Idul Adha dan Kisah Sedih Nabi Ibrahim

0
385

Oleh: Khoirul Anwar

Dalam literatur sejarah Islam diinformasikan bahwa pada malam 8 Dzulhijjah Nabi Ibrahim bermimpi didatangi seseorang yang membawa pesan dari Tuhan yang berisi perintah untuk menyembelih anaknya. Nabi Ibrahim sangat kaget, ia merenungi mimpi tersebut; apakah mimpi itu benar dari Allah atau bukan. Keraguan ini juga muncul lantaran permintaan Tuhan sangat berat untuk dilakukan.

Bagi orang tua, anak adalah orang yang sangat dicintai daripada yang lainnya. Kecintaan orang tua kepada anak seringkali mengalahkan segalanya. Demi anak orang tua terkadang menghalalkan segala cara.

Banyaknya orang melakukan korupsi salah satu faktornya didorong oleh kecintaan kepada anak dan keturunannya yang hidup hedonis dan konsumeris hingga menuntut orang tua memiliki harta melimpah. Demikian juga yang dialami Nabi Ibrahim. Baginya anak adalah titipan sekaligus ujian. Nabi Ibrahim sangat mencintai anaknya, namun oleh Tuhan orang yang paling dicintai itu diperintah untuk disembelih.

Nabi Ibrahim sangat sedih atas perintah yang sangat mendebarkan hati itu. Bagaimana mungkin seseorang membunuh orang yang paling dicintai. Sungguh ini ujian yang sangat berat. Di kemudian hari kejadian mimpi ini diperingati umat Islam dengan berpuasa sunnah yang dinamakan dengan puasa pada hari tarwiyah (hari merenung) yang pada tahun ini bertepatan dengan hari Rabu 30 Agustus 2017. Dinamakan “hari merenung” karena pada tanggal 8 Dzulhijjah Nabi Ibrahim menghabiskan waktunya hanya untuk merenungi pesan Tuhan.

Malam berikutnya Nabi Ibrahim mengalami mimpi yang sama sebagaimana hari sebelumnya, yakni Tuhan memberikan perintah untuk menyembelih anaknya. Melalui mimpi yang kedua ini Nabi Ibrahim yakin bahwa mimpinya benar-benar dari Allah dan harus dijalankan. Oleh karena itu tanggal 9 Dzulhijjah yang pada tahun ini jatuh pada hari Kamis 31 Agustus 2017 diberi nama yaumu ‘arafah (hari pengetahuan), yakni hari Nabi Ibrahim mengetahui pesan yang berisi perintah menyembelih anak.

Sungguh sangat besar ujian Tuhan kepada Nabi Ibrahim, hingga pada akhirnya bertepatan pada tanggal 10 Dzulhijjah Nabi Ibrahim membawa anaknya untuk disembelih demi memenuhi permintaan Tuhan. Namun, ketika Nabi Ibrahim hendak menghunuskan pedangnya tiba-tiba Tuhan mengganti perintahnya dengan perintah menyembelih kambing.

Kisah yang penuh kesedihan itu di kemudian hari diperingati umat Islam dengan nama “‘Idul Adha” yang secara tekstual bermakna “hari penyembelihan binatang” untuk kemudian dagingnya dibagikan kepada setiap orang yang membutuhkan.

Pesan Kemanusiaan

Kisah Nabi Ibrahim bukan semata-mata lintasan sejarah yang hampa makna. Semua kisah yang terdapat di dalam al-Quran memiliki tujuan supaya manusia dapat mengambil hikmah di balik cerita-cerita itu. Setidaknya ada dua pelajaran yang bisa diambil dari kisah di atas yang relevan dengan persoalan kemanusiaan sekarang.

Pertama; kecintaan manusia terhadap sesuatu tidak boleh melampaui batas. Ujian untuk menyembelih anak yang dialami Nabi Ibrahim adalah simbol kerelaan manusia untuk menahan nafsu dan kerelaan melepas segala sesuatu yang sangat disukai. Kecintaan manusia terhadap harta benda jika tidak diimbangi dengan kesadaran agama maka akan melampaui batas yang berujung pada korupsi, dan perilaku serakah.

Kedua; agama sangat menjunjung tinggi hak dan martabat manusia. Tuhan mengganti sembelihan yang awalnya manusia dengan binatang memiliki pesan bahwa segala tindak kekerasan terhadap manusia sangat dilarang keras oleh agama.

Pesan demikian juga ditegaskan Nabi Muhammad dalam pidato terakhirnya saat menunaikan ibadah haji. Beliau berpesan, umat Islam harus menjunjung tinggi tiga hak yang dimiliki manusia, yaitu hak hidup yang jauh dari pertumpahan darah dan kekerasan (dima’), hak properti dan harta benda (amwal), serta hak kehormatan dan profesi (a’radl). Ketiga hak ini menjadi pondasi utama bagi manusia dalam mempertahankan eksistensinya sebagai makhluk yang diamanati Tuhan untuk menjaga dan mengelola bumi (khalifah fil ardl).