahnya hanya karena dipandang berbeda pilihan calon. Apalagi di jalan-jalan, di medsos-medsos dan media lainnya, begitu sering kita mendengar orang mudah meneriakkan kata “kamu kafir”, “kamu munafiq”, “kamu sesat” dan lain sebagainya.

Padahal di balik itu, sebenarnya kita manusia ini tidak berhak memberikan predikat-predikat seperti itu. Nahnu du’aatun laa qudlootun, kita ini hanya bertugas menyeru, bukan bertugas menghakimi. Hanya Allah yang ahkamul hakimin, satu-satunya Dzat yang berhak menghakimi hakekat seorang hamba. Bahkan Allah sendiri dalam Al-Qur’an hanya satu kali menggunakan panggilan يا أيها الذين كفروا padahal Allah sebanyak 89 kali menyebut يا أيها الذين آمنوا. Allah menggunakan panggilan Yaa Ayyuhal ladzina kafaru hanya pada surah At Tahrim ayat 7:

يا أَيُّهَا الَّذِينَ كَفَرُوا لَا تَعْتَذِرُوا الْيَوْمَ إِنَّمَا تُجْزَوْنَ مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Wahai orang-orang kafir, janganlah kalian mengemukakan alasan (kekafiran kalian) pada hari ini (yaitu hari kiamat). Sesungguhnya kalian hanya diberi balasan menurut apa yang kalian kerjakan.”

Jika kita telaah, ayat di mana Allah menggunakan panggilan “Ya Ayyuhal ladzina kafaruu” ini hanya akan disampaikan Allah nanti di akherat, bukan di dunia seperti yang sering kita dengar akhir-akhir ini di sekeliling kita.

Kalaupun kemudian terdapat sebuah Surah yang bernama Al-Kafirun di mana ada kata “Ya Ayyuhal Kafirun”, itu karena memang hanya dimaksudkan sebagai surah yang menerangkan perbedaan prinsip tauhid dan perbedaan sesembahan antara kaum mukminin dan kaum kuffar, bukan untuk maksud yang lainnya.

Allah justru berulangkali menyampaikan firmannya kepada kaum kuffar dengan dibungkus melalui kata seruan: “Ya Ayyuhan Naas”, yang berarti Allah berkehendak untuk berdialog kepada mereka melalui kemanusiaan mereka yang asli, bukan melalui predikat negatif seperti “Wahai Orang Kafir” yang justeru akan semakin membuat mereka jauh dari kebenaran Allah.

الله أكبر الله أكبر الله أكبر ×۳ ولله الحمد

Haidirin Hadirat yang Dirahmati Allah

Renungan tentang ketiadaan rahmat atau kasih sayang pada diri kita seperti di atas itu selayaknya terus kita lakukan hingga kita benar-benar menyadari kembali bahwa rahmatlah yang merupakan satu-satunya hal paling utama yang harus kita upayakan untuk benar-benar kita miliki dan kita terapkan dalam hidup kita, baik kepada diri kita sendiri maupun kepada orang lain.

Pada akhirnya, marilah momentum Idul Adha ini kita garisbawahi sebagai momentum penuh kasih sayang dan menebar rahmat antarsesama manusia dan bahkan antarsemua makhluk. Sehingga menjadi sangat menarik untuk kita cermati bahwa Nabi pun pernah bersabda:

إِنَّ اللهَ كَتَبَ الإحْسَانَ على كُلِّ شيءٍ، فإذا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوْا الْقِتْلَةَ، وإذا ذَبَحْتُم فأحسنوا الذِّبْحَةَ

Allah telah mewajibkan kita berbuat baik terhadap segala sesuatu. Jika kalian hendak memerangi kaum yang patut kalian perangi, maka perangilah dengan sebaik-baiknya. Dan jika kalian hendak menyembelih hewan, sembelihlah dengan sebaik-baiknya.

بارك الله لي ولكم في القرآن الكريم ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم، وتقبل مني ومنكم تلاوته إنه هو الغفور الرحيم، وقل رب اغفر وارحم وأنت أرحم الراحمين

=== Khutbah II ===

الله أكبر الله أكبر الله أكبر ×۳ ولله الحمد

الحمد لله المنعوت بصفات التنزيه والكمال. وأشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله ثني الخصال. اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى آله وصبحه والتابعين. عباد الله اتقوا الله فإنكم عليه تعرضون. واعلموا أن الله صلى على نبيه في كتابه المكنون وأمركم بذلك فأكثروا من الصلاة عليه تكونوا من الفائزين. اللهم صل وسلم عليه وارض عن الأربعة الخلفاء، وبقية العشرة الكرام وآل بيت نبيك المصطفى. وعن الأنصار والمهاجرين والتابعين إلى يوم الدين

اللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات الأحياء منهم والأموات، إنك سميع قريب مجيب الدعوات رب العالمين. ونسألك اللهم دوام العناية والتأييد، بحضرة مولانا سلطان المسلمين المؤيد بالنصر والتمكين. الللهم انصره وانصر عساكره وامحق بسيفه رقاب الطائفة الكافرة، وأيد بسديد رأيه عصابة المؤمنين. واجعل بفضلك هذا البلد آمنا مطمئنا. وارفع اللهم مقتك وغضبك عنا. ولا تسلط علينا بذنوبنا من لا يخافك ولا يرحمنا يا أرحم الراحمين

اللهم إليك نسأل فلا تخيبنا، وإليك نلجأ فلا تطردنا، وعليك نتوكل فاجعلنا لديك من المقربين. إلهي هذا حالنا لا يخفى عليك. فعاملنا بالإحسان إذ الفضل منك وإليك. واختم لنا بخاتمة السعادة أجمعين

عباد الله  إن الله يأمركم بالعدل والإحسان وإيتاء ذي القربى وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغي. يعظكم لعلكم تذكرون. فاذكروا الله العظيم يذكركم واشكروه على نعمه يزدكم ولذكر الله أكبر