Ini Jawaban Gus Dur Ketika Ditanya Soal Wanita Cantik

0
390
Kutipan: Kutipan wawancara dengan Gus Dur dalam buku Tabayun Gus Dur; Pribumisasi Islam, Hak Minoritas, dan Reformasi Kultural” terbitan LKiS tahun 1998.

Semarang, nujateng.com – Ada sebuah pepatah lama yang mengatakan bahwa “di balik kesuksesan seorang pria, terdapat wanita hebat di belakangnya”. Wanita hebat inilah yang pada akhirnya mampu mendorong pria mencapai sebuah kesuksesan. Beberapa pria hebat di dunia pun terbukti memang memiliki sosok wanita hebat.

Lalu, wanita hebat itu yang seperti apa? Apakah wanita yang seperti istri-istri pejabat saat ini, yang ongkos dandanannya mahal, pakaian mahal, atau yang senang jalan-jalan ke luar negeri mengikuti suaminya? Inilah pendapat mendiang almarhum al maghfurlah KH. Abdurrahman Wahid, dikenal dengan sapaan Gus Dur, tentang wanit.

Menurut Gus Dur, wanita cantik itu tidak ada ukurannya. ”Wah, nggak ada ukuran ya. Wanita cantik itu, ya yang saya anggap cantik, enggak lebih dari itu. Cantik itu terasa tiba-tiba saja. Ah ini cantik, begitu. Saya tak punya ukuran ideal untuk kecantikan,” kata Gus Dur, seperti dikutip buku ”Tabayun Gus Dur; Pribumisasi Islam, Hak Minoritas, dan Reformasi Kultural” terbitan LKiS tahun 1998, halaman 123.

Hemat Gus Dur, wanita itu penuh dengan rahasia. Siapa pun tak bisa menduga apa isi hati serta keinginan yang sesungguhnya dari seorang wanit. Wanita, kata Gus Dur, jauh lebih rumit dibanding dengan seorang pria.

Penuh Rahasia

“Wanita itu buat saya ya rahasia. (istri anda rahasia?) Iya, dong. Siapa bisa menduga perasaan wanita? Tidak akan ada yang bisa. Saya cenderung melihatnya dari sudut psikologi. Mereka mungkin adalah makhluk yang luar biasa rumitnya. Jauh lebih rumit dari pria,” tuturnya.

Mengapa wanita lebih rumit? Menurut Gus Dur, rahasia wanita terletak pada faktor-faktor emosinya yang lebih banyak dan lebih bervariasi. Namun, katanya, justru di situlah letak potensi lebih besar dari wanita untuk membuat capaian-capaian jenisnya daripada pria.

Namun demikian, Gus Dur tetap memandang wanita dan laki-laki setara posisinya dalam ranah publik. ”Selain itu, pada intinya pria dan wanita posisinya sama dalam kehidupan disamping perbedaan biologis,” tegasnya cucu al maghfurlah KH Hasyim Asyari ini.

Gus Dur sebagai tokoh agama mempunyai pandangan lain tentang poligami. Menurutnya, orang-orang yang sepakat dengan poligami karena salah menafsirkan tentang ayat boleh beristri lebih dari satu.

”Begini, ya. Orang sering menafsirkan salah tentang hal itu. Kalau saya menafsirkannya bukan dari masalah istri lebih dari satunya saja. Secara sisio-historis di Arab ketika itu, laki-laki kan boleh punya istri berapa saja. Itu dulu kan begitu. Nah, Islam menguranginya menjadi empat,” terang presiden ke empat Indonesia ini.

Dalam pandangan Gus Dur, soal poligami yang harus dipegang adalah spiritnya. Mengapa Islam menurunkan, boleh beristri menjadi empat? (yang pada mualnya di Arab tidak ada batasnya). Mungkin, katanya, yang managable waktu itu istrinya empat.

”Nah, sekarang pertanyaan saya, apa adil bisa dipertahankan empat itu? Apakah keadilan bisa betul-betul dijalankan, menggilir harinya, sehingga belanja lahir batin itu bisa sama. Jadi, dengan tidak bermaksud menggugat-gugat Islam, saya kalau ditanya apa mau kawin empat, balik bertanya. Tanya istri kami boleh enggak?” paparnya.

Gus Dur bercerita, dalam keluarganya tidak ada yang berpandangan sepakat dengan poligami. Wanita yang mau dipoligami, katanya, ada kemungkinan besar karena ada bujuk rayu bahkan paksaan.

”Artinya, ya kalau istrinya nggak boleh, ya udah. Sebab, saya yakin nggak ada istri yang mau. Kalau ada yang mau, jangan-jangan dipaksa lho ya, pasti ada kelainan. Tetapi sepanjang yang saya paham, tidak ada istri yang mau. Dalam keluarga saya, paman-paman saya nggak ada yang punya pandangan seperti itu,” tandasnya. [Ceprudin/003]