Media dan Penyebar Perdamaian

0
256

Oleh: Rofiuddin
(Sekretaris Lajnah Ta’lif wan Nasyr NU Jawa Tengah)  

Perkembangan media massa saat ini sungguh sangat luar biasa. Sejak era reformasi bergulir, media massa bak jamur yang tumbuh setelah musim hujan. Ketika kran kebebasan dibuka maka siapapun bebas mendirikan media massa. Tak seperti di zaman orde baru dimana pendirian media massa sangat dibatasi pemerintahan.

Kini, perkembangan media massa semakin massif menyusul pesatnya perkembangan teknologi dan informasi melalui internet. Melalui internet, informasi berseliweran cukup cepat. Apalagi, saat ini, rata-rata alat komunikasi yang dipegang seseorang sudah ada akses internet sehingga bisa untuk mengakses berbagai informasi. Akibatnya, setiap orang bisa dengan mudah menjadi konsumen informasi sekaligus bisa mengfungsikan diri sebagai penyebar, bahkan pembuat (produsen) informasi.

Misalnya, jika Anda punya informasi tentang terjadinya kecelakaan, Anda potret, lalu upload ke Facebook maka teman-teman Anda di facebook berpotensi akan menerima informasi tersebut.

Setiap perkembangan teknologi -dalam hal ini internet- selalu memunculkan dua dampak, antara positif dan negatif. Dalam konteks kehidupan beragama, salah satu dampak negatif kebebasan informasi adalah adanya media yang digunakan untuk menyebarkan kebencian, fitnah hingga kekerasan.

Bahkan, ada beberapa situs yang dibuat untuk menyebarkan paham radikal karena menyebarkan informasi fitnah dan kebencian kepada pihak lain. Dalam kontek kehidupan beragama, informasi seperti ini bisa membahayakan kerukunan beragama. Kita masih ingat, pada 2011 lalu, ada peristiwa bom bunuh diri di GBIS Kepunton, Solo. Sebelum melakukan aksi bom bunuh diri, pelaku mampir ke warnet yang belakangan diketahui telah membuka situs-situs yang isinya diduga menyebarkan hasutan berbuat kekerasan.

Kita juga bisa belajar saat bangsa Indonesia menjalani kompetisi pemilihan presiden 2014 serta pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2017 lalu. Pertarungan bisa sangat keras karena masing-masing kubu juga menggunakan media, baik media mainstream maupun media sosial, sebagai alat kampanye dan propaganda.

Meski masuk ranah politik praktis, tapi informasi-informasi yang disebar juga menyerempet ke bidang-bidang agama. Ada gejala isu-isu agama juga dibawa ke ranah politik. Kondisi semakin memanas karena, lagi-lagi, media menjadi alat yang efektif untuk menyebarkan informasi ke publik. Lalu, bagaimana caranya agar media massa bisa berdampak positif bagi kerukunan umat beragama.

Setiap orang yang bisa menyebarkan informasi kepada publik sudah saatnya mengikuti prinsip-prinsip Undang-undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers dan kode etik jurnalistik. Dengan berpegang pada undang-undang dan kode etik jurnalistik bisa diketahui apa-apa saja informasi yang boleh disebarkan dan apa yang tidak. Pengelola media internet yang bisa menyebarkan informasi ke publik itu berarti telah mengfungsikan dirinya sebagai media massa.

Informasi adalah produk yang bisa mempengaruhi sikap, gagasan hingga keyakinan seseorang. Maka, informasi apa yang boleh dan tidak boleh disebarkan ke publik bisa menganut prinsip-prinsip kode etik jurnalistik. Misalnya tak boleh memfitnah, berburuk sangka, menyebarkan kebencian hingga mengajak kekerasan.

Produk media termasuk produk yang “berbahaya”. Sebab, produk media bisa mempengaruhi pendapat, gagasan, ide hingga bisa pengaruh pada sikap seseorang. Jika informasi yang disebarkan media salah kaprah maka orang akan bisa berbuat salahkaprah.

Maka, setiap orang harus hati-hati saat menyebarkan informasi. Apalagi jika sudah menyangkut tentang masalah agama karena masalah ini sangat sensitif. Orang per orang bisa berbuat kekerasan jika merasa tersinggung jika agamanya dihina. Padahal, informasi hinaan itu belum tentu benar adanya.

Memang semua orang bebas menyebarkan informasi. Tapi, para pengelola media internet juga harus mau memunculkan identitas diri. Tujuannya jika ada materi yang keliru, ada pihak yang dirugikan maka orang akan bisa menyampaikan hak jawab. Atas nama demokrasi semua orang bebas mengungkap pendapat tapi mereka juga harus taat aturan main demokrasi.

Fungsi media sangatlah strategis, yakni media merupakan alat untuk menyampaikan suatu pesan atau berita (informasi) kepada publik. Selain itu, media juga bisa memberikan pencerahan. Setiap berita bisa sebagai sebuah informasi sederhana. Tapi, berita yang baik adalah informasi yang bisa menjelaskan duduk perkara dan membuat penerimanya tercerahkan, bukan malah bingung setelah menerima informasi dari media.

Kita juga harus memahami kebenaran media adalah kebenaran prosedural. Bukan kebenaran yang filosofis. Artinya, kebenaran media adalah kebenaran yang terbatas waktu dan tempat. Bahkan, bisa jadi apa yang disajikan media hanyalah mengikhtiarkan kebenaran. Misalnya, hari ini ada pernyataan seorang pemuka agama yang menyatakan konflik antar umat agama di suatu tempat karena motif agama.

Setelah ditelusuri ternyata pemicu konflik dua pihak tersebut bukan karena agama tapi karena ada masalah dendam pribadi. Tentu, media akan memberitakan bahwa konflik tersebut karena masalah pribadi. Apa yang disajikan media antara hari ini dan esok hari bisa berbeda. Karena, ya itu tadi, kebenaran media adalah kebenaran yang belum pasti. Kebenaran yang sesuai konteks saat ini dan disini.

Maka prinsip kehati-hatian menjadi sangat penting. Kita jangan terjebak ikut menyebarkan informasi yang belum tentu benar. Apalagi jika sudah menyangkut masalah agama. Informasi tentang agama harus didorong ke arah yang sejuk, damai, dan kerukunan.

Untuk itu, jika kita menggunakan media sebagai alat komunikasi ke publik maka jangan tergiur untuk mengklaim sebagai orang yang paling benar atau menuduh penganut agama lain sebagai pihak yang paling salah. Dalam perspektif akademisi ataupun wartawan, bisa jadi posisi semua agama adalah sama karena masing-masing agama memiliki sejarah kelahiran, perkembangan hingga pertumbuhan masing-masing sesuai dengan konteksnya.

Selain itu, media juga harus memandang bahwa iman atau keyakinan seseorang adalah sesuatu yang personal. Tidak boleh ada penghakiman terhadap iman seseorang. Siapa yang bisa memberikan jaminan seorang penganut agama tertentu akan masuk surga sedangkan penganut agama/paham lain akan mendapatkan siksaan setelah meninggal dunia. Menurut penulis, hampir tak ada yang bisa menjamin karena itu adalah urusan keyakinan personal. Jangan sampai karena ada perbedaan agama dijadikan alasan untuk melakukan kekerasan ke pihak lain.

Jika prinsip-prinsip diatas bisa dijalankan maka kita semua akan bisa menggunakan media sebagai ajang dialog antar umat beragama. Melalui media, kita bisa saling belajar dan saling bisa memahami. Maka kerukunan umat beragama bisa diwujudkan seiring dengan munculnya persemaian dialog melalui media.

Media bukan sebagai penyebar fitnah tapi sebagai alat perdamaian. Media dan kita dalam menyebarkan informasi jangan terlalu asyik mengangkat aspek sensasional, seperti teriakan, parang, darah, api hingga perang. Media dan kita harus memperhatikan suara keluhan hingga rintihan korban. Mereka yang terzalimi dan lemah haruslah diperhatikan. Media dan kita juga harus menghindari pernyataan-pernyataan provokatif, keras, dan penuh kemarahan. Tapi media harus mengangkat dan menonjolkan narasumber yang menyejukkan dan mendamaikan. Jika itu yang terjadi maka media bisa menjadi alat penyebar perdamaian.