Liga Santri Nusantara: Dari Santri untuk NKRI

0
427

Oleh: M. Husni Mushonifin
(Pengamat Sepak Bola, Pemandu Program Acara Lentera Budaya Cakra Semarang TV)

Saya mau menyampaikan satu fakta menarik tentang hobi santri main bola. Suatu hobi yang jadi sahabat karib santri selain bantal buat sekedar meregangkan saraf di tengah-tengah ruwetnya tulisan “Arab gundul” atau kitab kuning. Buat santri, satu-satunya olahraga-rekreasi yang paling gampang yaitu main bola.

Banyak ulama dan pejuang Nusantara alumni pesantren yang hobi main bola, sebut saja Gus Dur. Bahkan ketika gelaran piala dunia 1994, Gusdur pernah bikin quote:

“Bukankah kita akan diperkaya pemahaman kita tentang kehidupan manusia oleh sesuatu yang terjadi di lapangan sepakbola? Sepakbola merupakan bagian kehidupan, atau sebaliknya, kehidupan manusia merupakan sebuah unsur penunjang sepakbola.”

Quote tersebut tidak lepas dari hobi Gus Dur bermain bola sejak kecil. Seandainya Gus Dur tidak pernah menjabat ketua PBNU dan presiden, bisa saja beliau jadi ketua PSSI, pemain bola, atau pelatih bola. Yang jelas Gus Dur sudah membuktikan sendiri kalau sepak bola dan pesantren itu dua unsur kehidupan rakyat yang tidak terpisahkan.

Buat santri, main bola tidak perlu lapangan standar, bahkan tidak perlu main pakai bola sungguhan. Santri sering bikin bola pakai gulungan sarung kotor yang dibentuk bulat-bulat. Mainnya pun tidak perlu di lapangan, cukup main di aula pondok. Malahan kalau kepepet, cukup main di kamar mereka sendiri.

Kenapa bukan olahraga lain? Apa santri tidak punya hobi selain sepak bola? Sebetulnya ada. Banyak juga santri yang sering main volly, badminton, basket, pimpong, catur, atau Bridge (pokeran). Cuma sepak bola lebih “merakyat”. Terbukti bagi santri yang tidak bisa main bola asal kakinya masih bisa menendang sah-sah saja ikut main asal jangan pakai tangan (kecuali kiper). Beda sama olahraga lain semisal volly atau badminton, kalau tidak bisa main ya sudah tidak akan main. Bicara peraturan juga lebih luwes, main bola tidak harus sebelas lawan sebelas, kurang boleh, lebih tidak masalah.

Sepak bola memang merakyat, bisa dibilang tidak ada satupun manusia yang tidak kenal sepak bola. Semua bisa main bola tanpa pandang bulu, tanpa harus mengukur kemampuan. Beda dengan basket atau golf yang kesannya elit.

Sepakbola sudah terlanjur lekat dengan permainan rakyat, sedangkan rakyat lekat dengan santri. Saya tidak bisa menjelaskan kenapa kalau main bola ada nuansa sederhana sekaligus bebas berekspresi, seolah-olah tidak butuh regulasi.

Saking akrabnya santri dengan sepak bola, banyak pondok pesantren yang bikin kompetisi bola api. Bola api asalnya dari tempurung kelapa yang dibakar. Bola api itu pertandingan bola versi “alam gaib”. Para santri percaya kalau di dalam api itu ada setan yang sedang dibakar. Pada saat bola api ditendang pada dasarnya sedang menghukum setan yang suka menggoda manusia. Sebelum bertanding para santri “disuwuk” oleh kiai supaya kaki para santri dilindungi dari kobaran api sekaligus menambah kekuatan supra-natural.

Sadar kalau santri akrab dengan sepak bola, pengurus RMI (Rabithah Ma`ahid Islamiyyah) NU yakin banyak santri yang punya bakat unggul. Kalau dikelola secara profesional, pondok pesantren bisa jadi “pabrik” pemain bola hebat. Karena itu RMI NU menggandeng Kementrian Pemuda dan Olahraga untuk menggulirkan Liga Santri Nusantara (LSN).

LSN sudah berlangsung tiga tahun sejak tahun 2015. Tahun ini kick off-nya tanggal 3 September di Lapangan Srogo, Patebon, Kendal. Tendangan bola pertama akan dilakukan oleh Menpora Imam Nahrawi.

Usia peserta LSN dibatasi maksimal 17 tahun, tujuannya supaya pembibitan pemain muda. Sejauh ini LSN udah melahirkan satu pemain yang berjuang di timnas U-19 asuhan Indra Syafri, namanya Muhammad Rafly dari Bantaeng. Dia Top Scorer LSN 2016. RMI NU punya cita-cita supaya LSN jadi wadah para santri berbakat yang belum tersentuh PSSI, tentunya harus ada dukungan dari masyarakat terutama warga NU.

Dengan dicetuskannya LSN, makin memperjelas peran positif NU untuk bangsa dan negara. Tidak cuma di kancah keagamaan dan ekonomi-politik, tapi juga sepak bola.

Di tengah pertentangan Permendikbud 23/2017 yang disinyalir menggerus peran pesantren dan madrasah diniyah. Para santri sedang membuktikan bahwa produk pondok pesantren dan diniyah mampu berkontribusi di segala lini kehidupan bangsa, salah satunya melalui sepak bola.