Panglima TNI: Yang Ingin Rubah Pancasila, Pasti Bukan Ulama Indonesia

0
1105
Jalan Beriringan: Panglima TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo berjalan beriringan bersama ulama besar panutan, Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya. Foto: Istimewa

Semarang, nujateng.com – Panglima TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo mengaku kagum dengan para ulama. Menurutnya, ulama asli Indonesia santun dan berani serta mampu menggerakkan massa demi mendapatkan kemerdekaan. Bahkan atas jasa para ulama perumusan UUD 1945 dan Pancasila dapat diterima oleh semua golongan.

Karena sejarah itulah, sang Jenderal heran ketika ada fenomena yang mengaku ulama namun gerakannya akan mengganti Pancasila. Padahal, Pancasila merupakan salah satu buah perjuangan para ulama terdahulu.

“Jadi alangkah anehnya jika tiba-tiba muncul ulama dengan pakaian ulama yang bahasanya ingin merubah Pancasila. Aneh. Saya katakan pasti itu bukan ulama Indonesia,” pada acara Tausiyah Kebangsaan, di Tugu Muda, Semarang, Senin (14/8/17) malam seperti diberitakan detik.com.

Acara yang diselenggarakan dalam rangka memperingati HUT RI ke-72 itu dipimpin ulama besar panutan, Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya. Tampak hadir tokoh-tokoh di Jateng seperti Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, Kapolda Jateng, Irjen (Pol) Condro Kirono.

Ulama-ulamaan

Hadir pula Ketua MUI Jawa Tengah KH Ahmad Darodji, Pangdam IV/Diponegoro, Mayjen TNI Tatang Sulaiman, Romo Aloysius Budi Purnomo Pr, Wakil Ketua DPRD Jateng Sukirman beserta ribuan jamaah yang memadati Bundaran Tugu Muda.

Panglima TNI pun menduga ada ulama luar negeri yang dibayar untuk merusak kondisi bangsa Indonesia. Kalau tidak, orang Indonesia yang menjadi ulama-ulamaan. “Ulama luar yang dibayar untuk merusak Indonesia, atau orang Indonesia yang pura-pura ulama, membohongi rakyat, dibayar untuk merusak rakyat,” tegas Gatot.

Panglima pada kesempatan itu bercerita, tentang sejarah panjang kemerdekaan. Termasuk sejarah para ulama menggerakkan santri-santrinya dalam berbagai peristiwa perjuangan bangsa. Panglima juga menekankan agar para anggota TNI tidak “jumawa” karena TNI baru lahir setelah Indonesia merdeka. (Ceprudin/005)