Ini Tiga Golongan di Tubuh NU yang Diramalkan Gus Dur

0
1540
Bahtsul Masail: Para kiai Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PWNU Jateng membahas suatu persoalan untuk kemaslahatan umat. Foto: Ceprudin

Semarang, nujateng.com – Jika ditanya ada berapa macam corak pemikiran dalam tubuh NU? Jawabannya ”ya, dari mulai yang mengharamkan menonton film hingga yang main film, itu ada (orang NU)”. Perkataan ini disampaikan berulang-ulang oleh Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jateng KH Abu Hapsin, Ph.D.

Alumni Ponpes Lirboyo, Kediri itu mengatakan demikian ketika ada pertanyaan tentang corak pemikiran NU. Dengan jawaban itu, Kiai Abu hendak mengatakan bahwa corak pemikiran dalam tubuh NU sangat beragam. Sehingga digambarkan dengan orang yang mengharamkan film hingga bintang filmnya itu sendiri.

Almarhum al-maghfurlah Kiai Abdurrahman Wahid, lekat disapa Gus Dur, pada tahun 1994 pernah ”meramalkan” NU 15 tahun kemudian. Artinya, Gus Dur sekitar 23 tahun yang lalu pernah meramalkan corak-corak pemikiran yang akan mewarnai dalam tubuh NU.

Dengan demikian masyarakat tak perlu heran jika ada banyak pendapat dalam tubuh NU, dalam menyikapi sebuah persoalan. Perbedaan pandangan inilah yang justru menjadi khazanah pemikiran Islam di Indonesia. Gus Dur waktu itu meramalkan NU kedepan akan diwarnai tiga macam corak.

”Saya rasa yang akan muncul adalah tiga macam corak. Pertama, corak kiai fikih yang sudah dirangsang pikiran modern,” kata Gus Dur, seperti dikutip buku ”Tabayun Gus Dur; Pribumisasi Islam, Hak Minoritas, dan Reformasi Kultural” terbitan LKiS tahun 1998, halaman 147.

Kiai Fiqih

Buku tersebut merupakan kumpulan wawancara mendalam beberapa majalah dan tabloid yang kemudian dibukukan LKiS, Yogyakarta.

Cucu hadratus syekh KH Hasyim Asy’ari ini mencontohkan corak kiai fiqih yang disebutnya terangsang pikiran modernisme. ”Contohnya kiai-kiai muda seperti, Ishomudin (Direktur Tsanawiyah Pondok Pesantren Tebuireng yang disebut-sebut Gus Dur sebagai calon pengganti KH Yusuf Hasyim, kelak),” sambung Gus Dur.

Hemat Gus Dur, dari para kiai fiqih itu akan muncul kerangka bagaimana memandang sebuah masalah. ”Contohnya, merekalah yang mempersiapkan apa yang dikeluarkan Kiai Ma’ruf Amin baru-baru ini tentang model maslahat (kepentingan umum), istinbat (cara-cara untuk mengambil hukum),” tukasnya.

Salah satu pembahasan menarik para kiai fiqih waktu itu tentang fiqih dan lembaga perwakilan rakyat. ”Itu kan sulit. Wong fiqih itu mengandalkan bahwa hukum-hukum agama menjadi patokan umat, sementara pada saat yang sama UU negara dibuat oleh lembaga perwakilan rakyat. Lantas bagaimana?” tanya Gus Dur.

Nah, dalam konteks demikian, maka para kiai fiqih inilah yang berijtihat menentukan pandangan. ”Bagi yang memiliki tata negara Islam, sudah jelas. Tapi Indonesia kan tidak bisa karena DPR lepas dari ulama. Nah, mereka yang memikirkan itu,” kata Gus Dur yang juga diberitakan Kompas kala itu.

Corak LSM

Selain corak kiai fiqih, dalam tubuh NU ada corak kedua, yakni unsur Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). ”Seperti pemikiran Masdar Farid Mas’udi. Agama dikaitkan dengan transformasi dan bukan dengan hukum agama. Agama dalam arti sistem kepercayaan, harus mengacu pada struktur masyarakat yang adil dan demokratis,” tutur Gus Dur.

Untuk corak atau golongan yang ada dalam tubuh NU adalah jenis gado-gado. Pada jenis ketiga ini ada kaum pedagang, pegawai negeri, politisi, non-LSM, dan non-kiai fiqih. Mereka muncul karena pengabdian di NU.

”Ketiga model inilah yang akan melakukan dialog dalam tubuh NU sehingga 10 tahun mendatang (sejak 1994) NU lebih banyak mengacu pada kerja sosial. Jadi wajahnya adalah pekerja sosial yang sudah memiliki wawasan transformatif,” kata suami dari ibu Sinta Nuriyah Wahid ini.

Ketika ditanya kelompok mana yang lebih dominan dalam tubuh NU, Gus Dur masih yakin bahwa ciri khas NU adalah kiai fiqih. Alasannya, karena kiai fiqih merupakan produk pesantren yang selalu mengikuti perkembangan zaman. Atau dalam bahasa Greg Barton dapat menyesuaikan dengan perkemangan zaman.

Akar Pesantren

”Saya rasa tetap yang pertama, karena bagaimana pun juga pesantren kan terus mampu memproduksi kiai dan mereka dirangsang terus oleh perkembangan zaman,” jelas Gus Dur.

Gus Dur yakin, akar-akar kepesantrenan dalam tubuh NU tidak akan pernah luntur. Presiden ke 4 Indonesia ini justru menilai akar kepesantrenan semakin kokoh karena pesantren terus mengalami transformasi. Gus Dur waktu itu memperkirakan apa yang sekarang terjadi, dimana pesantren-pesantren dilengkapi dengan sekolah formal.

”Saya rasa justru akan semakin kokoh karena pesantren akan mengalami transformasi, secara diam-diam mengalami perluasan cakupan. Kalau dulu pesantren cuma ilmu agama semata, sekarang bisa menjadi lembaga pendidikan non-agama. Dengan kata lain, dimodernisir, dikombinasi dengan sekolah,” paparnya.

Gus Dur justru memprediksi, pesantren akan menjadi magnet bagi lulusan sarjana dan magister yang akan memperdalam ilmu agama. Karenanya, kedepan pesantren akan dilengkapi dengan sekolah formal hingga tingkat magister.

“Ini akan memunculkan kembali di masa yang akan datang pondok-pondok takhasus (profesional). Untuk mereka yang selesai sekolah sampai tingkat S1 (sarjana) dan S2 (magister)-nya ingin memperdalam agama ya harus ngaji pada kiai lagi sehingga beberapa pondok yang kiainya ampuh-ampuh kelak akan menjadi pusat S2. (Cep/005)