Keutamaan dan Hukum Berkurban

0
390

Oleh: Mukhamad Ali Masruri
(Alumni Pondok Pesantren APIK Kaliwungu Kendal)

Ibadah Kurban, yaitu ibadah dengan menyembelih hewan ternak yang berupa kambing, sapi, dan unta merupakan ibadah warisan syariat Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahim yang bermimpi mendapat perintah untuk menyembelih anaknya, Ismail, adalah sebuah kisah yang populer di kalangan umat muslim.

Bermula dari perintah Allah kepada Nabi Ibrahim inilah berkurban diperintahkan kepada umat Nabi Muhammad Saw. Ibadah Kurban memiliki keistimewaan pahala tersendiri, seperti yang sampaikan Rasulullah Saw dalam hadist riwayat Tirmidzi:

“Perbuatan seseorang pada hari kurban yang paling disukai Allah Swt adalah mengalirkan darah (menyembelih hewan kurban). Sesungguhnya hewan kurban tersebut akan datang pada hari kiamat dengan tanduknya dan kukunya. Sesungguhnya darah itu akan tiba di tempat di sisi Allah sebelum jatuh di atas bumi. Maka berbahagialah dengan hewan kurban tersebut. (HR. Tirmidzi)

Hadist di atas menjelaskan, bagaimana pada saat hari kiamat, hewan kurban tersebut akan mendatangi orang yang berkurban, lalu ia akan naik ke punggung hewan kurban tersebut. Akan tetapi Al-Iraqi mengatakan: “Yang dikehendaki dari hadist tersebut adalah hewan kurban itu pada hari kiamat akan diletakan di timbangan amal ibadahnya.” (At-Tirmisi, 2011: VI, 605).

Hukum Berkurban

Hukum melaksanakan kurban atau dalam fikih disebut udlhiyah sangat dianjurkan (sunnah kifayah muakkadah) berdasarkan dalil hadist riwayat Daruquthni “كتب عليّ النحر وليس بواجب عليكم”  atau dalam pendapat yang lain adalah wajib kifai dengan dalil hadist riwayat Ibnu Majah .من وجد سعة فلم يضح فلا يقربن مصلانا”

Ibadah kurban bisa menjadi wajib ‘ain ketika seseorang melakukan nadzar untuk melaksanakan kurban. Seperti contoh, jika orang mengatakan: “Kambing ini adalah hewan kurban saya,”  maka orang tersebut tidak lagi berhak/sah melakukan transaksi dengan kambing tersebut. Karena hewan tersebut harus dijadikan hewan kurban untuk dirinya. Bujairami mengatakan dalam kitab Tuhfah al-Habib “contoh ungkapan tersebut tidak memerlukan niat untuk sahnya nadzar tersebut.” (At-Tirmisi, 606-607).

Waktu melaksanakan kurban yaitu mulai dari masuknya waktu shalat Idul Adha sampai terbenamnya matahari pada hari akhir hari tasyrik. Ketika hendak menyembelih, seseorang disunahkan membaca basmalah, shalawat, menghadap kiblat bagi dirinya dan hewan yang akan disembelih dan berdoa meminta kurbanya diterima Allah Swt. (Al-Bajuri, 2008: II, 589).

Menurut Al-Baijuri dalam Hasyiyah-nya, syarat hewan kurban adalah kambing yang berumur dua tahun dan memasuki tahun ketiga, sapi berumur dua tahun dan memasuki tahun ketiga, onta berumur lima tahun dan memasuki tahun keenam. Satu kambing hanya cukup untuk satu orang, sedangkan satu sapi atau onta bisa dipakai berkurban untuk tujuh orang.

Hal yang perlu diingat pula adalah, hewan kurban disyaratkan tidak boleh buta matanya, pincang kakinya, sakit, terlalu kurus, hilang telingannya baik terpotong sebagian maupun keseluruhan, ataupun terlahir tanpa telinga, dan hewan yang terpotong ekornya kecuali kalau terlahir tanpa ekor.

Satu hal lagi yang biasanya membuat bingung masyarakat, yaitu masalah mudlahi (orang yang berkurban). Apakah orang yang berkurban boleh memakan hewan kurbanya atau tidak. Ketika ia “berkurban wajib” dikarenakan nadzar, maka ia tidak boleh memakannya sama sekali. Namun jika ia “berkurban sunnah” maka boleh memakan sepertiganya dan dua pertiganya disedekahkan. Sedangkan hukum menjual daging kurban bagi mudlahi hukumnya haram. (Al-Bajuri, 591).