Kiai Izzudin: Berdoa Sambil Bercanda Tak Beretika

0
456

Semarang, nujateng.com – Beberapa hari lalu, publik dibuat heboh oleh anggota Parlemen. Bukan karena gerbrakan kinerjanya, namun karena doa acara resmi yang ”nyeleneh”.

Diberitakan, dalam pembacaan doa pada sidang tahunan MPR/DPR 2017, Tifatul Sembiring mendoakan Presiden Jokowi supaya badannya lebih gemuk dan selalu sehat. Doa semoga gemuk dan sehat itulah yang menuai perdebatan di masyarakat.

”Beri petunjuklah Presiden RI Bapak Joko Widodo, gemukkanlah badan beliau ya Allah karena beliau semakin kurus padahal tekad beliau dalam membangun bangsa dan negara ini tetap membaja,” ujar Tifatul, Jakarta, Rabu (16/8/2017), seperti dikutip tribunews.com dan beberapa media lainnya.

Para awak media yang meliput sidang tahunan MPR/DPR ini langsung memburu Tifatul untuk menanyakan maksud dan tujuannya. Rekaman doa pun meluas di media serta media sosial. Mengapa? Masyarakat menganggap, doa sejatinya tidak dibumbui dengan hal-hal yang bernada tak serius.

Doa, selama ini diyakini sebagai ritual yang sakral. Di kalangan Pesantren, pemimpin doa wajib orang yang sangat alim dan terjaga akhlaknya. Sehingga selama ada sesepuh yang alim, yang lebih muda biasanya tidak ada yang berani untuk memimpin doa.

Sejatinya, bagaimana etika berdoa yang diajarkan dalam literatur Islam? Redaktur nujateng.com wawancara khusus dengan Pengasuh Pondok Pesantren Life Skill Darun Najah, Kelurahan Wonosari, Ngaliyan, Semarang, Dr. K.H. Ahmad Izzudin, pada Senin, (21/8/17).

Doa, selama ini dikalangan Pesantren adalah ritual yang sangat sakral. Sehingga, dalam sautu forum, pemimpin doa diberikan kepada seseorang yang lebih sepuh ilmunya dan juga terjaga akhlaknya, bagaimana menurut pendapat kiai?

Pertama, sosok siapa yang memimpin doa. Itu menjadi suatu hal yang penting dan menjadi catatan. Orang yang memimpin doa itu tidak sembarangan, ya (dari sisi kepribadian orangnya) lebih wira’i (selalu bertindak hati-hati), lebih zuhud (tidak mementingkan duniawi), dan secara lahiriah bisa dilihat dari sejauh mana orang tersebut istiqomah sholat dan ibadahnya.

Kedua, dari sisi substansi doa. Dalam substansi doa sebenarnya Rasulullah (Nabi Muhammad SAW) dan para sahabat sudah memberikan contoh yang umum. Doa itu tidak terlalu mudah diucapkan untuk mendoakan seseorang yang maknanya tidak terlalu signifikan (atau sembarang didoakan).

Karena doa itu memanjatkan memohon kepada Tuhan, Allah SWT. Kalau hanya sekadar (doa) yang kurus menjadi gemuk saya kira itu terlalu sederhana (jika dimintakan kepada Allah). Saya yakin (apa yang terjadi pada kasus doa Tifatul Sembiring mendoakan Presiden Jokowi gemuk) itu maknanya bukan sematamata doa.

Jika mendoakan Presiden Jokowi gemuk dalam sidang MPR/DPR, apakah tidak pantas?

Tapi jika doa itu pun dilakukan maksudnya guyonan, saya kira juga tidak tepat. (Tapi) maknanya itu dia menganggap Negara Indonesia itu kecil dan dunia dalam genggamannya itu dia seakan-akan tidak sadar.

Adakah dalam literatur kitab kuning yang selama ini dikaji di pesantren yang mengatur etika saat memimpin berdoa?

Saya kira dalam kitab-kitab kuning sudah dijelaskan dengan jelas tentang makna doa itu. Dalam hal memilih pemimpin doa, bisa diqiyaskan (dianalogikan) dengan memilih imam atau pemimpin sholat. Doa itu kan seorang pemimpin atau imam bagaimana menghadap kepada Allah SWT, sebagaimana sholat.

Nah, dalam sholat itu kan tidak sembarang orang bisa menjadi imam. Harus ada kriteria seperti yang sudah saya sampaikan di awal. Saya kira kalau berdoa dibuat candaan dengan jabatan struktural itu terlalu sederhana.

Artinya, kalau doa itu dicampuri dengan guyon atau bercanda atau tidak serius berarti tidak beretika?

Oh, sangat tidak beretika. Dan inilah yang dikatakan Gus Dur itu bahwa ”anggota dewan kita itu taman kanak-kanak”. Karena dia (yang berdoa sambil guyonan) tidak membaca jabatan yang dibawa itu sebuah amanah yang besar, sehingga tidak sadar apa yang dilakukan itu dilihat dan didengar oleh masyarakat se Indonesia bahkan sedunia.

Saya sering kali mendapatkan catatan dari temanteman Jakarta itu, kita merubah pergerakan dari Sabang sampai Merauke. Maka kalau kita salah, maka harus meminta maaf pada orang dari Sabang sampai Merauke. Kalau kita berbuat fatal, ya fatal se Indonesia.

Ini kan acara yang sangat besar, sidang tahunan MPR/DPR, apakah boleh jika dikatakan itu salah dalam memilih orang dalam berdoa?

Kalau saya katakan ya prosedur itu yang belum ada disitu. Selama ini, secara kelembagaan negara, struktur doa itu di Kementerian Agama (Kemenag) dan di Kemenag pada bagian Subdit Pembinaan Syariat dan Hisab Rukyat. Jadi doa protokoler, seperti doa peringatan 17 Agustus, Sumpah Pemuda, dan doa hari-hari besar itu yang membuat Kemenag.

Termasuk penyumpahan, doa ketika ada penyumpahan, kalau itu instruksinya dari pusat, yang Kemenag. Karena ini saya tahu persis. Kemarin saya berfikir ini akibat dari arogansi dewan karena tidak menyerahkan pada kehaliannya masing-masing. Contoh kecil, penyumpahan, meskipun bisa dilakukan oleh seluruh yang beragama Islam, tapi itu ada aturannya.

Secara kelembagaan itu ada di Kemenag. Termasuk dalam hal doa, ya di Istana, di DPR. Dan itu tidak boleh misal ‘saya angkat juru doa dan juru sumpah sendiri deh’, ya itu enggak boleh. Sehingga pada acara kemarin itu harusnya ya dari Kemenag.

Ini kan bangsa yang besar njih pak Yai, apakah butuh semacam prosedur atau aturan untuk tidak sembarang memilih orang untuk berdoa ketika hari-hari besar?

Ya, ketika negara ada acara, Isra Miraj, Maulid Nabi, Doa Kebangsaan, maupun yang lain, itu harus selalu meminta ke Kemenag. Misal ada peringatan Isra Miraj di lembaga negara, Istana misal, siapa yang berdoa, yang orang-orang tertentu. Misal, Habib Lutfi bin Yahya. Ya, kita pilih dari tokoh-tokoh agama yang ada, yang betul-betul pantas. Sehingga acara kemarin itu perlu dipertanyakan, apakah itu sudah sesuai dengan SOP, atau tidak dan itu kayaknya kebijakan diluar standar yang semestinya. [Ceprudin/005]